Baper Setya Novanto dan Fenomena Meme, Bagaimana Menyikapinya? - Kompas.com

Baper Setya Novanto dan Fenomena Meme, Bagaimana Menyikapinya?

Heryadi Silvianto
Kompas.com - 23/11/2017, 21:22 WIB
Kuasa hukum Setya Novanto Fredrich Yunadi memperlihatkan Meme Setya Novanto yang menjadi bahan laporan pencemaran nama baik kliennya ke Mabes PolriKompas.com/Rakhmat Nur Hakim Kuasa hukum Setya Novanto Fredrich Yunadi memperlihatkan Meme Setya Novanto yang menjadi bahan laporan pencemaran nama baik kliennya ke Mabes Polri

KETUA Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Setya Novanto atau Setnov lewat kuasa hukumnya memutuskan menempuh proses hukum terhadap para penyebar meme satire tentang dirinya di media sosial.

Tercatat sebanyak 32 akun media sosial dilaporkan ke polisi yang terdiri dari 15 akun Twitter, 9 akun Instagram, dan 8 akun Facebook. Berdasarkan pengembangan pihak Kepolisan, jumlahnya membengkak menjadi 69 akun.

Dalihnya, menggunakan Pasal 27 Ayat 3 Undang-Undang No 11 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Tak berapa lama, tanggal 16 November 2017 sekira pukul 19.00 dikabarkan Setya Novanto mengalami kecelakaan tunggal, dalam status tersangka. Ketua Partai Golkar tersebut dilarikan ke Rumah Sakit Media Permata Hijau. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga.

Baca juga: Novanto Kecelakaan, Pengacara Mohon Doa

Kecelakaan yang menimpa Setnov ternyata semakin memunculkan respons publik yang luar biasa. Alih-alih bersimpati atas kejadian tersebut, munculah beragam analisis dan berita yang bernada keheranan atas kejadian tersebut.

Tersangka kasus korupsi KTP elektronik Setya Novanto meninggalkan gedung KPK seusai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Selasa (21/11/2017). Ketua DPR tersebut menjalani pemeriksaan perdana selama lima jam usai ditahan oleh KPK terkait dugaan korupsi proek KTP elektronik.ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A Tersangka kasus korupsi KTP elektronik Setya Novanto meninggalkan gedung KPK seusai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Selasa (21/11/2017). Ketua DPR tersebut menjalani pemeriksaan perdana selama lima jam usai ditahan oleh KPK terkait dugaan korupsi proek KTP elektronik.
Selain itu, tentu saja mengalir deras beragam meme. Tak hanya itu, juga muncul tagar, anekdot, guyon, gim, hingga cerita-cerita satir. Maka munculah kosakata baru seperti #savetianglistrik, 'fortuner papa', "benjol sebesar bakpao", dan sejenisnya. Riuh jagat publik dibuatnya.

Menanggapi suasana publik tersebut, Pengacara Setya Novanto yakni Fredrich Yunadi saat itu melakukan jurus yang sama untuk mencegah sindiran digital terhadap kliennya semakin massif dan agitatif masuk ke ruang publik.

Dirinya mengaku sudah melaporkan akun pembuat meme terkait kecelakaan yang dialami kliennya ke kepolisian. Bukti bahwa pengacara yang pernah ikut serta kontestasi komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini cukup trengginas melaporkan pembuat meme atas kliennya.

Baca juga : Pengacara Laporkan Pembuat Meme Kecelakaan Novanto

Penulis ingin melihat dan menelaah peristiwa Setnov sebagai produk budaya popular dalam relasi pesan berbentuk meme dengan pendekatan interaksi simbolik.

Awalnya kata meme dikenalkan pertama kali oleh Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene tahun 1976, sebagai upaya untuk menjelaskan bagaimana penyebaran informasi budaya.

Adapun menurut Schubert, Karen (2003) secara khusus menjelaskan meme internet adalah aktivitas, konsep, slogan atau media yang menyebar, sering sebagai mimikri atau untuk tujuan lucu, dari orang ke orang melalui internet.

Adapun, Teori Interaksi Simbolik merupakan teori yang memiliki asumsi bahwa manusia membentuk makna melalui proses komunikasi. Teori interaksi simbolik berfokus pada pentingnya konsep diri dan persepsi yang dimiliki individu berdasarkan interaksi dengan individu lain.

Menurut Herbert Blumer, terdapat tiga asumsi dari teori ini: (a) Manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka; (b) Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia; dan (c) Makna dimodifikasi melalui interpretasi.

Sejumlah Polisi Lalu lintas Polda Metro Jaya melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kecelakaan mobil yang ditumpangi Ketua DPR Setia Novanto, di Kawasan Jalan Permata Hijau, Jakarta, Jumat (17/11/2017). Mobil yang ditumpangi Setya Novanto menabrak tiang listrik pada Kamis (16/11/2017).ANTARA FOTO/RENO ESNIR Sejumlah Polisi Lalu lintas Polda Metro Jaya melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kecelakaan mobil yang ditumpangi Ketua DPR Setia Novanto, di Kawasan Jalan Permata Hijau, Jakarta, Jumat (17/11/2017). Mobil yang ditumpangi Setya Novanto menabrak tiang listrik pada Kamis (16/11/2017).
Saat ini public relations, advertising, dan marketing profesional menggunakan meme internet sebagai bentuk pemasaran ‘viral’ dan pemasaran ‘gerilya’ untuk menciptakan "buzz" pemasaran untuk produk atau layanan mereka.

Flor, Nick (2000) menyebut praktik menggunakan meme untuk memasarkan produk atau layanan dikenal sebagai pemasaran memetik (Memetic Marketing).

Meme memiliki kelebihan karena tidak sekadar berhenti pada rantai produksi dan konsumsi teks, melainkan juga reproduksi berkali-kali atas gambar atau foto slide yang sama, dengan teks yang berbeda-beda (Wiggins & Bowers, 2014).

Secara teknis, dalam proses pembuatan meme kini jauh lebih mudah, karena seseorang tidak perlu lagi punya kemampuan maupun penguasaan khusus desain grafis seperti Photoshop atau Adobe Illustrator. Mengingat saat ini sudah cukup banyak aplikasi smartphone yang bisa mempadupadankan kata-kata, gambar dan gagasan menjadi sebuah meme.

Pasti lebih mudah dan murah, sehingga jarak antara sebuah peristiwa sosial dan politik dengan ekspresi publik -meme- tidak membutuhkan waktu yang lama dan saluran distribusi yang sulit. Bidang yang menelusuri bagaimana meme menyebar sehingga membentuk budaya disebut memetracker.

Meme dibuat selain untuk menginformasikan pesan kepada khalayak target, juga tidak jarang bertujuan untuk men-demarketing kompetitor. Hemat penulis, kondisi tersebut hal yang lazim selama data dan fakta berbanding lurus dengan meme yang dibuat.

Setnov dan meme

Meme yang bertebaran di dunia maya dan jejaring sosial pada dasarnya merupakan persepsi individu secara kolektif terhadap individu lain yakni Setnov. Sepak terjang dan paparan informasi yang diterima melalui media membentuk makna bagi publik.

Dilalahnya, terkristalisasi dalam sumbu persepsi yang kurang baik dan reputasi yang negatif terhadap Setnov. Atas dasar itu, meme politik lahir karena perilaku politik dari aktor politik.

Komisi Pemberantasan Korupsi kembali memeriksa Ketua DPR Setya Novanto terkait kasus e-KTP, Kamis (23/11/2017).Kompas.com/Robertus Belarminus Komisi Pemberantasan Korupsi kembali memeriksa Ketua DPR Setya Novanto terkait kasus e-KTP, Kamis (23/11/2017).
Meme politik melepaskan diri dari apa yang secara formal diyakini sebagai budaya politik dan bahkan justru berupaya membalik kesopan-santunan dan segala protokol pesan politik.

Kesopanan dibuang jauh dan diganti bukan saja oleh sesuatu yang serba terus-terang, tapi juga secara komedi memainkan ironi dan menghasilkan pesan yang satire. Berbentuk humor, meme menjadi salah satu ukuran penting seberapa jauh masyarakat mampu menghimpun kesadaran kritis terutama dalam tema-tema politik (Hasan, 1981).

Dahulu kritikan hanya dapat diungkapkan melalui media luar ruang (mural) dan berbasis media cetak (karikatur), kini dengan meme yang didistribusikan lewat internet, ruang (space) yang tersedia sangatlah luas, murah dan mudah.

Coscia, Michele (2013), dalam Competition and Success in the Meme Pool: a Case Study on Quickmeme.com, memaparkan, meme internet membawa perangkat tambahan yang meme biasa tidak miliki. Meme internet meninggalkan jejak di media (misalnya jaringan sosial) yang membuat mereka dapat dilacak dan dapat dianalisis.

Dalam buku Cultural Software A Theory of Ideology, Jack Balkin berpendapat bahwa proses memetika dapat menjelaskan banyak ciri pemikiran ideologis. Bagi Balkin, apakah meme menjadi berbahaya atau maladaptif tergantung pada konteks lingkungan di mana mereka berada.

Dari dua kejadian laporan di atas, setidaknya menunjukan cara pandang ideologis pengacara Setnov - mungkin Setnov juga - yang melihat meme sebagai ancaman dan ekspresi yang berbahaya dalam positioning personal Anggota DPR RI dari dapil Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut.

Tersangka kasus korupsi KTP elektronik Setya Novanto (tengah) meninggalkan gedung KPK seusai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Selasa (21/11/2017). Ketua DPR tersebut menjalani pemeriksaan perdana selama lima jam usai ditahan oleh KPK terkait dugaan korupsi proek KTP elektronik.ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A Tersangka kasus korupsi KTP elektronik Setya Novanto (tengah) meninggalkan gedung KPK seusai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Selasa (21/11/2017). Ketua DPR tersebut menjalani pemeriksaan perdana selama lima jam usai ditahan oleh KPK terkait dugaan korupsi proek KTP elektronik.
Mereka mempersepsikan meme yang beredar selama ini sudah kelewat batas dan memiliki daya rusak yang luar biasa terhadap pribadi Setnov. Bisa jadi hal tersebut benar, masuk dalam karakteristik hate speech dan pencemaran nama baik.

Namun langkah yang ditempuh pengacara Setnov menjadi tidak berimbang dalam memahami narasi dan pesan publik yang semakin terbuka di sistem demokrasi. Daripada mengambil langkah hukum, ada baiknya membangun kontranarasi.

Jika dia benar dan tidak melakukan korupsi, akan lebih baik menjawab meme tersebut dengan meme yang berimbang. Setidaknya data berhadapan dengan data, informasi dengan informasi dan sejenisnya.

Mengapa ini penting? Agar masyarakat dapat tumbuh dalam peradaban informasi yang sehat dan penuh narasi, tanpa ketakutan yang menyertai. Proses diskusi ditandai dengan produksi meme yang kreatif, meski kontradiktif sekalipun.

Meme harus dipandang sebagai bentuk tanda (sign) dan pesan bahwa publik merespons terhadap sebuah aktivitas politik. Karenanya, daripada menganggapnya sebagai ancaman, ada baiknya melihatnya sebagai peringatan dini (social early warning system) terhadap aktivitas politik. Sebuah koreksi alamiah yang terjadi di ruang publik.

Disisi lain, karena pada umumnya konten meme diproduksi dengan cita rasa humor, ada baiknya tim pengacara Setnov melihat meme sebagai hiburan korektif. Tak usah terlalu serius dan tak mudah tersinggung.

Bukankan politisi itu bagai gelas kaca, harus transparan dan terlihat ruang hidupnya? Meskipun pada akhirnya ada ketidaksukaan dari publik, konsekuensi logis dari apa yang terlihat. Intinya: tak usah terlalu baper dengan Meme. It's just for fun.

 

EditorAmir Sodikin
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM