Salin Artikel

Kesederhanaan Jenderal Hoegeng: Jadi Pelayanan Resto hingga Tinggal di Rumah Sempit

Kata Gus Dur, hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia yaitu patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng.

Sebelum menjabat sebagai Kepala Kepolisian kelima RI selama tahun 1968-1971, Hoegeng ternyata memiliki cerita panjang mengenai perjalanan hidupnya.

Dari polisi pangkat rendahan yang tak bergaji hingga menjadi orang nomor satu Polri.

Pelayan resto tak digaji

Seperti yang diceritakan dalam buku "Hoegeng: Polisi Idaman dan Kenyataan" karya Abrar Yusra dan Ramadhan KH, pada 31 Oktober 1946 Hoegeng menikah dengan Merry Roeslani.

Pertemuan keduanya berawal dari sebuah drama radio berjudul "Saija dan Adinda" yang diangkat dari buku "Max Havelar" karya Douwes Dekker.

Kisah asmara di tengah konflik yang ada dalam cerita itu akhirnya benar-benar menjadi kisah nyata bagi Hoegeng dan Merry.

Namun, berbeda dengan akhir tragis yang ada dalam buku "Max Havelar", Hoegeng dan Merry memilih menikah.

Hoegeng saat itu masih berstatus mahasiswa di Akademi Kepolisian di Yogyakarta. Namun, agresi Belanda menyebabkan akademi itu tidak jelas nasibnya.

Pada suatu hari, Hoegeng mendapat tugas dari Kapolri Soekanto Tjokrodiatmodjo untuk menyusun jaringan sel subversi, menghimpun informasi, hingga membujuk pasukan NICA untuk membela Indonesia.

Saat itu Hoegeng tak digaji. Namun, ia tetap menjalankan tugas dengan rasa nasionalisme yang tinggi.

Hoegeng juga pernah bekerja menjadi pelayan restoran yang biasa didatangi orang Indonesia dan orang Belanda bernama "Pinokio".

Di restoran itu lagi-lagi tak ada gaji untuknya. Sebagai ganti, pemilik resto memberikan makanan gratis tiap hari untuk pegawainya, termasuk Hoegeng.

Di tempat yang sama, Merry, istri Hoegeng, berjualan sate untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak ada seorang pun yang tahu Hoegeng dan Merry adalah pasangan suami istri saat itu.

Rumah sempit dan garasi

Pada tahun 1952, Hoegeng mendapat tugas ke Surabaya untuk menjadi Wakil Kepala Direktorat Dinas Pengawasan Keamanan Negara (DPKN).

Di sana, Hoegeng mendapat informasi dari bawahannya bahwa hanya ada satu rumah dinas yang tersisa. Rumah itu hanya memiliki dua kamar, 1 kamar mandi dan dapur.

Tapi, Hoegeng tak menyoal hal itu.

"Keadaannya bagaimana?" tanya Hoegeng.

"Kamarnya ada dua, Pak! Ada kamar mandi, dapur!"

"Kalau begitu, ya saya pindah ke sana saja!"

"Tapi Pak, kurang pantas bagi Bapak. Rumah itu hanya untuk yang berpangkat inspektur polisi!"

"Ya sudah peduli amat. Saya kan belum punya rumah," ujar Hoegeng dengan nada gembira seperti yang dituliskan dalam buku "Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan".

Hoegeng lantas melapor kepada atasannya soal rumah dinas baru itu. Sang atasan mencibir pilihan Hoegeng dengan mengatakan rumah itu tak cocok untuk seorang perwira.

Namun, Hoegeng tidak peduli. Hoegeng malah tidak sabar untuk memberitahu sang istri soal rumah dinas tersebut saat istri dan anak-anaknya tiba di Surabaya dari Jakarta.

Merry, istri Hoegeng, semula antusias dengan rumah baru yang diceritakan suaminya. Namun, begitu sampai di Jalan Tidar 105, Hoegeng melihat istrinya tertegun.

"Saya kira rumahnya tak sekecil ini mas," kata Merry.

Hoegeng pun tertawa sambil berucap, "tapi di Jakarta tak ada rumah dinas buat kita."

Sejak saat itu, istri Hoegeng tak pernah lagi bertanya tentang rumah mungil itu.

Merry semakin terbiasa dengan kondisi serba sulit, apalagi dengan kemauan Hoegeng yang tak pernah berpikir bisa hidup mewah.

Saat di Jakarta, Merry dan Hoegeng bahkan pernah tinggal di garasi mobil seorang kerabat.

Jenderal yang keras dan lurus

Hoegeng terkenal akan sifat keras dan lurusnya. Namun, tak jarang ia mendapat godaan dan tekanan dari rekan sesama polisi akibat keteguhannya menegakkan hukum.

Suatu ketika, Hoegeng pernah mendapat fitnah pemberian barang mewah.

Saat itu Hoegeng tengah bertugas sebagai Kepala Reskrim Sumatera Utara untuk memberantas kelompok judi hingga smokel (penyelundupan).

Hoegeng mendapat kabar bahwa pedagang India memfitnah istrinya telah menerima cincin berlian dari mereka.

Gusar bukan main, Hoegeng memboyong Merry ke kantor untuk dikonfrontasi dengan pedagang India yang terlibat kasus penyelundupan bahan pakaian.

"Kenal orang ini?" tanya Hoegeng kepada Merry. Merry menatap orang India itu lalu menggelengkan kepala.

Lalu kepada pedagang India itu Hoegeng pun bertanya, "kamu kenal orang ini?"

"Tidak pak," aku si pedagang.

Hoegeng yang tak lagi kuasa menahan amarahnya pun berteriak bahwa wanita yang ada di hadapan orang India itu adalah istrinya.

"Lalu, bagaimana bisa istri saya ini kau hadiahi cincin berlian?" tukas Hoegeng.

Orang India itu terlihat gelagapan, takut, dan malu. Hoegeng sampai memaki dan melemparkan asbak karena tidak terima mendapat fitnah keji itu.

Tak sampai di situ saja, keluarga Hoegeng sempat pula dihadiahi barang-barang mewah, mulai dari mesin cuci, pakaian bermerk, hingga alat elektronik yang dikirim ke rumah.

Mengetahui adanya pemberian hadiah, istri Hoegeng tak mau begitu saja menerima. Ia langsung melapor ke suami mengenai hadiah tersebut.

Sadar hadiah tersebut adalah bentuk suap, Hoegeng dan istri memutuskan untuk mengembalikan seluruh barang-barang itu.

Keteguhan Hoegeng dalam menjaga harga diri ternyata bentuk keteladanannya terhadap sosok Bung Hatta.

Hoegeng tahu betul bahwa setelah mundur dari Wakil Presiden RI, Bung Hatta hanya memiliki uang tabungan Rp 200.

"Orang hidup lurus, apakah musti kurus di zaman ini?" demikian salah satu kutipan yang ada dalam buku "Hoegeng Polisi Idaman dan Kenyataan".

Namun demikian, atas sikap keras dan lurusnya, Hoegeng harus menerima kenyataan bahwa dirinya "dipensiunkan" di usia muda.

Di umurnya yang baru menginjak 49 tahun, Hoegeng "dipensiunkan" Presiden Soeharto karena bersikeras mengusut dugaan keterlibatan anak pejabat dalam pemerkosaan kasus Sam Kuning.

Memori pemecatan Hoegeng di usia muda itu terus melekat di benak Merry.

Usai tak menjadi polisi, Hoegeng pulang ke kampung halamannya di Pekalongan untuk bertemu sang ibu.

Di sana, Hoegeng menyatakan tak lagi memiliki pekerjaan.

"Saya tidak bisa lupakan itu. Dia sungkem katanya, 'saya tidak punya pekerjaan lagi, Bu'.

Ibunya mengatakan, 'kalau kamu jujur melangkah, kami masih bisa makan nasi sama garam.' Itu yang bikin kita kuat semua," kenang Merry saat peluncuran buku "Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan" pada 2013 silam.

https://nasional.kompas.com/read/2020/07/15/09540821/kesederhanaan-jenderal-hoegeng-jadi-pelayanan-resto-hingga-tinggal-di-rumah

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sekjen Gerindra Minta Kader Belajar dari PDI-P untuk Pertahankan Kepercayaan Masyarakat

Sekjen Gerindra Minta Kader Belajar dari PDI-P untuk Pertahankan Kepercayaan Masyarakat

Nasional
Apakah Varian Omicron Berpengaruh pada Efektivitas Vaksin? Ini Kata Luhut

Apakah Varian Omicron Berpengaruh pada Efektivitas Vaksin? Ini Kata Luhut

Nasional
Selesai Overhaul, TNI AL Tunggu Kemhan Serah Terimakan KRI Cakra-401

Selesai Overhaul, TNI AL Tunggu Kemhan Serah Terimakan KRI Cakra-401

Nasional
Persiapkan Pemilu 2024, PPP Targetkan 3.000 Kursi DPRD

Persiapkan Pemilu 2024, PPP Targetkan 3.000 Kursi DPRD

Nasional
Muncul Varian Omicron, Menkes: Kemungkinan Besar Lebih Cepat Penularannya

Muncul Varian Omicron, Menkes: Kemungkinan Besar Lebih Cepat Penularannya

Nasional
Gerindra Berharap Dapat Koalisi dengan PDI-P untuk Menangkan Prabowo sebagai Presiden

Gerindra Berharap Dapat Koalisi dengan PDI-P untuk Menangkan Prabowo sebagai Presiden

Nasional
Dongkrak Elektoral untuk 2024, PPP Gelar Workshop Anggota DPRD Se-Indonesia

Dongkrak Elektoral untuk 2024, PPP Gelar Workshop Anggota DPRD Se-Indonesia

Nasional
Luhut: Pembatasan Perjalanan Internasional Berlaku 14 Hari, Selanjutnya Akan Dievaluasi

Luhut: Pembatasan Perjalanan Internasional Berlaku 14 Hari, Selanjutnya Akan Dievaluasi

Nasional
Aturan Perjalanan Internasional Terbaru Tegaskan Wajib Karantina 7 Hari dan Tes PCR

Aturan Perjalanan Internasional Terbaru Tegaskan Wajib Karantina 7 Hari dan Tes PCR

Nasional
Kala Kasus Kematian Covid-19 Indonesia Catat Rekor Terendah Sepanjang 2021

Kala Kasus Kematian Covid-19 Indonesia Catat Rekor Terendah Sepanjang 2021

Nasional
Soal Varian Omicron, Luhut Minta Masyarakat Tak Panik

Soal Varian Omicron, Luhut Minta Masyarakat Tak Panik

Nasional
Di Hadapan Kadernya, Suharso Minta Anggota DPRD PPP Dorong Penyerapan Anggaran Daerah

Di Hadapan Kadernya, Suharso Minta Anggota DPRD PPP Dorong Penyerapan Anggaran Daerah

Nasional
Cegah Varian Omicron, Berikut Syarat Perjalanan Internasional yang Berlaku Hari Ini

Cegah Varian Omicron, Berikut Syarat Perjalanan Internasional yang Berlaku Hari Ini

Nasional
Ancaman Corona Varian Omicron dan Upaya Pencegahan Indonesia

Ancaman Corona Varian Omicron dan Upaya Pencegahan Indonesia

Nasional
[POPULER NASIONAL] Bamsoet: Pidana dan Olahraga Harus Dipisah dalam Formula E | Bamsoet Persilakan KPK Lacak Aliran Dana Formula E

[POPULER NASIONAL] Bamsoet: Pidana dan Olahraga Harus Dipisah dalam Formula E | Bamsoet Persilakan KPK Lacak Aliran Dana Formula E

Nasional
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.