Patriot dalam Pemahaman Agus Yudhoyono - Kompas.com

Patriot dalam Pemahaman Agus Yudhoyono

Imelda Sari
Kompas.com - 14/08/2017, 06:20 WIB
Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute Agus Harimurti Yudhoyono berpidato saat peluncuran The Yudhoyono Institute di Jakarta, Kamis (10/8/2017). The Yudhoyono Institute diluncurkan untuk melahirkan generasi masa depan dan calon pemimpin bangsa yang berjiwa patriotik, berakhlak baik dan unggul. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/17ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute Agus Harimurti Yudhoyono berpidato saat peluncuran The Yudhoyono Institute di Jakarta, Kamis (10/8/2017). The Yudhoyono Institute diluncurkan untuk melahirkan generasi masa depan dan calon pemimpin bangsa yang berjiwa patriotik, berakhlak baik dan unggul. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/17

Tahun 2004 di Cikeas, Gunung Putri, Bogor, sebagai reporter saya mendapat kesempatan istimewa  mewawancarai Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) dan keluarga.  Dokumentasi video berjudul "SBY: The Rising Star" diambil dua bulan sebelum Pemilu Presiden 2004.

Ani Yudhoyono yang memberikan kesempatan tersebut kepada saya. Anak sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono ketika itu saya tanya tentang pandangannya mengenai sosok ayahnya?

"Beliau adalah role model saya," ujar Agus.

Lalu Agus menjelaskan dengan detil dan penuh semangat tentang sosok ayahnya dan saya ingat. Bagaimana hormat dan bangganya terhadap SBY. Bagaimana dengan Ani?

(Baca juga: Jalur Yudhoyono untuk Putra Sulung di Jakarta)

Ibu buat Agus segalanya lantaran menemani dan membacakan majalah Kuncung, disiplin dalam urusan sekolah namun selalu menjadi teman diskusi menyenangkan.

Adiknya, Edie Baskoro Yudhoyono atau Ibas, selalu yang  ia perhatikan dan menjadi soul mate.

Tahun berlalu, SBY sudah menjadi Presiden selama 7 tahun. Suatu waktu, di sela sela kegiatan di Istana Bogor, Ani baru saja usai hunting foto di Istana Bogor. Hujan sore itu menjadi jeda memotret dan Ani menunjukkan kepada saya sebuah foto.

Ani memotret SBY diskusi dengan Agus yang baru saja tiba dari tugas. Ani bilang begini, "Saya bersyukur sekali, Mel melihat bapak dan anak sudah bisa berdiskusi panjang. Tugas saya paripurna sudah, " ujar Ani pelan.

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama istri, Ani Yudhoyono dalam acara launching The Yudhoyono Institute di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (10/7/2017).KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama istri, Ani Yudhoyono dalam acara launching The Yudhoyono Institute di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (10/7/2017).
Saya terharu mendengarnya. Saya memahami maksud Ani. Sebagai seorang Ibu tugas yang berat adalah membimbing pendidikan anaknya untuk siap dan matang menjalankan kehidupannya di masa berikutnya.

Mei 2016, di Cikeas lagi. Perdebatan panjang terjadi di antara kami yang ikut rapat Pengurus Harian Terbatas Partai Demokrat.

Perdebatan terkait keinginan memajukan Agus di Pilkada DKI Jakarta. Salah satu yang paling keras tidak mengijinkan adalah Ibas.

"Gak bisa, harus mundur dari militer nanti kalau kalah gimana?" ujar Ibas.

Itu  ungkapan seorang adikyang amat sayang kepada kakaknya. Kami yang menginginkan Agus majuberargumentasi dan menjelaskan peluang di Pilkada DKI Jakarta.

Berikutnya, begitu keputusan sudah disepakati rapat Partai Koalisi, malam itu Ibas  menjemput Agus di Halim Perdana Kusuma untuk memastikan abangnya siap dengan segala resikonya di Pilkada DKI.

Kalau boleh jujur, keputusan Agus malam itu bersedia dan menerima maju di Pilkada DKI Jakarta membuat  SBY, Ani, Annisa, Ibas dan Aliya shock meskipun terlihat tegar.

Karir militer tamat, harus melalui kawah chandra dimuka yang peluangnya masih dalam kisaran 2.1 % survei Agustus 2016.

Annisa adalah segalanya untuk Agus. Ia adalah matahari yang selalu bersemangat dan mendorong suaminya terus fokus juga saat PIlkada DKI Jakarta.

Pilkada berlalu, kami semua harus ikhlas dengan hasil yang ada. Ramai yang ikut gerilya dan warga yang ramai di lapangan, belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan.

Cagub DKI Agus Yudhoyono dipeluk istrinya, Annisa Pohan, usai debat ketiga di Hotel Bidakara, Jumat (10/2/2017). Jessi Carina Cagub DKI Agus Yudhoyono dipeluk istrinya, Annisa Pohan, usai debat ketiga di Hotel Bidakara, Jumat (10/2/2017).
Kami semua shock atas kekalahan tersebut. Pidato Agus 15 Februari 2017 itu saat tahu ia kalah,  membuat semua orang kagum dan menaruh hormat padanya. Butuh waktu sebulan untuk mengembalikan semangat yang hilang.

Kisah selanjutnya, Agustus 2017 ini. Dengan langkah pasti dan senyum lebar, Agus yang berulang tahun ke-39 menyapa wartawan di Istana sebelum bertemu Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Agus memohon restu dan mengundang Presiden RI untuk hadir dalam launching The Yudhoyono Institute. Presiden Joko Widodo didampingi putra sulungnya Gibran Rakabuming.

Gibran sempat menjamu Agus dengan makanan bubur lemu dan gudeg.

Dalam suasana yang santai, Agus menepis berbagai spekulasi atas kehadirannya menemui Presiden Joko Widodo saat jumpa pers. Agus ke Istana semata-mata hanya untuk minta restu dan dukungan Presiden atas lembaga yang dipimpinnya.

Malam harinya, Agus sebagai Direktur Eksekutif, meluncurkan The Yudhoyono Institute yang dihadiri sekitar 1000 orangyang hadir dari berbagai kalangan di Djakarta Theater.

Sebelum bertemu Presiden Joko Widoao, satu demi satu putra-putri Presiden dihubungi, ditemui untuk menyampaikan undangan launching The Yudhoyono Institute.

Guruh Soekarno Putra dan Yenny Wahid menerima dengan tangan terbuka.

Usianya 39 tahun. Saya bersyukur bisa melihat dan mengikuti dari dekat perjalanan seorang anak muda yang cepat beradaptasi dalam politik.

Lulusan Harvard yang pernah bertugas dalam misi perdamaian di PBB saat masih menjadi anggota TNI ini tidak mudah patah. Ia juga fokus pada tujuan dan selalu mencari solusi terbaik.

Menurut Agus seperti disampaikan di Djakarta Theater, "Setiap orang adalah Patriot untuk bisa berkontribusi bagi negerinya."

Sambil mengingat pidato Agus, saya teringat catatan lama mata kuliah historiografi, "Setiap generasi akan melahirkan sejarahnya sendiri."

Sayup sayup terdengar, "Merah Putih teruslah kau berkibar" dari Cokelat dan mengingatkan saya 17 Agustus tinggal beberapa hari lagi.

Selamat jelang Hari Kemerdekaan.

EditorWisnu Nugroho
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM