Setya Novanto Menjawab... - Kompas.com

Setya Novanto Menjawab...

Aiman Witjaksono
Kompas.com - 05/06/2017, 07:55 WIB
KOMPAS/ WISNU WIDIANTORO Ketua DPR Setya Novanto (kiri) seusai bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin (16/11/2015). Dalam pertemuan itu dibahas beberapa hal, termasuk klarifikasi bahwa dirinya tidak pernah menggunakan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam negosiasi PT Freeport.

“Sejak belasan tahun lalu, sejumlah kasus hukum menyebutnya, tapi hingga saat ini, tak ada satupun yang berhasil menjeratnya.”

Ya, sejak tahun 2001 namanya disebut dalam sejumlah kasus korupsi. Di tahun itu namanya disebut pertama kali terkait kasus hak tagih piutang Bank Bali yang menyebabkan kerugian negara nyaris Rp 1 triliun dari total tagihan sebesar Rp 3 triliun.

Kasus Bank Bali masih menyisakan buron Djoko Tjandra yang juga merupakan bos Grup Mulia. Dalam dakwaan, jaksa menyebut nama Setya Novanto.

Belakangan kasus yang sempat memaksa Setya bolak-balik ke gedung Bundar Kejaksaan Agung berakhir dengan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).

Kasus lainnya adalah korupsi PON ke-12 Riau yang melibatkan Gubernur Riau Rusli Zainal. Rusli kini menjalani vonis 14 tahun dari Mahkamah Agung. Nama Setya disebut dalam dakwaan jaksa.

Setya dalam statusnya sebagai saksi melenggang dari kasus ini, sementara semua pihak yang terlibat sudah menjalani sidang di pengadilan.

Yang paling anyar, nama Setya kembali disebut jaksa di Pengadilan Tipikor dalam kasus E-KTP yang melibatkan dua terdakwa pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto. Setya disebut sebagai pihak yang mengatur pembagian uang bersama dengan Nazaruddin dan Andi Narogong.

Setya disebut menerima fee dari proyek KTP Elektronik sebesar Rp 574 miliar. Status Setya adalah saksi dan dicegah ke luar negeri hingga saat ini.

Peta peta politik berubah

Tak juga lekang dari ingatan soal kasus rekaman “papa minta saham” yang menghukum secara etika Setya Novanto karena bertemu di luar kapasitasnya sebagai Ketua DPR. Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) mengetuk palu di akhir 2015 silam.

Pada saat yang hampir bersamaan Kejaksaan Agung juga mengusut kasusnya secara hukum lewat pasal “permufakatan Jahat” terkait isi rekaman yang dianggap berpotensi merugikan keuangan negara.

Namun Setya Novanto tidak terima dan mengajukan perlawanan di Mahkamah Konstitusi (MK). Akhirnya, pada pertengahan tahun 2016 MK memutuskan bahwa rekaman tidak mengikat secara hukum.

Setya pun kembali menang.

Situasi berubah. Nama baik Setya dipulihkan. Ia juga berhasil merebut tampuk kepemimpinan Partai Golkar sebagai Ketua Umum periode 2016-2020. Kursi RI 6 alias Ketua DPR yang sempat ditinggalkan Setya karena kasus “papa minta saham” berhasil direbut kembali. Peta politik berubah seketika.

Sosok Setya yang bos besar

Sesungguhnya ada sejumah kasus lainnya yang terlalu panjang jika dibahas dalam tulisan ini. Pada intinya, Setya Novanto disebut banyak kalangan sebagai sosok “sakti yang licin” meski punya banyak kontroversi.

Saya sesungguhnya sudah melakukan pendekatan ke ketua DPR ini sejak tahun 2015 pasca- kasus “papa minta saham” mencuat. Namun kesempatan untuk bertemu dengannya baru saya dapatkan satu setengah tahun kemudian.

Saya membayangkan akan berhadapan dengan sosok bos besar yang dingin dan sangar. Bayangan saya salah total. Seratus delapan puluh derajat berbalik setelah saya mengenalnya seharian penuh.

Setya Novanto ternyata adalah sosok yang hangat dan ramah, serta mudah dekat dengan orang yang baru dikenalnya.

Tantangan saya untuk Setya Novanto

Pekan lalu saya bersamanya selama sehari penuh melakukan wawancara untuk program AIMAN di KompasTV. Saya katakan kepadanya bahwa saya akan menantangnya dengan pertanyaan-pertanyaan terkait sosoknya yang licin dan banyak kontroversi.

“Apakah Pak Setya bersedia?” tanya saya.
“Apapun pertanyaannya akan saya jawab,” jawab dia cepat.

Saya pikir luar biasa. Ada banyak pertanyaan memang yang saya ajukan kepadanya, termasuk yang paling sensitif sekalipun, yakni hubungannya dengan Presiden Joko Widodo dan Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan.

Seperti diketahui sebelumnya, Presiden sempat mengungkapkan kemarahannya saat mengetahui namanya dicatut dalam rekaman pertemuan Novanto dengan bos PT Freeport kala itu, Maroef Sjamsuddin.

Saya juga menanyakan bagaimana ia bisa disebut di banyak kasus, namun tak ada satupun kasus yang berhasil menjeratnya, apa yang ia lakukan?

Terakhir, saya memiliki kesempatan langka untuk mewawancarai Setya Novanto dengan sang istri Deisti Novanto, termasuk mengajaknya untuk menjawab pertanyaan kuis dari saya.

Ada kejutan dalam pertanyaan kuis yang ternyata lebih sering dijawab sang istri.

Bagaimana lengkapnya? Siapkan adrenalin Anda dalam menyimak tayangannya. Catat, Senin (5/6/2017) pukul 20.00. Ekslusif, hanya di KompasTV.

Sampai bertemu, Salam.

EditorHeru Margianto
Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM