Terungkapnya Saracen Seharusnya Bikin Pengguna Internet Waspadai Informasi Dunia Maya - Kompas.com

Terungkapnya Saracen Seharusnya Bikin Pengguna Internet Waspadai Informasi Dunia Maya

Kristian Erdianto
Kompas.com - 08/12/2017, 17:10 WIB
Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan di kantor Kominfo, Senin (9/10/2017).Fatimah Kartini Bohang/KOMPAS.com Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan di kantor Kominfo, Senin (9/10/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Terungkapnya bisnis ujaran kebencian yang dilakukan kelompok Saracen seharusnya menyadarkan masyarakat bahwa tidak sedikit konten di internet yang rentan konflik kepentingan.

"Dampak teknologi tanpa literasi contohnya fabrikasi isu oleh kelompok Saracen. Ini harusnya jadi pelajaran bahwa hati-hati dalam menggunakan internet. Maka kita harus mencek informasi yang beredar dari berbagai sumber. Tabayyun," kata Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan saat menjadi pembicara dalam penutupan rangkaian pelatihan '#1nDONEsia: Cerdas Bermedia Sosial' yang digagas oleh YouTube Creators for Change dan Maarif Institute, di UOB Plaza, Jakarta Pusat, Jumat (8/12/2017).

Menurut hasil survei CIGI-Ipsos 2016, sebanyak 65 persen dari 132 juta pengguna internet di Indonesia percaya dengan kebenaran informasi di dunia maya tanpa cek dan ricek.

(Baca juga : 65 Persen Pengguna Internet Percaya Mentah-mentah Informasi Dunia Maya)

Tak heran jika saat ini sebagian besar masyarakat cenderung memercayai segala informasi yang beredar di internet tanpa melakukan klarifikasi.

"Sebanyak 65 persen dari seluruh pengguna internet percaya internet tanpa cek dan ricek. Padahal konten di internet bisa difabrikasi. Tergantung dari siapa yang menyajikan informasi itu," ujar Semuel.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhammad Abdullah Darraz mengatakan perlu adanya upaya untuk membangun kesadaran kritis di kalangan generasi muda pengguna internet terhadap konten-konten negatif yang menyebar di media sosial.

Selain itu, ia juga menekankan soal pentingnya internalisasi nilai-nilai utama bangsa Indonesia yakni kebhinekaan dan toleransi.

"Dua hal itu signifikan, menyiapkan generasi muda dalam menghadapi ancaman konten negatif, ujaran kebencian, hoax dan paham radikalisme di internet," ucapnya.

Kompas TV Untuk menangkal kabar bohong, pemerintah terus mengkampanyekan Gerakan Nasional Literasi Digital atau Siberkreasi.

 

 

PenulisKristian Erdianto
EditorDiamanty Meiliana
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM