Parpol Tak Bisa Diandalkan, Kelompok Islam Memilih Turun ke Jalan - Kompas.com

Parpol Tak Bisa Diandalkan, Kelompok Islam Memilih Turun ke Jalan

Estu Suryowati
Kompas.com - 08/12/2017, 17:29 WIB
Umat muslim mengikuti aksi 212 di depan Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (21/2/2017). Aksi 212 tersebut digelar dalam rangka menuntut DPR agar segera mengambil tindakan agar Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama diberhentikan dari jabatannya.KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Umat muslim mengikuti aksi 212 di depan Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (21/2/2017). Aksi 212 tersebut digelar dalam rangka menuntut DPR agar segera mengambil tindakan agar Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama diberhentikan dari jabatannya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philip J Vermonte menilai, maraknya kelompok Islam menyalurkan aspirasi politiknya lewat jalanan lantaran tidak ada partai politik (parpol) yang mempu menangkap aspirasi mereka, bahkan parpol berbasis Islam.

"Kita punya PPP, PKB, PAN. Tetapi partisipasi ini melebar ke jalan. Bahkan kadang-kadang partainya tidak bisa memobilisasi orang-orang sebanyak itu," kata Philip di Gedung KPU RI, Jakarta, Jumat (8/12/2017).

Menurut Philip, meningkatnya politik identitas juga dikontribusikan mandulnya parpol dalam mewadahi aspirasi masyarakat.

"Jangan-jangan ada yang salah dengan penyaluran aspirasi politik melalui parpol. Hari ini, kelompok Islam lebih memilih turun ke jalan, dibandingkan menyalurkannya melalui parpol yang berbasis Islam," kata dia.

Baca juga : Kapolri: Reuni 212 Enggak Akan Jauh-jauh dari Politik 2018-2019

Kemudian ketika ditanya apakah menguatnya politik identitas ini akan berpengaruh terhadap demokrasi, Philip mengatakan hal tersebut tergantung dari kelompok tersebut memposisikan kelompok lain, khususnya minoritas.

Dia menambahkan, apabila cara-cara demokratis tersebut membuat minoritas menjadi tersudut, berarti cara-cara itu tidak sehat untuk jalannya demokrasi di Indonesia.

"Karena demokrasi itu bukan hanya soal bagaimana suara mayoritas didengar. Tetapi yang paling penting bagaimana mayoritas bisa melindungi minoritas. Ini bukan hanya soal agama, tetapi etnis dan lain-lain," ucap Philip.

Baca juga : Fahri Hamzah: Seharusnya Kapolri Datang ke Reuni 212, Cipika Cipiki...

Melihat fenomena tersebut, dia menyarankan kepada parpol untuk melakukan refleksi diri, mengapa parpolnya tidak menjadi saluran aspirasi pilihan rakyat. Sebaliknya, justru kelompok di luar parlemen lah yang mewadahi aspirasi rakyat.

"Di satu sisi itu baik, karena berarti sipil bergerak. Tetapi kalau terjadi mobilisasi dan masyarakat terbelah, berarti dampaknya kurang baik," ucap Philip.

"Dan itu tugas parpol untuk merefleksikan kenapa mereka tidak bisa menangkap aspirasi ini dan menyalurkannya lewat politik elektoral," pungkasnya.

Kompas TV Di antaranya Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan Fahri Hamzah, Mantan Ketua MPR Amien Rais, serta Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

PenulisEstu Suryowati
EditorSabrina Asril

Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM