Jalani Fungsi Keluarga, Mulailah dengan Kumpul 20 Menit dalam Sehari - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Frisian Flag

Jalani Fungsi Keluarga, Mulailah dengan Kumpul 20 Menit dalam Sehari

Kurniasih Budi
Kompas.com - 15/07/2017, 22:20 WIB
Ilustrasi kumpul keluarga.Thinkstock Ilustrasi kumpul keluarga.

LAMPUNG, KOMPAS.com- Keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Bahkan, perannya bisa jadi fondasi utama untuk membangun karakternya di masa depan.

Oleh karenanya, menjalankan fungsi keluarga tak bisa asal. Meski tak mudah, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty mengimbau keluarga Indonesia untuk memulai dengan kebiasaan berkumpul keluarga.

”Upayakan setidaknya (keluarga) dapat berkumpul 20 menit dalam sehari,” ujarnya saat berbicara pada puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXIV 2017 di Lampung, Sabtu (15/7/2017).

Bila waktu terbatas, kata Surya, setidaknya waktu sarapan sebelum beraktivitas atau makan malam dapat dijadikan momentum berkumpul keluarga.

Makan bersama, menurut dia bisa memperkuat rasa saling memiliki. Selain itu, seluruh anggota keluarga bisa terlibat dalam proses memasak makanan.

Dengan begitu, acara kumpul bersama akan jadi berkualitas.Catatannya, tiap anggota keluarga harus memerhatikan aturan main.

“(Syaratnya), tidak ada gawai alias no gadget, terdistraksi tayangan televisi atau alat elektronik lainnya,” ujarnya.

Langkah kedua yang juga perlu dilakukan, kata Surya adalah interaksi antar-anggota keluarga. Mereka perlu memiliki waktu khusus untuk saling bicara dan berbagi pengalaman.

Dampaknya ada pada kedekatan satu sama lain. Lagi-lagi, ia mengimbau bahwa Interaksi melalui gawai atau media sosial mesti dibatasi.

“Komunikasi langsung dengan bertatap muka menentukan komunikasi lebih berkualitas. Bahasa tubuh merupakan ungkapan jujur yang hanya bisa ditangkap bila bertemu langsung,” kata dia.

Dalam menjalankan fungsinya, Surya juga menjelaskan bahwa keluarga harus berdaya. Artinya, seluruh potensi, baik berupa keterampilan, olah pikir, dan pengetahuan akan diberdayakan.

“Setiap anggota keluarga memiliki potensi yang tidak sama satu sama lain. Bila potensi itu diterima dan dikembangkan, maka bukan tak mungkin akan bisa saling melengkapi,” imbuhnya.

Situasi tersebut, katanya, berpotensi membuat setiap anggota keluarga mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Keluarga dapat meningkatkan pendapatan, serta mampu mengatasi berbagai permasalahan dan tantangan hidup yang dialami.

Masa depan anak

Menjalankan fungsi keluarga sama dengan peduli dengan pembangunan karakter masa depan anak atau generasi mendatang. Oleh karenanya, Presiden RI Joko Widodo menempatkan keluarga dalam posisi kunci kemajuan bangsa.

Untuk mewujudkannya, pemerintah lewat BKKBN pernah mengimbau dengan menanamkan 8 fungsi keluarga.

Fungsi yang pertama adalah agama. Terdapat 12 nilai dasar yang mesti dipahami dan ditanamkan oleh setiap keluarga, yaitu: iman, takwa, kejujuran, tenggang rasa, rajin, kesalehan, ketaatan, suka membantu, disiplin, sopan santun, sabar dan ikhlas, serta kasih sayang.

Selanjutnya, keluarga memiliki sosial budaya. Penanaman sikap, seperti toleransi dan saling menghargai, gotong royong, sopan santun, kebersamaan dan kerukunan, kepedulian, dan cinta tanah air atau nasionalisme, ada di antaranya.

Selanjutnya, keluarga memiliki fungsi cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Jika seluruh fungsi itu diterapkan, niscaya terwujudlah keluarga yang berketahanan.

Pada imbauan yang disampaikan Surya, misalnya, ia memberikan catatan lain yang menurutnya wajib juga dilakukan oleh keluarga, yakni memupuk kepedulian dan berbagi.

“Penanaman sikap peduli di dalam keluarga nantinya akan berdampak pada lingkungan sekitar. Anak sulit peduli pada sesama jika orangtua tidak memiliki kepedulian di dalam keluarga,” lanjutnya.

Kepedulian bisa diterapkan dengan saling berbagi. Keluarga yang berkecukupan bisa mengajarkan anak untuk berbagi pada teman-temannya yang kurang beruntung.

Sikap ringan tangan dengan menolong tetangga yang sakit atau menjadi orangtua asuh bagi anak yang kurang beruntung adalah bentuk kepedulian dan berbagi.

Keluarga jadi kunci

Pada peringatan Hari Keluarga Nasional, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani menekankan bahwa kemajuan bangsa harus dimulai dari komunitas terkecil, yaitu keluarga. Orangtua mesti menjadi panutan dalam hidup yang sehat secara jasmani dan rohani.


"Keluarga yang sehat mampu berpengaruh positif pada lingkungan sekitarnya dan tentu saja akan bermanfaat bagi orang banyak," ujarnya, Sabtu (15/7/2017).

Saat ini, kata Puan, perlu dibangkitkan kembali semangat untuk menerapkan gaya hidup sehat. Tubuh yang sehat, tentu bisa didapat dengan asupan bergizi seimbang. Menu "4 Sehat 5 Sempurna" merupakan perwujudan dari makanan bergizi seimbang.

Puan menuturkan saat dirinya duduk di bangku Sekolah Dasar, poster menu "4 Sehat 5 Sempurna" tertempel di dinding kelasnya. Makanan dengan kandungan karbohidrat, protein, vitamin serta mineral yang diwakili oleh sayuran dan buah-buahan, serta susu.

"Itulah menu makanan untuk hidup sehat, yang sempurna dengan susu," ujarnya.

Sayangnya, data dari Nielsen 2014 menyebutkan bahwa konsumsi susu di Indonesia baru mencapai 12 liter per orang dalam setahun. Keadaan ini jauh lebih rendah dibandingkan negara–negara tetangga seperti Malaysia (39 liter), Vietnam (20 liter), dan Thailand (17 liter).

Di situlah, kata Puan, seharusnya keluarga berperan mengenalkan dan membiasakan. Lembaga pendidikan seperti sekolah juga perlu mengajarkan betapa bermanfaatnya menu "4 Sehat 5 Sempurna" itu.

Untuk mengedukasi anak-anak, pengenalan makanan bergizi seimbang dapat dilakukan lewat media yang menarik. Misalnya, poster dengan gambar menu makanan sehat.

"Anak-anak perlu dicontohkan secara nyata bagaimana cara hidup sehat, karena mereka adalah masa depan bangsa," katanya.

Pesan yang sama juga sejalan dengan kampanye Frisian Flag. Di usia 95 tahun, produsen dari produk-produk bernutrisi berbasis susu ini juga mengupayakan agar konsumsi susu di keluarga Indonesia bisa ditingkatkan.

Tujuannya tak lain adalah untuk menerapkan gaya hidup sehat sebagai resolusi keluarga. Harapannya, dengan begitu terbentuklah keluarga yang kuat, sehingga komunitas terkecil Indonesia itu pun mampu menjadi fondasi kokoh bagi pembentukan karakter generasi mendatang.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKurniasih Budi
EditorSri Noviyanti
Komentar

Terkini Lainnya

Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM