Ketua KPAI Khawatir Belajar 8 Jam Sehari Munculkan "Bullying" - Kompas.com

Ketua KPAI Khawatir Belajar 8 Jam Sehari Munculkan "Bullying"

Robertus Belarminus
Kompas.com - 17/06/2017, 14:46 WIB
Kompas.com/David Oliver Purba Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Sholeh

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komisi Perlindungan Anak ( KPAI) Asrorun Ni'am Sholeh mengatakan, kegiatan belajar delapan jam sehari lewat Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 berpotensi memunculkan kekerasan antarmurid di sekolah atau bullying.

Dia menilai, lewat penambahan jam belajar di sekolah ini, tidak akan menghilangkan praktik bullying, tapi cenderung meningkatkan.

"Dengan memperpanjangkan waktu ini mempunyai potensi kekerasan anak lebih tinggi," kata Asrorun dalam diskusi di sebuah radio di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (17/6/2017).

(Baca: Tidak Semua Daerah Cocok dengan Kebijakan Sekolah Lima Hari)

Ia khawatir penambahan jam belajar akan membuat siswa menjadi bosan yang kemudian bisa mengarahkan pada praktek bullying.

"Jadi penambahan jam sekolah tanpa disertai penguatan karakter guru akan berpeluang besar terjadinya peningkatan kekerasan anak," ujar Asrorun.

Menurut dia, sejak tahun 2014 sampai dengan saat ini kekerasan atau bullying terus terjadi.

Kasus bullying dan kekerasan di sekolah juga menduduki posisi ketiga setelah kasus anak berhadapan dengan hukum.

Seperti diberitakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy akan segera menerapkan kebijakan 8 jam belajar dengan lima hari sekolah di tahun ajaran 2017/2018.

Kebijakan itu merupakan implementasi dari program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang menitik beratkan lima nilai utama, yaitu religius, nasionalis, gotong royong, mandiri, dan integritas.

(Baca: Mendikbud: Belajar Delapan Jam Untungkan Madrasah)

Dia menjelaskan bahwa penguatan karakter tersebut tidak berarti siswa akan belajar selama delapan jam di kelas.

Namun, siswa akan didorong melakukan aktivitas yang menumbuhkan budi pekerti serta keterampilan abad 21.

Tak hanya di sekolah, lingkungan seperti surau, masjid, gereja, pura, lapangan sepak bola, musium, taman budaya, sanggar seni, dan tempat-tempat lainnya dapat menjadi sumber belajar.

Kompas TV Polemik Pemberlakuan Sekolah 5 Hari Dalam Sepekan

 

PenulisRobertus Belarminus
EditorKrisiandi
Komentar

Close Ads X