Salin Artikel

Kritik Luhut Soal Penanganan Pandemi, Anggota DPR: Pernyataan Beda-beda Bikin Sesat Rakyat

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin mengingatkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan agar tak membuat pernyataan yang berubah-ubah terkait situasi penanganan pandemi Covid-19.

Menurut dia, pernyataan yang berubah-ubah terkait situasi penanganan pandemi justru akan membuat masyarakat bingung.

"Bisa saja akibat statement itu, ada masyarakat yang tetap khawatir dan waspada. Namun, akibat pernyataannya bahwa Covid-19 terkendali, bisa jadi mereka malah menjadi kurang waspada," kata Didi dalam keterangannya, Jumat (16/7/2021).

Adapun hal tersebut disampaikannya untuk merespons pernyataan Luhut yang sebelumnya menyebut pandemi di Indonesia saat ini bisa dikendalikan pemerintah.

Luhut juga menampik berbagai anggapan yang menyebutkan kondisi pandemi di Tanah Air tidak terkendali.

Namun, tak berselang lama, Luhut merevisi pernyataan itu dengan menyebut bahwa salah satu varian virus corona di Indonesia yaitu varian Delta justru sulit dikendalikan.

"Pernyataan Menko Luhut Pandjaitan yang tidak firm terkait Covid-19 dengan statement berbeda-beda bisa buat sesat rakyat," tutur Didi.

"Terlepas itu varian sebelumnya atau varian Delta, yang pasti berdasarkan fakta yang ada, kasus Covid-19 yang terdeteksi meroket hingga hampir 57.000. Bukankah itu menunjukkan keadaan sudah buruk?," sambung dia.

Didi bahkan mengkhawatirkan, kasus Covid-19 di Indonesia justru lebih parah lagi jika tes swab dilakukan lebih meluas di masyarakat.

Bukan tanpa alasan, ia menggunakan data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 pada Kamis (15/7/2021) yang mengungkapkan bahwa kasus baru Covid-19 di Indonesia terdeteksi 56.757 kasus dengan rata-rata penambahan kasus baru dalam satu minggu terakhir 41.521.

"Sedangkan kasus kematian berjumlah 982 kasus dengan 900 kematian rata-rata dalam 7 hari terakhir," terangnya.

Didi pun mengajak untuk membandingkan kasus baru Indonesia dengan kasus baru di Amerika Serikat berjumlah 20.450 dan jumlah kematian 211 orang.

Lalu, India juga dikatakannya, memiliki kasus baru mencapai 38.792 dengan kematian 624 orang.

"Brasil sebagai negara di Amerika Latin dengan kasus baru tertinggi mencapai 17.031 kasus, jumlah penduduknya yang mati karena Covid-19 mencapai 745. Hampir sama dengan Rusia dengan kasus kematian sejumlah 786 dan kasus baru 23.827," jelasnya.

Menurutnya, berkaca hal tersebut, semua pihak bisa melihat sendiri seperti apa kondisi nyata di Indonesia saat ini.

Kemudian, melihat kondisi di lapangan, Didi mengungkapkan bahwa masyarakat tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dalam situasi darurat.

"Akibatnya, kematian banyak terjadi pada saat isolasi mandiri," imbuh dia.

Tak sampai di situ, Didi melanjutkan bahwa kematian di rumah sakit juga meningkat akibat pasien datang ke rumah sakit dengan kondisi kritis dan butuh penanganan segera.

Namun, penanganan itu tidak bisa dilakukan secara maksimal karena jumlah ruang ICU tidak mencukupi, kekurangan pasokan oksigen, dan tenaga kesehatan yang terbatas.

"Fakta lainnya, masyarakat kesulitan membeli obat-obatan khusus Covid-19 dan kalaupun ada, jumlahnya terbatas dan harganya sangat mahal. Belum lagi tabung oksigen yang langka sehingga harga jadi meroket sangat tinggi," terang Didi.

Atas hal tersebut, Didi sangat menyayangkan pemerintah tidak mampu mengendalikan situasi lapangan dengan baik.

Dari fakta-fakta yang ada, lanjut dia, menunjukkan bahwa kondisi Covid-19 di Indonesia memang tidak terkendali.

Oleh karena itu, Didi meminta pemerintah jujur dalam membuat pernyataan di masyarakat terkait kondisi pandemi.

"Pemerintah harus jujur, jangan memberi kesan kepada rakyat seolah-olah Indonesia baik-baik saja. Jika pemerintah tidak transparan, maka akan bisa fatal, sehingga rakyat menganggap ini hal biasa bukan hal gawat. Akibatnya penyebaran dan kematian terus makin meningkat," tegasnya.

Didi menambahkan, pemerintah dalam mengambil langkah harus jelas, terukur dan berdampak.

Pemerintah juga dimintanya untuk menghentikan mempermainkan psikologis rakyat dengan membuat framing melalui pernyataan yang menyebut bahwa kasus Covid-19 bisa dikendalikan.

"Padahal, kita bisa lihat sudah ada negara-negara yang mulai menarik warga negaranya dari Indonesia. Khawatir, keselamatan jiwanya. Apakah fakta-fakta ini tidak cukup untuk mengatakan keadaan sudah genting?," tanya Didi.

Oleh karena itu, Didi menilai alangkah lebih baik apabila pemerintah meningkatkan langkah-langkah penanganan secara strategis dan bukan sekadar seremonial.

Menurutnya, pemerintah bisa melakukan penanganan secara strategis itu mulai dari penyiapan fasilitas kesehatan, optimalisasi tenaga kesehatan serta percepatan vaksinasi.

Sebelumnya, Luhut membuat pernyataan yang berbeda-beda terkait situasi penanganan pandemi saat ini.

Pertama, Luhut menampik anggapan bahwa pandemi Covid-19 di Indonesia tak terkendali.

Ia mengklaim, berdasarkan data yang dimilikinya, Covid-19 di Indonesia sangat terkendali.

"Jadi kalau ada yang berbicara bahwa tidak terkendali keadaannya, sangat-sangat terkendali. Jadi yang bicara tidak terkendali itu bisa datang ke saya. Nanti saya tunjukkan ke mukanya bahwa kita terkendali," ujar Luhut dalam konferensi pers daring, Senin (12/7/2021).

Tiga hari berselang, Luhut justru membuat pernyataan berbeda dengan menyebut bahwa pandemi tak bisa dikendalikan.

Hal itu tercermin dari pernyataannya bahwa virus corona varian Delta sulit dikendalikan.

Luhut mengatakan hal itu dalam konferensi pers secara virtual melalui YouTube resmi Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI, Kamis (15/7/2021).

"Saya mohon agar kita semua paham, varian Delta ini varian yang tidak mudah dikendalikan," ujar Luhut.

https://nasional.kompas.com/read/2021/07/16/18320441/kritik-luhut-soal-penanganan-pandemi-anggota-dpr-pernyataan-beda-beda-bikin

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Safari Politik ke Cirebon, Ganjar Bakal Sowan ke Ulama dan Ponpes Dilanjutkan Bertemu 'Tiktokers'

Safari Politik ke Cirebon, Ganjar Bakal Sowan ke Ulama dan Ponpes Dilanjutkan Bertemu "Tiktokers"

Nasional
Lari Pagi di Cirebon, Ganjar Pranowo Sapa dan Tos dengan Warga

Lari Pagi di Cirebon, Ganjar Pranowo Sapa dan Tos dengan Warga

Nasional
Megawati: Banyak Amat Ya, yang Mau Jadi Cawapres

Megawati: Banyak Amat Ya, yang Mau Jadi Cawapres

Nasional
PAN Belum Sreg Usung Ganjar, Megawati Utus Puan Ke Kantor DPP PAN

PAN Belum Sreg Usung Ganjar, Megawati Utus Puan Ke Kantor DPP PAN

Nasional
Nasdem Mau Ajukan Praperadilan atas Penetapan Tersangka Johnny Plate, Kejagung Ingatkan Ini

Nasdem Mau Ajukan Praperadilan atas Penetapan Tersangka Johnny Plate, Kejagung Ingatkan Ini

Nasional
Belum 'Sreg' Dukung Ganjar, PAN Bakal Bertemu Prabowo

Belum "Sreg" Dukung Ganjar, PAN Bakal Bertemu Prabowo

Nasional
Blak-blakan PAN di Depan Megawati Mengaku Belum 'Sreg' Dukung Ganjar

Blak-blakan PAN di Depan Megawati Mengaku Belum "Sreg" Dukung Ganjar

Nasional
[POPULER NASIONAL] Kapolda Sulteng 'Disentil' Kurang Piknik | Cawapres Anies Mengerecut Satu Nama

[POPULER NASIONAL] Kapolda Sulteng "Disentil" Kurang Piknik | Cawapres Anies Mengerecut Satu Nama

Nasional
Bergabung PAN, Priyo Budi Santoso: Enggak Mudah Saya Putuskan

Bergabung PAN, Priyo Budi Santoso: Enggak Mudah Saya Putuskan

Nasional
Keluarga Minta Kasus Bripka AS Bunuh Diri Ditangani Bareskrim, Polri: Tidak Semua Ditarik ke Mabes

Keluarga Minta Kasus Bripka AS Bunuh Diri Ditangani Bareskrim, Polri: Tidak Semua Ditarik ke Mabes

Nasional
Tanggal 5 Juni Memperingati Hari Apa?

Tanggal 5 Juni Memperingati Hari Apa?

Nasional
Bicara Sosok Cawapres, Ganjar: Banyak Nama Hebat, Kita Tinggal Duduk Sambil Ngopi

Bicara Sosok Cawapres, Ganjar: Banyak Nama Hebat, Kita Tinggal Duduk Sambil Ngopi

Nasional
Pakar Sebut Persetubuhan ABG di Sulteng Pemerkosaan, Singgung Pola Relasi

Pakar Sebut Persetubuhan ABG di Sulteng Pemerkosaan, Singgung Pola Relasi

Nasional
Ahli Sebut Para Pelaku Pemerkosaan ABG di Sulteng Bisa Dihukum Mati

Ahli Sebut Para Pelaku Pemerkosaan ABG di Sulteng Bisa Dihukum Mati

Nasional
Peran Tersangka Pabrik Narkoba Tangerang dan Semarang, dari 'Koki' sampai Pencetak Ekstasi

Peran Tersangka Pabrik Narkoba Tangerang dan Semarang, dari "Koki" sampai Pencetak Ekstasi

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke