"Agak Mimpi Indonesia Punya Pemimpin Konsen Infrastruktur..." - Kompas.com

"Agak Mimpi Indonesia Punya Pemimpin Konsen Infrastruktur..."

Robertus Belarminus
Kompas.com - 06/10/2017, 18:04 WIB
Calon Presiden nomor urut 1 Prabowo Subianto dan nomor urut 2 Joko Widodo bersalaman usai debat capres 2014 putaran ketiga, di Hotel Holiday Inn, Kemayoran, Jakarta, Minggu (22/6/2014). Debat capres kali ini mengangkat tema Politik Internasional dan Ketahanan Nasional.  KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Calon Presiden nomor urut 1 Prabowo Subianto dan nomor urut 2 Joko Widodo bersalaman usai debat capres 2014 putaran ketiga, di Hotel Holiday Inn, Kemayoran, Jakarta, Minggu (22/6/2014). Debat capres kali ini mengangkat tema Politik Internasional dan Ketahanan Nasional.

JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivis dari Rumah Gerakan 98, Sulaiman Haikal mengajak publik mendukung presiden yang konsen terhadap pembangunan infrastruktur.

Hal tersebut disampaikan Sulaiman dalam diskusi di Warung Komando, di Jalan Dr Saharjo Nomor 1, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (6/10/2017), yang mengangkat tema "Evaluasi 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK".

Pemimpin yang layak didukung pada Pilpres 2019 mendatang menurut dia adalah Joko Widodo. Jokowi dianggap sebagai sosok yang konsen terhadap pembangunan infrastruktur.

"Saya harapkan masyarakat Indonesia, ayo dukung presiden yang bener-benar kerja memenuhi infrasturktur. Karena apa, ini agak mimpi kita punya pemimpin yang konsen terhadap infrastruktur," kata Sulaiman.

Membangun infrastruktur menurut dia merupakan kebutuhan riil masyarakat Indonesia. Selama ini, lanjut dia, Indonesia mengalami ketertinggalan.

(Baca: Elektabilitas Prabowo Jauh di Bawah Jokowi, Demokrat Lihat Ada Peluang untuk Agus)

Namun, Jokowi menurut dia dengan kondisi keuangan negara yang terbatas tetap berupaya untuk menggenjot pembangunan infrastruktur.

Ia tak yakin jika pemimpin lain akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Jokowi saat ini.

"Bayangkan, pemimpin lain belum tentu akan konsen dengan infrastruktur, bisa jadi dia lebih berkompromi kepada kekuatan-kekuatan politik, misalkan dengan membiayai ormas, atau bagi-bagi kepada parpol, dan sebagainya," ujar Sulaiman.

"Atau dia (pemimpin lain) memberi sogokan ke rakyat melalui subsidi yang memanjakan. Tujuannya untuk melanggengkan kekuasaan. Supaya masyarakat kelas menengah tidak bergejolak," tambah dia.

Dia mengatakan, anggaran infrastruktur terus naik. Tahun 2014 yakni Rp 204 triliun. Kemudian di 2016 menjadi Rp 315 triliun. Tahun ini diproyeksikan menjadi Rp 387 triliun.

Dampak pembangunan infrastruktur yang terkait konektivitas misalnya, membuat mobilitas warga meningkat signifikan.

"Pada 2014 penyeberangan hanya 60,2 juta jiwa, 2016 menjadi 66,2 juta jiwa. Lalu angkutan kereta api di 2014, 277 juta jiwa, 2016 (menjadi) 352 juta jiwa. Angkutan udara 164 juta jiwa 2014, menjadi 189 juta jiwa di 2016," ujar dia.

Sulaiman menyebut sederet prestasi Jokowi dalam pembangunan infrastruktur lainnya misalnya memperbaiki sarana dan prasarana di perbatasan Indonesia dan negara lain.

Ia juga memaparkan sejumlah kemajuan yang dicapai mantan Gubernur DKI Jakarta itu, misalnya menyamaratakan harga BBM di Papua, pemerataan proyek, angka kemiskinan dan pengangguran yang diklaim turun, pemenuhan atas pangan, pemenuhan perumahan, dan lainnya.

Kompas TV Anggota Komando Distrik Militer Banjarmasin bersama warga, bergotong royong membangun jalan dan jembatan di desa kawasan Sungai Gampa, Banjarmasin.

PenulisRobertus Belarminus
EditorSabrina Asril
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM