Salin Artikel

Ilusi Kampanye Membeludak Pilpres 2024: Besar di Lapangan, Ciut di Survei

Kerumunannya lebih bersemangat, tetapi kok capres-cawapresnya masih kalah di survei?

Seperti pernyataan capres Anies Baswedan yang lebih percaya data parsial kerumunan yang ditemuinya dalam kampanye, ketimbang data nasional yang dipotret oleh lembaga survei.

“Kita tahu tantangannya besar, kalau di angka (elektabilitas) dikatakan rendah biarkanlah itu diatas kertas saja,” kata Anies saat menghadiri jalan sehat di kawasan Grand Depok City, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (28/10) lalu.

Capres-cawapres dan barisan pendukung yang terhipnotis karena kerumunan massa hingga merasa telah menjadi juara dan mengandaikan ada konspirasi bahwa survei-survei yang ada berkontribusi melemahkan mereka.

Sebelum jauh loncat kesimpulan kesitu, saya izin mengajak untuk berpikir lebih dalam dan menyeluruh.

Dalam hukum besi pemenangan elektoral, jika simulasi dua pasang (head to head) untuk menang minimal angka kemenangan aman (win number) yang harus dikejar adalah 55 persen suara.

Sedangkan tiga pasang untuk melanggeng ke putaran kedua minimal mengantongi 40 persen suara aman.

Presentasi itu sebelumnya dikurangi proyeksi suara tidak sah. Maka dengan pemilih nasional sebanyak 204 juta pemilih, artinya kandidat capres-cawapres butuh 81 juta pemilih untuk lolos putaran kedua, atau 112 juta pemilih untuk menang satu putaran saja.

Nah! sekarang dengan matematika sederhana, coba kita kalkulasi, apakah kerumunan telah melampaui angka kemenangan (win number).

Jika kita simulasikan total 5 bulan kampanye digelar, sebulan sebelum masa kampanye dan empat bulan masa kampanye, dipotong rapat konsolidasi partai, debat kandidat, masa tenang, dan tentu acara personal dan keluarga.

Setiap bulan kita hitung sangat optimal sekitar 20 hari dimanfaatkan kandidat capres-cawapres untuk kampanye, maka dalam 5 bulan terdapat 100 hari kampanye.

Katakanlah setiap hari kampanye dilakukan, kita hitung secara optimal (jika tidak dikatakan berlebihan) dihadiri rata-rata 100.000 kerumunan massa, maka dalam 100 hari kampanye, kerumunan massa yang terlibat baru mencapai 10 juta orang, atau setara dengan 4,9 persen suara nasional.

Angka itu tentu masih jauh dari win number yang harus dicapai. Bahkan jika kita simulasikan kampanye telah dimulai sejak dua tahun, maka baru di angka 20 persen. Apalagi kerumunan yang hadir memiliki beragam motif yang belum tentu sepenuhnya memilih.

Kampanye di ruang gema dan psikologi timses

Selain soal jumlah, ada faktor motif dan faktor segmen massa yang hadir dalam kampanye, yang membuat kerumunan bukanlah prediktor tepat dalam mengukur keterpilihan (elektabilitas).

Dari faktor segmen, massa yang berkumpul cenderung seragam, atau berkarakter sama, yaitu mereka yang telah mendukung capres-cawapres atau barisan simpatisan partai pengusung.

Massa yang datang tidak secara acak (random), ia cenderung homogen, maka dia tidak dapat menggambarkan populasi.

Kerumunan ibarat berada di Ruang Gema (Echo Chamber). Mereka yang datang tanpa dimobilisasi adalah mereka yang telah menjadi pendukung simpatisan capres-cawapres.

Seperti puluhan ribu massa yang mendengar pidato capres Ganjar Pranowo di GBK, Jakarta, yang notabene adalah kader PDIP perjuangan.

Artinya massa yang datang tidak menambah ceruk pemilih baru, karena sejak awal mereka pendukung. Kerumunan lebih sebagai euforia ajang unjuk gigi dan ritus penebalan iman politik para pendukung.

Faktor hiburan yang disediakan penyelenggara juga jadi alasan. Bahkan ada terpicut karena ikut-ikutan atau sekadar penasaran hingga tidak enak menolak ajakan kawan.

Artinya selain daya tarik capres-cawapres, yang tak kalah dominan adalah kontribusi organizers.

Dalam menghimpun massa tidak selalu bersyarat, cukup mereka mau ikut berkerumun, sehingga kerumunan tidak totalitas cerminan elektabilitas.

Mereka di balik layar yang mengumpulkan kerumunan adalah yang paling perlu diapresiasi.

Dalam matematika politik, ketimbang berkerumun dalam ruang gema yang diisi barisan pendukung semata, lebih punya daya dobrak ketika capres-cawapres masuk ke ceruk pemilih baru dengan masuk di kantong-kantong pemilih lawan.

Siapkan dua tiga gimmick menarik, sentimen yang merangkul dan tawaran program memikat.

Meski upaya itu belum tentu melahirkan kerumunan, namun apalah arti kerumunan di sisa-sisa masa kampanye yang pendek.

Maka jangan risaukan massa yang datang meski kecil, yang terpenting isunya bisa menggelegar.

Mulailah masuk menyasar pemilih baru karena lebih banyak substansi positif secara narasi yang dimakan pemilih.

Atau ajang bersolek dengan mengubah persepsi negatif atas capres-cawapres yang dihembuskan selama ini, lebih baik ketimbang euforia di tengah massa.

Apalagi termakan psikologi timses berkacamata kuda yang selalu berkata, “Menang kita, kita unggul, kita menang telak, menunggu dilantik saja ini.”

Namun kandidat yang berani mendobrak benteng pertahanan lawan dan merebut simpati pemilih lawan hingga berbalik mendukungnya, hanya bisa dilakukan oleh petarung sejati.

Kata-kata Ellen Johnson Sirleaf, Presiden Liberia ke 24 mungkin dapat menjadi pecut: “Jika mimpimu tidak bisa membuatmu takut, mungkin karena impianmu tidak cukup besar.”

https://nasional.kompas.com/read/2023/11/07/05451271/ilusi-kampanye-membeludak-pilpres-2024-besar-di-lapangan-ciut-di-survei

Terkini Lainnya

Sudah 6 Pj Kepala Daerah Mundur karena Hendak Maju Pilkada 2024

Sudah 6 Pj Kepala Daerah Mundur karena Hendak Maju Pilkada 2024

Nasional
Didakwa Korupsi Rp 44,5 Miliar, SYL Pamer Kementan Kontribusi Rp 15 Triliun ke Negara

Didakwa Korupsi Rp 44,5 Miliar, SYL Pamer Kementan Kontribusi Rp 15 Triliun ke Negara

Nasional
Menperin Bakal Pelajari Isu Sritex Bangkrut

Menperin Bakal Pelajari Isu Sritex Bangkrut

Nasional
Usung Sohibul Iman Jadi Bakal Cagub, PKS Tegaskan Partai Pemenang Pileg di Jakarta

Usung Sohibul Iman Jadi Bakal Cagub, PKS Tegaskan Partai Pemenang Pileg di Jakarta

Nasional
KPAI Desak Polisi Transparan Dalam Kasus Kematian Pelajar 13 Tahun di Padang

KPAI Desak Polisi Transparan Dalam Kasus Kematian Pelajar 13 Tahun di Padang

Nasional
Rotasi Pj Gubernur, Mendagri Bantah Presiden Cawe-cawe Pilkada 2024

Rotasi Pj Gubernur, Mendagri Bantah Presiden Cawe-cawe Pilkada 2024

Nasional
PDN Diserang 'Ransomware', Komisi I Ingatkan Pentingnya Peningkatan Keamanan Siber

PDN Diserang "Ransomware", Komisi I Ingatkan Pentingnya Peningkatan Keamanan Siber

Nasional
PKS Jagokan Sohibul Iman di Jakarta, Airlangga Ingatkan Pilkada Butuh Koalisi

PKS Jagokan Sohibul Iman di Jakarta, Airlangga Ingatkan Pilkada Butuh Koalisi

Nasional
Staf Airlangga Jadi Pj Gubernur Sumsel, Mendagri: Kami Ingin Beri Pengalaman

Staf Airlangga Jadi Pj Gubernur Sumsel, Mendagri: Kami Ingin Beri Pengalaman

Nasional
Tanggapi Putusan MA, Mendagri: Pelantikan Kepala Daerah Tidak Perlu Serentak

Tanggapi Putusan MA, Mendagri: Pelantikan Kepala Daerah Tidak Perlu Serentak

Nasional
Badan Pengkajian MPR Sebut Wacana Amendemen UUD 1945 Terbuka untuk Didiskusikan

Badan Pengkajian MPR Sebut Wacana Amendemen UUD 1945 Terbuka untuk Didiskusikan

Nasional
Sahroni Didorong Maju Pilkada Jakarta, Paloh: Dia Punya Kapabilitas, tetapi Elektabilitasnya...

Sahroni Didorong Maju Pilkada Jakarta, Paloh: Dia Punya Kapabilitas, tetapi Elektabilitasnya...

Nasional
Istana Tetapkan Tema dan Logo HUT ke-79 RI: 'Nusantara Baru, Indonesia Maju'

Istana Tetapkan Tema dan Logo HUT ke-79 RI: "Nusantara Baru, Indonesia Maju"

Nasional
KPI Tegaskan Belum Pernah Terima Draf Resmi RUU Penyiaran

KPI Tegaskan Belum Pernah Terima Draf Resmi RUU Penyiaran

Nasional
Dinyatakan Langgar Etik, Bamsoet: Saya Tak Mau Berpolemik

Dinyatakan Langgar Etik, Bamsoet: Saya Tak Mau Berpolemik

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke