2017, Tahun Kelam untuk Novel Baswedan dan Pemberantasan Korupsi - Kompas.com

2017, Tahun Kelam untuk Novel Baswedan dan Pemberantasan Korupsi

Ihsanuddin
Kompas.com - 31/12/2017, 20:29 WIB
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan (kiri) bersama istri Rina Emilda (kanan) dan anak bungsunya saat ditemui di Singapura, Selasa (15/8/2017). ANTARA FOTO/MONALISA Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan (kiri) bersama istri Rina Emilda (kanan) dan anak bungsunya saat ditemui di Singapura, Selasa (15/8/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Tahun 2017 menjadi tahun kelam bagi penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Pada 11 April lalu, Novel yang baru pulang shalat Subuh dari masjid di dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, diserang oleh dua orang tak dikenal.

Dengan menggunakan sepeda motor, kedua orang itu menyiramkan air keras ke wajah Novel. Penyidik dalam kasus korupsi proyek E-KTP ini pun harus dilarikan ke Singapura untuk menjalani penyembuhan di bagian wajah dan matanya.

Sampai penghujung tahun 2017 berakhir, luka-luka di wajah Novel sudah mulai sembuh. Namun begitu, polisi tak juga berhasil menemukan pelaku penyerangan.

Berbagai cara ditempuh kepolisian untuk mengusut kasus ini. Polisi sudah membentuk tim berisi ratusan personel dari polres, polda dibantu Mabes Polri. Polisi juga meminta bantuan Australia Federal Police (AFP) guna mempelajari gambar rekaman CCTV.

Baca juga : Ini Ciri-ciri Dua Orang yang Diduga Pelaku Penyerangan Novel Baswedan

Polisi juga sempat memeriksa empat orang diduga terlibat dalam penyiram tersebut. Namun belakangan, keempat orang tersebut dilepas. Alasannya, berdasarkan keterangan para saksi, keempatnya memiliki ciri-ciri berbeda dengan pelaku dari rekaman CCTV.

Misteri kasus ini mulai terang setelah Kapolri Jenderal Tito Karnavian merilis sketsa wajah diduga pelaku. Tito menunjukkan sketsa wajah tersebut usai bertemu Presiden Jokowi di Istana Negara.

Sketsa itu dibuat berdasarkan keterangan seorang saksi kunci yang meminta identitasnya dirahasiakan. Diduga, orang itu merupakan pengendara sepeda motor yang membonceng pelaku penyerangan terhadap Novel. Kendati begitu terduga pelaku tak kunjung dibekuk.

Pengungkapan kasus ini kembali muncul setelah Kapolda Metro Jaya, Irjen Idham Azis bersama Ketua KPK Agus Rahardjo membeberkan penanganan kasus Novel.

Baca juga : Novel Baswedan Disebut Pesimistis Kasus Penyerangan ke Dirinya Tuntas

Idham menjelaskan polisi sudah mengerucutkan terduga pelaku pada dua orang. Dugaan itu setelah polisi memeriksa 66 saksi. dua orang tersebut 90 persen diduga terlibat dalam penyiraman Novel Baswedan. Satu orang bercirikan rambut pendek dan seorang lagi berambut panjang.

Sayangnya, polisi belum mengetahui identitas detail kedua orang tersebut. Itu sebabnya, polisi meminta partisipasi masyarakat jika mengenali wajah tersebut segera melapor ke polisi atau melalui hotline 081398844474.

Namun, hingga kini hasilnya nihil. Minimnya saksi dan alat bukti menjadi alasan kepolisian mengungkap cepat kasus ini.

Baca juga : Pegawai KPK Memohon ke Jokowi untuk Percepat Pengusutan Kasus Novel

Sementara desakan publik agar polisi segera menuntaskan kasus ini terus menggema. Para mantan pimpinan KPK, pegiat antikorupsi, media, dan aktivis HAM bahkan mendesak agar Presiden Joko Widodo membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) mengungkap penyiram Novel.

Namun, sampai tahun berganti, Presiden Jokowi terus bergeming. Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah menyesalkan sikap Kepala Negara.

"Jokowi justru mendorong agenda pemberantasan korupsi kita ke era kegelapan pemberantasan korupsi," kata Dahnil.

Kompas TV 2 Sketsa dari wajah terduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan telah disebar ke seluruh kantor polisi.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisIhsanuddin
EditorSabrina Asril
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM