Salin Artikel

Rahasia PDI Perjuangan

Akan tetapi, sebagaimana pemilihan presiden dan wakil presiden, perkiraan urutan partai pemenang dalam pemilu raya tahun ini sudah terbukti. Terutama, bahwa partai berlambang moncong putih, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, mampu mempertahankan posisinya sebagai juara.

Inilah untuk pertama kalinya, semenjak zaman reformasi di tahun 1998, sebuah partai memenangi pemilu dua kali berturut-turut.

Bahkan, kalau tidak di nomor urut satu, PDI-P senantiasa mendulang suara yang banyak dan kursi yang menonjol di parlemen. Pada pemilu 1999, PDI-P juga menjadi partai pemenang.

Apa rahasianya? Program yang mentereng? Partai-partai lain juga punya. Jaringan sampai ke pelosok kota dan desa? Yang lain juga sama. Uang? Partai lain ada yang dibesut dan diisi para superkaya Indonesia.

Bahkan, sejauh pengamatan saya, PDI-P tidak terafiliasi dengan media massa besar seperti televisi sebagaimana Nasdem atau Perindo, misalnya, yang ketua umumnya adalah pemilik jaringan televisi besar di tanah air. Tidak, PDI-P jauh dari kelebihan itu.

Menurut saya, kebesaran PDI-P terletak pada sang pendiri dan Ketua Umum, Megawati Sukarnoputri.

Sejarah PDI-P tak lepas dan beriringan belaka dengan perjalanan hidup Megawati. Menanjak dan surutnya PDI-P adalah naik dan turunnya Megawati pula.

Megawati adalah perempuan yang dalam nadinya mengalir darah biru politik negeri ini, tapi paling berdarah pula menjaga keberlangsungan hidup diri, keluarga dan partainya.

Anak kedua Presiden Sukarno ini pernah didongkel dengan kasar dan terang benderang dari jabatan Ketua Umum PDI -- pendahulu PDI Perjuangan -- di masa Orde Baru.

Sabar dan sabar lagi

Ia melawan bersama pendukung setianya di PDI Perjuangan. Tapi kemenangannya yang gemilang pasca Orde Baru pada Pemilu 1999 gagal mengantar dirinya sebagai Presiden lewat atraksi politik di parlemen oleh para politisi.

Pada tahun 2014, PDI-P menang lagi, yang secara hukum, mestinya orang PDI-P menjadi Ketua DPR RI.

Lagi-lagi, lewat persekongkolan yang tiba-tiba mengubah aturan main, PDI-P kembali gigit jari. Megawati sabar lagi.

Tak ada ekspresi kemarahan, kendati ia sangat kecewa dan terpukul. Ia bungkam diri sembari menahan para kadernya untuk tidak berontak dan menyebar kebencian.

Bersama anak-anaknya di partai, Megawati menelan kepahitan itu, tanpa harus menyebar virus fitnah dan menyuburkan sak wasangka. Ia sangat surplus dengan teladan, bagaimana menjadi pemimpin yang damai.

Kepemimpinan Megawati menjadi semen perekat partainya dan bangsa ini.

Orang lain bisa menilai Megawati defisit dalam gagasan, tetapi ia sangat surplus dalam ihtiar menjahit benang-benang bangsa menjadi sebuah sulaman indah yang bernama Indonesia ini. Ia mampu menepikan ego dirinya untuk keutuhan bangsa.

Kesabaran Megawati itulah yang menjadi sumber legitimasi moral kepemimpinannya.

Ia memberi teladan bagaimana mengatur ritme emosi dalam politik. Kemampuannya dalam menjaga desah nafas, membuatnya bisa memiliki daya tahan luar biasa dalam permainan politik.

Megawati seolah pemain aikido yang handal, mematikan dengan tenaga lawan sendiri.

Tatkala dirinya dan partainya dalam puncak dizolimi, Megawati tidak pernah memberi instruksi ke para kadernya untuk marah dan mengamuk. Seluruh kadernya tunduk. Ia sungguh-sungguh pemimpin.

Kualitas kepemimpinan inilah yang dibayangkan oleh Max Weber: kepemimpinan kharismatik. Para politisi negeri ini, selayaknya berguru kepada Megawati, bagaimana menjadi pemimpin yang tidak menyemburkan api kemarahan.

Setelah kalah dari SBY

Pada masa pemerintahannya, Megawati mendorong konsolidasi demokrasi di Indonesia. Ia melaksanakan pemilihan umum presiden secara langsung di tahun 2004, kendati sistem itu pula yang langsung mengorbankan dirinya.

Ia kalah oleh bekas menterinya sendiri, Susilo Bambang Yudhoyono pada Pilpres 2004.

Sejak itu, Megawati memilih jalan sendiri. Ia seolah bertapa dalam kesenyapan. Ia melayarkan bahtera PDI Perjuangan di luar samudera gemerlap kekuasaan.

Ia ajeg, bersikap diam menjaga partai agar tak oleng oleh godaan. Ia berpolitik untuk mempertahankan martabat (dignity), bukan sekedar loncat sana, parkir di sini. Ia tidak ingin dicap sebagai seorang oportunis handal.

Dan di ajang Pemilu 2014, PDI Perjuangan menuai hasilnya, merebut suara terbanyak di antara 12 partai kontestan pemilihan umum.

Para kadernya, memandang bahwa pemimpinnya berjuang bukan karena haus kekuasaan belaka. Ini jugalah yang menjadi sumber legitimasi kepemimpinannya.

Faktor kedua mengapa PDI-P sejak reformasi bergulir, tetap bisa menjadi partai besar, ialah, tema yang diusungnya mengena, menyentuh hati rakyat yang memilihnya.

PDI-P adalah partainya wong cilik. Sebuah tag line yang sudah menyatu dengan hati rakyat.

Jargon-jargon yang selalu dipakai Megawati terhadap kader-kadernya, “merdeka,” juga selalu menggugah semangat.

Bisa jadi banyak yang menilai bahwa jargon tersebut usang. Bagi Megawati, kata merdeka tak pernah mengenal titik henti. Kian kesesatan terjadi, termasuk kesesatan arah dan pikiran, kata merdeka tetap mujarab.

Merdeka bisa merepresentasi banyak hal, sekaligus bisa menjadi penawar segala ihwal.

Saya pernah menonton film Green Book. Ia berkisah tentang eloknya persahabatan antara majikan yang berkulit hitam, Doktor Shirley (Mahershala Ali), pemain musik handal yang hidup di papan atas di Amerika dengan seorang pembantu setia, Toni Lip (Viggo Mortensen) yang berkulit putih, tidak tamat sekolah dasar, menempati posisi bawah, dan sangat temperamental.

Perilaku kesehariannya menegaskan bahwa ia anak jalanan yang cenderung menghalalkan segala cara, termasuk menyogok polisi.

Film ini dengan getir mengolok diskriminasi warna kulit di Amerika Serikat ketika itu.

Hujan deras datang mengguyur tatkala mereka sedang dalam mobil yang berlari sedang. Polisi datang menyetop mobil mereka.

Aparat negara tersebut menyoal mengapa Dr. Shirley yang hitam itu memasuki kawasan kota yang melarang kehadirannya, hanya karena ia hitam.

Tidak menerima perlakukan itu, Toni langsung menonjok wajah petugas.

Di rumah tahanan, sang majikan yang selalu santun itu menasehati Toni, “Kekerasan tidak pernah membuatmu menang. Dengan mempertahankan martabatmu, kamu bisa menang, dan martabat selalu menang.”

Dalam memimpin PDI P, Megawati sudah membuktikan itu.

https://nasional.kompas.com/read/2019/05/27/13350241/rahasia-pdi-perjuangan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.