Polisi Masih Tunggu Laporan Analisis PPATK Terkait Asma Dewi - Kompas.com

Polisi Masih Tunggu Laporan Analisis PPATK Terkait Asma Dewi

Ambaranie Nadia Kemala Movanita
Kompas.com - 12/09/2017, 18:36 WIB
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto saat ditemui di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (18/8/2017)Fachri Fachrudin Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto saat ditemui di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (18/8/2017)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, saat ini penyidik masih menunggu laporan hasil analisis dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait rekening tersangka ujaram kebencian, Asma Dewi.

Dari informasi yang didapatkan Polri, Dewi mentransfer uang sebesar Rp 75 juta ke rekening anggota kelompok Saracen.

"Nanti kita tahu aliran dana ke mana, akan menjangkau siapa jadi tersangka dan siapa jadi saksi," ujar Setyo di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Selasa (12/9/2017).

Baca: Siapa Asma Dewi, Ibu Rumah Tangga yang Transfer Rp 75 Juta ke Saracen?

Setelah mendapatkan LHA tersebut, penyidik bisa mengembangkan perkara Dewi.

Pengembangan itu untuk mengetahui soal peran Dewi, apakah termasuk anggota Saracen atau sebagai pihak pemesan.

"Nanti Polri mempunyai info yang akan dinerikan sesuai hasil LHA. Akan kita tunggu kalau sudah ada dari PPATK," kata Setyo.

Selain itu, polisi juga belum mendapatkan hasil analisis dari 14 rekening yang sebelumnya telah diserahkan ke PPATK.

Dari keempat belas rekening tersebut, diduga terjadi transaksi pemesanan konten Saracen.

Baca: Polisi Telusuri Aliran Rekening Saracen 3 Tahun ke Belakang

Sebelumnya, polisi telah menetapkan empat pengurus Saracen, yakni JAS, MFT, SRN, dan AMH sebagai tersangka.

Kelompok Saracen menetapkan tarif sekitar Rp 72 juta dalam proposal yang ditawarkan ke sejumlah pihak.

Mereka bersedia menyebarkan konten ujaran kebencian dan berbau SARA di media sosial sesuai pesanan.

Biaya tersebut meliputi biaya pembuatan website sebesar Rp 15 juta, dan membayar sekitar 15 buzzer sebesar Rp 45 juta per bulan.

Ada pula anggaran tersendiri untuk Jasriadi selaku ketua sebesar Rp 10 juta.

Selebihnya, biaya untuk membayar orang-orang yang disebut wartawan. Para wartawan itu nantinya menulis artikel pesanan yang isinya juga diarahkan pemesan.

Media yang digunakan untuk menyebar konten tersebut antara lain di Grup Facebook Saracen News, Saracen Cyber Team, situs Saracennews.com, dan berbagai grup lain yang menarik minat warganet untuk bergabung.

Hingga saat ini diketahui jumlah akun yang tergabung dalam jaringan Grup Saracen lebih dari 800.000 akun.

Kompas TV Benarkah ada sejumlah tokoh dan purnawirawan turut terlibat?

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisAmbaranie Nadia Kemala Movanita
EditorInggried Dwi Wedhaswary
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM