Kisah Pengiriman Foto Pertama Melalui Internet di Redaksi Harian Kompas - Kompas.com

Kisah Pengiriman Foto Pertama Melalui Internet di Redaksi Harian Kompas

Heru Margianto
Kompas.com - 13/09/2017, 10:48 WIB
Foto fotografer harian Kompas (alm) Julian Sihombing dari arena SEA Games Singapura 1993. Perenang Indonesia Wisnu Wardhana memekik gembira setelah menang sekaligus memecahkan rekor renang 100 meter gaya bebas Sea Games dengan waktu 51.81, hari Senin (14/6/1993) di Stadion renang Toa Payoh Singapura.KOMPAS/JULIAN SIHOMBING Foto fotografer harian Kompas (alm) Julian Sihombing dari arena SEA Games Singapura 1993. Perenang Indonesia Wisnu Wardhana memekik gembira setelah menang sekaligus memecahkan rekor renang 100 meter gaya bebas Sea Games dengan waktu 51.81, hari Senin (14/6/1993) di Stadion renang Toa Payoh Singapura.


KALAU wartawan tulis sudah menikmati kecanggihan komputer sejak Olimpiade Seoul 1988, Wartawan foto Kartono Riyadi (alm) dan rekan-rekannya masih tetap berjuang ke bandara setiap ada liputan.

Mereka baru menikmati kecanggihan teknologi lima tahun kemudian yaitu saat liputan SEA Games Singapura tahun 1993.

Baca: Kisah Pengiriman Berita Pertama Melalui Internet di Redaksi Kompas

Mantan wartawan Kompas Mamak Sutamat menuturkan kisah ini dalam bukunya "Kompas, Menjadi Perkasa Karena Kata".

Ceritanya, pada 1993 sejumlah wartawan ditugaskan berangkat ke Singapura untuk meliput SEA Games. Totok Purwanto, wartawan olahraga, berangkat belakangan karena harus menunggu sebuah alat untuk mengirim foto melalui sambungan Internet yang dijanjikan Kantor Berita Antara.

Alat yang ditunggu ini adalah alat canggih saat itu, sekelas kantor berita UPI (United Press Internasional). Lisensi penjualannya ada pada Kantor Berita Antara dan tidak mudah mendapatkannya.

Kompas mendapatkan alat ini mepet dengan waktu keberangkatan Totok. Alhasil, Totok harus belajar kilat menggunakan alat yang beratnya mencapai 30 kg tersebut.

Itu hanya alat untuk mengirim foto. Di kantor, JB Suratno, wartawan foto, juga belajar kilat dengan alat penerimanya.

Sudah alatnya berat, kantor Bea Cukai di Bandara Soekarno-Hatta tidak meloloskan peralatan ini karena harus didaftarkan dulu. Prosesnya berbelit-belit. Totok nyaris ketinggalan pesawat.

Beruntung, pesawat Garuda mengalami gangguan teknis sehingga keberangkatan diundur dua jam. Dengan napas tersengal, Totok masuk pesawat sambil menenteng beban 30 kg peralatan foto.

Malam harinya di Singapura, peralatan foto dioperasikan. Semua prosedur dilakukan dan Jakarta siap menerima. Tapi, tidak satu pun foto bisa terkirim.

Baru berjalan 30 persen, saluran terputus. Baru jalan 20 persen, putus lagi. Sudah jalan 80 persen, putus lagi.

Laporan wartawan Kompas dari arena SEA GAMES Singapura 1993.DOK. KOMPAS Laporan wartawan Kompas dari arena SEA GAMES Singapura 1993.

Arloji menunjukkan pukul 23.00. Deadline.

“Saya grogi dan merasa bersalah. Jangan-jangan dalam pelatihan kemarin ada yang lupa diajarkan, sehingga pengoperasian tombol-tombolnya tidak pas,” kisah Totok.

Lelah dan putus asa karena terus gagal hingga empat jam, Totok pun mengajak Kartono Riyadi makan.

“Kamu saja yang turun, saya titip bawakan nasi,” jawab Kartono.

Dengan langkah lunglai Totok turun dari hotel. Saat berjalan melintasi lobi telinganya mendengar suara sirene kecil, ngik…ngik…ngik…Suara itu persis suara mesin pengirim di kamar. Suara-suara yang membuatnya stres karena pengiriman foto berulangkali gagal.

Ia mencari sumber suara tersebut. Datangnya dari ruang operator hotel. Kebetulan pintu ruangan itu terbuka. Totok berdiri sejenak di depan pintu. Suara sirene kecil itu putus lalu berganti suara operator, “Halooo….halooo…klik.”

Muncul lagi suara sirene itu, ngik…ngik…ngik…kemudian hilang ditelan suara “halooo…halooo…klik” dari operator.

Totok masuk ke ruang operator dan bertanya suara apa itu. Operator di ruangan itu mengatakan bahwa suara tersebut adalah suara telepon dari salah satu kamar tamu.

Totok minta pada operator agar sambungan telepon ke kamar itu jangan diganggu atau dipotong. Namun, petugas hotel mengatakan bahwa ia harus tahu kode-kode apa yang dikirim karena menurutnya ini tidak biasa.

Totok meyakinkan petugas hotel bahwa itu adalah alat pengiriman foto, sama dengan peralatan komputer atau faksimili, bukan kode atau sandi-sandi.

“Coba tanyakan pada Telkom Singapura, apakah peralatan ini boleh beroperasi di sini,” pinta Totok pada petugas hotel.

Petugas itu pun menghubungi kantor Telkom Singapura dan mendapat jawaban bahwa peralatan itu bisa digunakan selayaknya komputer atau perangkat faksimili melalui jaringan telkom.

“Silakan pakai dan saya tidak potong lagi,” jawab operator.

Wartawan foto Kompas Kartono Riyadi di meja kerjanya 1987.KOMPAS/TONNY D WIDIASTONO Wartawan foto Kompas Kartono Riyadi di meja kerjanya 1987.

Totok segera mengontak Kartono agar kembali mengirim foto. Sementara Totok menunggu di ruang operator untuk memastikan aman.

Ternyata, setelah tidak diutak-atik operator, pengiriman berlangsung mulus. Pelajaran berharga menggunakan alat baru dan teknologi baru bernama Internet.

Sejak itu, pengiriman foto berjalan mulus. Foto-foto kejadian tengah malam bisa cepat sampai Jakarta.

Wartawan media lain dari Jakarta terheran-heran dan bertanya: pakai kargo udara apa, kok info kejadian pukul 23.00 bisa dimuat Kompas?

Kartono hanya tersenyum-senyum. Sejak SEA Games Singapura 1993, wartawan foto tidak lagi ngos-ngosan berlari ke bandara.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisHeru Margianto
EditorHeru Margianto
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM