Salin Artikel

Idul Fitri dan Harmoni untuk Negeri

Kiai Dahlan yang terdiam, tak ada kalimat yang meluncur dari mulutnya. Ia tak menjawab pertanyaan itu. Sejenak kemudian, ia malah memainkan biola yang ada di sampingnya. Keluarlah nada-nada indah dari biola tersebut. Para remaja itu tampak sangat menikmati permainan biola sang Kiai. Penuh syahdu dan menentramkan jiwa. Semua menikmati keindahan alunan biola.

“Apa yang kalian rasakan setelah mendengarkan suara biola tadi?” tanya sang Kiai sejenak setelah menghentikan permainan biola.

“Keindahan,” jawab remaja pertama dengan semringah.

“Kayak mimpi,” timpal remaja kedua.

Salah seorang yang lain masih mengangguk-ngangguk dengan mata tertutup, tertidur dengan keindahan nada yang tadi diperdengarkan Kiai.

“Itulah agama,” kata Kiai.

“Orang beragama adalah orang yang merasakan keindahan, tenteram, damai, cerah. Karena hakikat agama itu seperti musik, mengayomi, menyelimuti,” sambung sang Kiai.

“Sekarang, coba kamu mainkan,” kata Kiai sambil menyodorkan biola ke salah seorang santrinya.

“Ayo sebisanya!”

Si santri mulai memainkan biola. Namun karena baru pertama kalinya, ia memainkan dengan seadanya.

“Teruskan. Ayo yang mantap.”

Suara yang keluar mengusik orang-orang di sekitarnya. Sampai akhirnya dia pun menyerah.

“Apa yang kalian rasakan,” Kiai kembali bertanya.

“Kacau, Kiai.” Satu di antaranya menjawab.

Sambil tersenyum, Kiai merasa saatnya ia mengambil kesimpulan. Para santrinya dianggap telah bisa memahami pesan di balik peristiwa yang barusan terjadi.

“Itulah agama. Kalau kita tidak mempelajarinya dengan benar, itu akan membuat resah lingkungan kita dan jadi bahan tertawaan,” ujar sang Kiai.

Saum Ramadhan, mengajarkan kita bahwa kebersamaan (berjamaah) adalah penuh berkah dan menjadikan sesuatu yang berat menjadi ringan. Islam senantiasa mengajarkan umatnya untuk mencintai sesama dan hidup rukun dan damai.

Idul Fitri merupakan perayaan keagamaan bagi muslim yang sukses menyelesaikan ibadah saum Ramadan menjadi orang yang bertaqwa.

Perayaan Idul Fitri sangat dirindukan umat Islam di seluruh penjuru dunia karena sarat akan makna serta nuansa spiritual dan sosial. Setidaknya terdapat tiga makna esensi lebaran Idul Fitri, yaitu kemenangan, kebahagiaan, dan harmoni yang sangat penting dimiliki, dihayati dan diimplementasikan dalam rangka meraih derajat ketakwaan untuk merajut silaturahmi keumatan dan kebangsaan.

Ini menjadi fondasi bangsa yang perlu diamalkan segenap bangsa untuk menghadapi ancaman disintegrasi yang semakin menguat.

Tempaan tarbiah saum Ramadhan memberi kita pendidikan untuk meresapi dan mampu menghayati luapan cinta (mahabah) dari Allah kepada umatnya. Ibadah (ritual) untuk menemukan hakekat dari cara kita berbalas cinta Tuhan dan meresonansi cinta itu tidak saja kepada manusia, tapi juga kepada semesta alam.

Sejatinya tarbiah saum Ramadhan mengajarkan kita menjadi pribadi yang santun, welas asih, peduli, berempati, simpati, dan penuh ketulusan yang terlahir dari luapan cinta.

Sangat prihatin mengamati silaturahmi pergaulan warga bangsa di media sosial maupun dalam dunia nyata saat ini, yang masih sarat dengan perilaku yang tidak mencerminkan moralitas dan spiritualitas.

Saat Ramadhan, masih saja ada pihak yang dengan gampang tak ada beban menuduh, menghujat, mencela, menghina, membunuh karakter orang lain, bahkan menyebar informasi yang berpotensi fitnah. Bahkan ada sekelompok orang yang mengatasnamakan “agama” saat melakukan kekerasan verbal maupun fisik.

Asabiah dalam konteks politik karena pilihan saat pemilu presiden (pilpres) dan afiliasi partai politik sepertinya masih dipelihara untuk menebar kekerasan verbal bahkan kekerasan fisik, mendiskriditkan pihak lain, dan memelihara prasangka buruk. Menghadirkan karakter merasa diri paling benar, dan orang lain yang bukan kelompoknya selalu dianggap salah dan senantiasa menebar kebencian karena solidaritas kelompok yang kuat.

Sepertinya polarisasi “kadrun” dan “cebong” hinggga saat ini belum berakhir oleh sekelompok orang yang belum mampu move on meski pilpres dan pemilu sudah lama usai.

Idul Fitri sejatinya adalah spirit kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu dan memerdekakan diri dari syahwat perut dan di bawah perut, nafsu serakah, godaan setan, dan sebagainya.

Ramadhan sebagai proses transformasi

Menurut Imam Al-Ghazali, pendidikan Ramadhan menjadi proses transformasi muslim dari manusia yang berwatak sebagai budak nafsu (abdulhawa) menjadi hamba Allah (abdullah) yang bertakwa: beriman, berilmu, dan beramal saleh.

Kemenangan atas hawa nafsu merupakan modal utama menjadi manusia yang berlebaran dalam arti memperoleh ampunan dari Allah atas segala kesalahan dan dosa-dosa masa lalu. Kemenangan spritual atas hawa nafsu dan godaan setan meneguhkan spirit kemanusiaan baru untuk berkomitmen menjadi hamba Tuhan yang lebih bertakwa dan berakhlak mulia.

Psikologi Lebaran meniscayakan peleburan aneka karakter kebinatangan untuk ditransformasi menjadi karakter dan nilai ketuhanan dengan meneladani sifat-sifat Allah yang Maha Rahim penuh kasih sayang.

Sejatinya saum Ramadhan akan mengokohkan energi persaudaraan dan persatuan. Jika persatuan nasional sudah terjadi maka bangsa Indonesia akan siap menghadapi segala bentuk tantangan dan menyongsong kejayaannya.

Idul Fitri momentum bagi kita semua untuk kembali menyambung tali persaudaraan yang sempat terkoyak karena berbagai faktor. Tidak ada alasan untuk tidak saling memaafkan sesama anak bangsa saat bersilaturahmi.

Dalam konteks terkini budaya silaturahmi dan saling memaafkan satu sama lain demikian relevan untuk diterapkan dan diamalkan. Perwujudan nyata ajaran Islam rahmatan lil alamin adalah silaturahmi untuk memperkuat trilogi ukhuwah, yaitu ukhuwah Islamiyyah, ukhuwah wathaniyyah dan ukhuwah basyariyah. Saum Ramadhan sejatinya dapat membakar semua sikap egoistis.

Tanggalkan semua rasa iri dan dengki apalagi permusuhan. Mari menggenggam tangan bersama-sama merajut tali persaudaraan dan hadirkan harmoni bagi negri.

Terminologi halal bi halal yang identik dengan silaturahmi saat Idul Fitri, secara historis lahir dari hasil diskusi Presiden Soekarno dengan Kiai Wahab Chasbullah saat dimintai pendapat perihal situasi nasional yang tengah bergejolak. Kiai Wahab kemudian mengusulkan kegiatan halal bi halal dan usulan tersebut disetujui Bung Karno.

Maka lahirlah acara kenegaraan pertama kali tahun 1948 di Istana Negara. Menghadirkan segenap elite-elite politik saat itu yang tengah bertikai diundang ke istana untuk duduk bersama, saling memaafkan satu sama lain untuk mengokohkan persaudaraan dan merajut harmoni negri.

Antropolog Amerika, Clifford Geertz, dalam bukunya The Relegious Of Java, menulis Lebaran Idul Fitri merupakan wadah yang mampu mengakomodasikan perbedaan dan sebagai arena solidaritas, di mana anggota-anggota masyarakat yang tadinya terpisah secara vertikal maupun horisontal akibat perbedaan ideologi dan orientasi primordial mencair sehingga ia menempatkan Lebaran sebagai momen integrasi masyarakat.

Manusia secara fitrah tidak bisa luput dari kekhilafan dan kesalahan. Momentum Idul Fitri adalah momentum yang tepat untuk saling meminta dan memberi maaf. Mari enyahkan semua sikap egoistis. Tanggalkan semua rasa iri dan dengki apalagi permusuhan yang ada pada diri sesama anak bangsa.

Mari menggenggam tangan bersama-sama merajut tali persaudaraan dan persatuan untuk merawat dan mengokohkan harmoni bagi negri. Semoga!

https://nasional.kompas.com/read/2022/04/30/12195721/idul-fitri-dan-harmoni-untuk-negeri

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke