Terpopuler: DPR Protes KPK, Penghina Iriana Ditangkap, Gerindra Batal Dukung Deddy Mizwar - Kompas.com

Terpopuler: DPR Protes KPK, Penghina Iriana Ditangkap, Gerindra Batal Dukung Deddy Mizwar

Kompas.com - 13/09/2017, 08:09 WIB
Ketua KPK Agus Rahardjo (tengah) bersama Wakil Ketua KPK Laode M Syarif (kedua kiri), Saut Situmorang (kiri), Basaria Panjaitan (kedua kanan) dan Alexander Marwata (kanan) mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (12/9). RDP tersebut membahas mekanisme dan tata kerja di Direktorat Pengaduan Masyarakat (Dumas) KPK. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Spt/17ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A Ketua KPK Agus Rahardjo (tengah) bersama Wakil Ketua KPK Laode M Syarif (kedua kiri), Saut Situmorang (kiri), Basaria Panjaitan (kedua kanan) dan Alexander Marwata (kanan) mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (12/9). RDP tersebut membahas mekanisme dan tata kerja di Direktorat Pengaduan Masyarakat (Dumas) KPK. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Spt/17

JAKARTA, KOMPAS.com - Rapat dengar pendapat antara anggota Komisi III DPR RI dan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Selasa (12/9/2017), diwarnai dengan silang pendapat kedua belah pihak. DPR merasa tidak puas dengan kerja KPK, bahkan tersinggung.

Informasi mengenai hal tersebut menjadi salah satu hal yang paling banyak dibaca di Kompas.com sepanjang Selasa kemarin. Selain itu, ada pula berita hangat soal penangkapan netizen yang dianggap menghina Ibu Negara Iriana Jokowi.

Berikut ini ringkasan artikel-artikel terpopuler Kompas.com kemarin.

Anggota DPR tersinggung sikap KPK

Anggota Komisi III DPR RI, Arteria Dahlan, tersinggung oleh sikap pimpinan KPK dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Gedung MPR/DPR/DPD RI, kemarin. Anggota Fraksi PDI Perjuangan itu mempersoalkan pimpinan KPK yang tidak pernah menyapa anggota parlemen dengan sebutan "Yang Terhormat".

Protes itu ia sampaikan pada hari pertama RDP sehari sebelumnya yang berlangsung hingga Senin (11/9/2017) malam. Rupanya, sepanjang pimpinan KPK menjawab pertanyaan dan memaparkan hasil kerja, Arteria menunggu-nunggu dipanggil "Yang Terhormat".

Di hari kedua RDP, Arteria kembali menyinggung etika pimpinan KPK yang menolak memberi izin politisi Hanura Miryam S Haryani untuk memenuhi undangan Pansus Hak Angket KPK. Saat itu, Miryam berstatus sebagai tahanan KPK.

Dalam surat kepada DPR, kata Arteria, KPK menuliskan, "...sesuai permintaan DPR RI maka KPK tidak dapat memenuhi permintaan dimaksud." Menurut dia, hal itu menunjukkan kurangnya etika pimpinan KPK dalam bernegara.

Baca juga:
- Tak Dipanggil Yang Terhormat, Politisi PDI-P Protes Pimpinan KPK
- Rapat Komisi III, Politisi PDI-P Sebut Pimpinan KPK Lecehkan Parlemen

Polisi tangkap penghina Ibu Negara

Aparat Polrestabes Bandung menangkap seorang pria berinisial DI, yang diduga telah mengunggah sebuah gambar bermuatan ujaran kebencian kepada Ibu Negara Iriana Jokowi.

Penangkapan mahasiswa berumur 21 tahun itu dilakukan pada Senin  (11/9/2017) setelah polisi menemukan teman wanita DI di dunia maya di Bandung. Dari saksi itulah, polisi mendapatkan alamat DI di Palembang, Sumatera Selatan. Polisi pun menjemputnya di Palembang dan membawa pelaku ke Bandung.

Dari pemeriksaan polisi, pelaku mengaku mengunggah gambar tersebut ke media sosial karena ia merasa kecewa terhadap pemerintah. Saat ini polisi menahan pelaku, berikut barang bukti berupa bendera dan gantungan kunci Hizbut Tahrir Indonesia, organisasi yang dibubarkan oleh pemerintah beberapa waktu lalu.

Ikuti beritanya di artikel berikut:
- Polisi Tangkap Pelaku Ujaran Kebencian terhadap Iriana Jokowi
- Kasus Penghinaan Iriana Jokowi, Pelaku Mengaku Tidak Suka Pemerintah

Gerindra batalkan dukungan untuk Deddy Mizwar

Partai Gerindra tiba-tiba menarik dukungan terhadap Deddy Mizwar dan Ahmad Saikhu sebagai calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat 2018. Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari DPP Partai Gerindra terkait hal ini.

Penarikan dukungan itu disampaikan oleh Ketua DPD Gerindra Provinsi Jawa Barat Mulyadi. Menurut dia, duet Deddy-Saikhu sulit direalisasikan karena keduanya dianggap belum siap mengemban tugas yang diamanatkan tersebut. Mulyadi menyebut bahwa Saikhu lebih suka  menjadi Wali Kota Bekasi.

Sementara itu, Deddy mengatakan belum menerima pemberitahuan resmi dari DPP Partai Gerindra terkait pembatalan dukungan tersebut. Ia yakin bahwa Ketua Umum DPP Gerindra Prabowo Subianto tidak akan mengingkari komitmennya untuk mendukung calon kepala daerah.

Selengkapnya dapat dibaca di artikel berikut:
- Pilkada Jabar, Partai Gerindra Batal Dukung Deddy Mizwar-Ahmad Saikhu
- Deddy Mizwar: Saya Percaya Prabowo Subianto Bisa Pegang Komitmennya
- Ketua Gerindra Jabar: Awal Pernyataan Dukungan untuk Deddy Mizwar Bukan dari Prabowo

EditorLaksono Hari Wiwoho
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM