Memang Ada Capres yang Suka ke Kuburan
Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia Ali Mochtar Ngabalin.
Sabtu, 4 Juli 2009 | 09:19 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com — Pernyataan calon presiden SBY mengenai kewaspadaan dirinya terhadap maraknya sihir menjelang pemilu presiden disayangkan oleh Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia Ali Mochtar Ngabalin.

Menurut Ngabalin, justru pernyataan tersebut menjadi justifikasi terhadap penggunaan sihir dalam momen-momen pemilu. Padahal, momen pemilu adalah momen nasional dan sihir jelas-jelas dilarang dalam agama Islam. "Saya menyesalkan karena pernyataan ini keluar dari mulut pimpinan bangsa," ujar Ngabalin di sela-sela rangkaian kampanye Jusuf Kalla di Jawa Timur, Sabtu (4/7).

Menurut Ngabalin, Islam mengatur bahwa orang yang menyimpan jimat berarti mengkhianati Allah dan itu dilarang, apalagi menggunakan ilmu sihir untuk mengantarkan diri menjadi pemimpin bangsa.

Ngabalin bahkan menuding SBY yang sering mengunjungi kompleks-kompleks pemakaman untuk memperoleh kekuatan tertentu. "Masyarakat tahu siapa yang suka mendatangi kuburan. Saya tahu siapa yang suka begitu. Oh, memang ada capres yang suka ke kuburan," tandas Ngabalin.

Sent from Indosat BlackBerry powered by  

http://m.kompas.com di mana saja melalui ponsel, Blackberry, iPhone, atau Windows Mobile Phone Anda
0
0
Nilai 3.29 A A A
Ada 120 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
dogol @ Senin, 6 Juli 2009 | 23:29 WIB
Oooo gitu ya? Tapi org yg fotonya di atas ini justru adalah PENGHUNI KUBURAN, itu yg kepalanya pake ubel-ubel cuma provokator pecundang! Ngakunya aja Ustadz padahal dia cuma PECUNDANG PENGHUNI KUBURAN He he he! SATU PUTARAN.....LANJUTKAN!!
rasyid @ Senin, 6 Juli 2009 | 08:41 WIB
apa yang dilakukan capres da cawapres sebelum penentuan kemenangan itu tiba, semuanya dalah miniatur kepemimpinannya kedepan. kalo kita tau demikian adanya maka tugas kita sebagai warga negara adalh mencari kepastian kebenaran dan jika terbukti itu benar maka kewajiban kita adalh menghindarinya.... dan memilih yang terbaik. ingat lebih cepat dalam mengambil keputusan adalah lebih bae'.
kuncoro @ Minggu, 5 Juli 2009 | 12:32 WIB
haha......emang salah kalo nyekar?biasa aja lagi. Liat tuh bu mega. Mau nyalon,nunggu wangsit dari bapaknya. Banyak juga cagub-cagub atau cabup yang sowan ke oprang pinta gimana bisa menang. Ah...gitu aja dibikin ribut...Jamannya pak karno,pak harto udah biasa, Yang biasa berendam di sungai siapa ayooo....?
SBY @ Minggu, 5 Juli 2009 | 09:57 WIB
Baca artikel ini aja deh, kita bisa menilai siapa pemimpin kita sekarang, gak bakal rugi!!! (http://public.kompasiana.com/2009/07/04/surat-terbuka-untuk-sby-oleh-pendeta-damanik/#comment-48983)
yosep @ Minggu, 5 Juli 2009 | 09:50 WIB
menilai kejelekan oranglain,berburuk sangka sedangkan dalam agama mengajarkan hanya Allah Yang layak menilai baik buruk nya seseorang.semua manusia punya dosa tapi kenapa banyak manusia merasa bahwa dirinya benar.menilai lah diri sendiri sebelum menilai orang lain apa sudah benar jika orang merasakan sudah benar berarti termasuk golongan orang yang munafik sedangkan allah murka terhadapnya.kebenaran hanyalah di tangan ALLAH SWT.Allah bersama orang yang sabar.HIdup SBY lanjutkan!!
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1