Salin Artikel

"Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia..."

Masa-masa keterpurukan akibat penjajahan, mementingkan sikap kedaerahan diharapkan hilang dan berubah menjadi persatuan bersama.

Meski demikian, Sumpah Pemuda tak hanya menandai akan kesadaran bersama sebagai anak bangsa, melainkan juga menjadi tonggak mula digunakannya bahasa Indonesia.

Dalam Kongres Pemuda II itu, para pemuda dari berbagai suku bangsa yang masing-masing memiliki bahasanya sendiri, sepakat untuk menjadikan bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

Kongres pertama

Pergerakan pemuda melawan penjajah di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak penjajahan itu masuk ke Nusantara. Namun, momentum pergerakan itu tercatat saat para pemuda mulai menghimpun diri dalam bentuk organisasi.

Dengan demikian, tahun 1908 tercatat sebagai tonggak kebangkitan nasional. Pada 1908 memang tercatat sejumlah organisasi pemuda berdiri, misalnya Boedi Oetomo di Batavia dan Perhimpunan Indonesia yang merupakan perkumpulan pelajar Indonesia di Belanda.

Setelah itu, muncul juga sejumlah organisasi pemuda yang berbasis kedaerahan. Misalnya, ada Tri Koro Dharmo yang kemudian berganti nama menjadi Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, dan lainnya.

Pada 1926, para pemuda itu kemudian menyadari bahwa mereka membutuhkan persatuan agar bisa melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Kongres Pemuda I pun digelar pada 30 April - 2 Mei 1926.

Saat itu, Kongres Pemuda bermaksud untuk menyatukan para organisasi pemuda ke dalam satu wadah bersama. Pertemuan akbar itu dianggap tak menghasilkan apa-apa, ada yang menilai karena masing-masing kelompok pemuda masih memprioritaskan perjuangan bersifat kedaerahan. 

Salah satunya diungkap oleh Ketua Jong Sumatranen Bond, Mohammad Yamin, yang mengungkapkan gagasan akan dibutuhkannya bahasa persatuan.

Dikutip dari buku Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003), melalui pidatonya, "Kemungkinan Bahasa-bahasa dan Kesusastraan di Masa Mendatang", Yamin "menyodorkan" bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

Menurut Yamin, bahasa Melayu penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan bukan disebabkan bahasa itu lebih unggul ketimbang bahasa dari daerah lain.

Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Aceh, Bahasa Bugis, Bahasa Batak, dan bahasa dari daerah lain dianggap bagus, namun penggunaannya masih terbatas, pun wilayah penyebarannya. Ini berbeda dengan bahasa Melayu yang sudah banyak digunakan sebagai bahasa pengantar di Nusantara, selain bahasa Arab dan bahasa Belanda.

"Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa bahasa Melayu lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan dan bahasa persatuan yang ditentukan untuk orang Indonesia. Dan kebudayaan Indonesia masa depan akan mendapatkan pengungkapannya dalam bahasa itu," demikian pidato Yamin.

Selain itu, Jong Sumatranen Bond sendiri pernah mendiskusikan bahasa persatuan ini sejak 1923. Kelak, penggunaan "bahasa Indonesia" ini diharapkan mendesak penggunaan bahasa Belanda.

Dilansir dari buku Indonesia dalam Arus Sejarah (2013), gagasan ini pun masih sebatas wacana. Belum ada kesepakatan yang diambil dalam Kongres Pemuda I, termasuk soal bahasa persatuan.

Sebagai Ketua Kongres, Mohammad Tabrani Soerjowitjiro merasa kurang setuju dengan pemikiran Yamin mengenai penggunaaan bahasa Melayu. 

Tabrani mempunyai gagasan akan bahasa persatuan tanpa menggunakan bahasa daerah. Selain itu, Bahasa Jawa juga tak disetujui sebagai bahasa persatuan, meskipun etnis Jawa ketika itu lebih mendominasi perkumpulan pemuda ini.

Gagasan mengenai bahasa persatuan kembali mewarnai Kongres Pemuda II, yang kembali diungkap Mohammad Yamin.

Dalam kongres itu, Yamin kembali mengungkapkan ketidaksetujuan akan fusi sejumlah organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan ke dalam satu organisasi. Namun, dia juga tidak ingin kongres tidak menghasilkan apa-apa.

Menurut Yamin, bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa ini memang membutuhkan kemauan untuk bersatu. Meski begitu, dia tetap berharap kekhasan daerah tidak hilang.

Saat kongres tengah berlangsung, Yamin mulai menuliskan gagasan "Sumpah Pemuda" tersebut dalam suatu kertas. Kertas itu kemudian dia sodorkan kepada Soegondo Djojopoespito, yang saat itu menjabat Ketua Kongres.

"Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya punya rumusan resolusi yang elegan)," kata Yamin kepada Soegondo, dikutip dari buku Mengenang Mahaputra Prof. Mr. H. Muhammad Yamin Pahlawan Nasional RI (2003).

Adapun, Adapun hasil dari Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 yang berasal dari gagasan rumusan Yamin adalah:

Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia

Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Mengenai bahasa, "rumusan resolusi yang elegan" yang dimaksud Yamin adalah untuk menjunjung bahasa persatuan dengan maksud tiap suku bangsa tidak menghilangkan kekhasan bahasa daerahnya masing-masing.

Tentang kata "Indonesia"

Meski berakar dari bahasa Melayu, namun pada akhirnya kongres menyepakati "penggunaan bahasa Indonesia". Kelak, bahasa Indonesia sendiri memang mengambil sejumlah serapan dari bahasa daerah, juga bahasa asing seperti bahasa Arab, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris.

Penggunaan kata "Indonesia" sendiri semakin populer digunakan sejak awal abad ke-20. Misalnya, kelompok pelajar Indonesia di Belanda yang semula menamakan diri "Indische Vereeniging" atau Perhimpunan Hindia (Belanda) kemudian berganti nama menjadi "Indonesische Vereeniging" atau Perhimpunan Indonesia.

Dilansir dari dokumentasi Harian Kompas edisi 17 November 2002, awal munculnya nama "Indonesia" terlacak dari Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) yang terbit di Singapura pada 1850 volume IV.

Di jurnal itu, seorang penulis, Windsor Earl memunculkan istilah "Indunesia" dan "Melayunesia" untuk menyebut kepulauan di Hindia.

Sementara itu di jurnal yang sama, seorang asal Skotlandia yang menjadi editor jurnal, James Richardson Logan, menulis artikel "The Ethnology of the Indian Archipelago" (Etnologi Kepulauan Hindia) yang secara spesifik menyebut istilah "Indonesia".

Pada awal tulisannya, Logan menyebutkan bahwa diperlukan nama khas bagi kepulauan yang sekarang dikenal sebagai Indonesia. Alasannya, istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang.

Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik.

Maka lahirlah istilah Indonesia yang dipahami oleh pemuda dan dijadikan pernyataan melalui sebuah bahasa persatuan. Hingga nama Indonesia menjadi identitas bangsa ini.

https://nasional.kompas.com/read/2018/10/29/08421511/menjunjung-bahasa-persatuan-bahasa-indonesia

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus Suap Wali Kota Rahmat Effendi, KPK Panggil 3 Lurah sebagai Saksi

Kasus Suap Wali Kota Rahmat Effendi, KPK Panggil 3 Lurah sebagai Saksi

Nasional
WNI Pekerja Pertanian Bakal Bebas Visa Untuk Bekerja di Australia

WNI Pekerja Pertanian Bakal Bebas Visa Untuk Bekerja di Australia

Nasional
Akhir Drama Pernyataan Arteria Dahlan, Minta Maaf dan Dijatuhi Sanksi oleh PDI-P

Akhir Drama Pernyataan Arteria Dahlan, Minta Maaf dan Dijatuhi Sanksi oleh PDI-P

Nasional
Polri Akan Tindak Penimbun Minyak Goreng Rp 14.000, Ancamannya Denda Rp 50 Miliar

Polri Akan Tindak Penimbun Minyak Goreng Rp 14.000, Ancamannya Denda Rp 50 Miliar

Nasional
7 Atensi Prabowo Terkait Pertahanan dalam Rapim Kemenhan 2022

7 Atensi Prabowo Terkait Pertahanan dalam Rapim Kemenhan 2022

Nasional
KPU Usulkan Alternatif Jadwal Pemilu 14 Februari 2024

KPU Usulkan Alternatif Jadwal Pemilu 14 Februari 2024

Nasional
OTT Hakim PN Surabaya: Dugaan Kongkalikong Bubarkan Perusahaan untuk Bagi Keuntungan

OTT Hakim PN Surabaya: Dugaan Kongkalikong Bubarkan Perusahaan untuk Bagi Keuntungan

Nasional
Bertambah 51, Total Pasien Covid-19 di Wisma Atlet 2.687

Bertambah 51, Total Pasien Covid-19 di Wisma Atlet 2.687

Nasional
Lebih dari 2.000 Kasus Covid-19 Sehari dan 1.000 Omicron, Indonesia Masuki Gelombang 3 Pandemi

Lebih dari 2.000 Kasus Covid-19 Sehari dan 1.000 Omicron, Indonesia Masuki Gelombang 3 Pandemi

Nasional
Itong Isanini Tersangka Suap, KY Ungkap Laporan Pelanggaran Etik Hakim di Jatim Ranking Dua

Itong Isanini Tersangka Suap, KY Ungkap Laporan Pelanggaran Etik Hakim di Jatim Ranking Dua

Nasional
Tertutupnya Mabes Polri soal Asal Usul Pelat Mirip Polisi yang Dimiliki Arteria Dahlan

Tertutupnya Mabes Polri soal Asal Usul Pelat Mirip Polisi yang Dimiliki Arteria Dahlan

Nasional
Itong Isnaini Tersangka, KY: Ada Dugaan Pelanggaran Etik Hakim

Itong Isnaini Tersangka, KY: Ada Dugaan Pelanggaran Etik Hakim

Nasional
Satgas Sebut Belum Ada Gejala Khas yang Timbul akibat Varian Omicron

Satgas Sebut Belum Ada Gejala Khas yang Timbul akibat Varian Omicron

Nasional
Megaproyek IKN, 20.000 Masyarakat Adat Tersingkir dan Dugaan 'Hapus Dosa' Korporasi

Megaproyek IKN, 20.000 Masyarakat Adat Tersingkir dan Dugaan "Hapus Dosa" Korporasi

Nasional
Bahaya Omicron di Depan Mata, Kasus Aktif Covid-19 Naik 3.000 Hanya dalam Sepekan

Bahaya Omicron di Depan Mata, Kasus Aktif Covid-19 Naik 3.000 Hanya dalam Sepekan

Nasional
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.