Menlu Retno: Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Memasuki Fase Kedua - Kompas.com

Menlu Retno: Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Memasuki Fase Kedua

Kristian Erdianto
Kompas.com - 23/11/2017, 12:57 WIB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Selasa (17/10/2017)KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Selasa (17/10/2017)

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menuturkan, saat ini proses pembangunan rumah sakit Indonesia di Myaung Bwe, Negara Bagian Rakhine, Myanmar, telah memasuki fase kedua.

Adapun fase kedua yakni pembangunan kompleks untuk dokter dan perawat. Sementara, fase pertama pembangunan sudah dilakukan pada 19 November 2017 lalu.

"Jadi kemarin itu groundbreaking untuk fase kedua. Fase pertama pengerasan tanah, pagar dan sebagainya sudah selesai," ujar Retno usai rapat koordinasi tingkat menteri terkait isu kemanusiaan Rohingya di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Kamis (23/11/2017).

Retno menuturkan, pembangunan rumah sakit tersebut merupakan langkah nyata Indonesia dalam membantu menyelesaikan isu kemanusiaan etnis Rohingya.

(Baca juga: Dalam KTT ASEAN, Indonesia Dorong Penyelesaian Masalah Rohingya)

Tak hanya pemerintah, kalangan masyarakat sipil dan LSM juga ikut berkontribusi dalam pembangunan rumah sakit yang ditargetkan selesai pertengahan tahun depan.

"Pembangunan rumah sakit itu kan kita lakukan bersama dengan masyarakat kita ya, jadi dengan LSM kita, dengan para donatur. Kemudian kita wujudkan dalam pembangunan rumah sakit. Baru nanti fase ketiga adalah pembangunan gedung utama dari rumah sakit," ucap Retno.

Para pengungsi Rohingya berjalan menyusuri daerah tak bertuan antara Bangladesh dan Myanmar di kawasan Palongkhali. Foto ini diambil pada 19 Oktober 2017.Munir UZ ZAMAN / AFP Para pengungsi Rohingya berjalan menyusuri daerah tak bertuan antara Bangladesh dan Myanmar di kawasan Palongkhali. Foto ini diambil pada 19 Oktober 2017.
Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan, pembangunan rumah sakit ini menghabiskan dana 1,8 juta dollar AS.

Biaya itu disediakan hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dengan masyarakat Indonesia termasuk PMI, berbagai LSM dan sektor swasta.

(Baca juga: Rohingya Bukan Isu Agama, Umat Muslim hingga Buddha Galang Bantuan)

Pembangunan rumah sakit itu akan melibatkan tenaga kontraktor lokal dan bahan-bahan material yang diadakan dari daerah sekitar di Myanmar dengan tujuan membantu meningkatkan peluang ekonomi masyarakat lokal selain menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap rumah sakit ini.

"Setelah selesai dibangun, Rumah Sakit Indonesia tersebut akan secara inklusif, tak memandang latar belakang, suku maupun agama, bagi seluruh masyarakat setempat," kata Arrmanatha.

Peletakan batu pertama ini menandakan dimulainya pembangunan tahap kedua pembangunan akomodasi staf medis dan tahap ketiga pembangunan gedung utama.

Tahap pertama pembangunan untuk pemetaan dan konstruksi pagar sebelumnya telah selesai sejak September 2017.

(Baca juga: Bantuan Indonesia untuk Rohingya Tiba di Myanmar )

Berdasarkan siaran pers Kementerian Luar Negeri, peresmian rumah sakit itu dilakukan tanpa dihadiri Menteri Luar Negeri Retno Marsudi karena tak ada jaminan keamanan yang diberikan militer Myanmar.

 Pengungsi Rohingya menaiki bukit setelah menyebrangi perbatasan Bangladesh-Myanmar di Coxs Bazar, Bangladesh, Jumat (8/9/2017).  REUTERS/Danish Siddiqui Pengungsi Rohingya menaiki bukit setelah menyebrangi perbatasan Bangladesh-Myanmar di Coxs Bazar, Bangladesh, Jumat (8/9/2017).
Alhasil, peresmian yang ditandai dengan peletakan batu pertama dilakukan oleh  Duta Besar RI untuk Myanmar Ito Sumardi dan menteri urusan Rakhine, perwakilan kementerian kesehatan Myanmar, perwakilan MERC, tokoh masyarakat setempat dan masyarakat agama Budha dan Islam.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi batal menghadiri acara ini karena imbauan dari pemerintah Myanmar yang menyebut lokasi pembangunan rumah sakit Indonesia berada di wilayah utara Rakhine yang dipandang rawan.

Pemerintah Myanmar tidak bisa memberikan pengamanan optimal sesuai standar untuk tamu resmi pemerintah setingkat menteri mengingat pasukan keamanan Myanmar sedang difokuskan menjaga pertemuan tingkat menteri Asia-Eropa di Naypyidaw yang juga dihadiri Retno.

Sebelum bantuan pendirian rumah sakit, Indonesia juga telah menyampaikan bantuan 1 juta dollar AS untuk pembangunan empat sekolah pada 2014, 10 kontainer bantuan kebutuhan dasar untuk warga Rohingya pada Desember 2016 dan pembangunan 2 sekolah di Sittwe yang telah diresmikan Retno Januari tahun ini.

Kompas TV Dompet Dhuafa mengoperasikan mobil klinik, yaitu layanan kesehatan klinik berjalan, bertujuan untuk menjangkau lebih banyak titik pengungsian.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKristian Erdianto
EditorBayu Galih
Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM