Keteladanan dalam Sepotong Bak Cang dan Kebhinekaan dalam Perahu Naga Halaman 1 - Kompas.com

Keteladanan dalam Sepotong Bak Cang dan Kebhinekaan dalam Perahu Naga

Aji Chen Bromokusumo
Kompas.com - 30/05/2017, 11:00 WIB
Kahfi Dirga Cahya Peserta kompetisi Perahu Naga dalam Festival Cisadane 2016, Tangerang, Minggu (31/7/2016)z

Hari ini, Selasa tanggal 30 Mei 2017 adalah Hari Perayaan Pe Cun; dalam penanggalan Lunar adalah tanggal 5 bulan 5, yang disebut dengan Duan Wu Jie. Jika terdengar asing, Pe Cun ataupun Duan Wu Jie, mungkin lebih akrab dengan Hari Raya Bak Cang atau Lomba Perahu Naga (Dragon Boat Festival).

Ingatan melayang ke masa kecil di Semarang dulu…

Papa biasa akan mengumumkan kapan akan ada sembahyang apa, entah itu sembahyang Bak Cang, sembahyang ronde, sembahyang meja dua, sembahyang ceng beng, dsb. Salah satu yang paling kami nantikan adalah sembahyang Bak Cang.

Beberapa hari sebelumnya, biasa di Pasar Gang Baru akan mulai kelihatan di sana sini penjualan bak cang. Bergelantungan di kios-kios di sepanjang Gang Baru itu berbagai harga, berbagai rasa dan berbagai pembuat mempromosikan bak cang-nya yang paling lezat.

Kami biasa membeli yang standar saja, tak lupa kicang juga kami beli. Di keluarga kami yang sudah bergenerasi lahir di Indonesia, sudah tidak bisa lagi membuat sendiri bak cang ini. Tradisi yang makin luntur apalagi di masa opresif waktu itu. Pada saat yang sama, kelunturan itu yang harus terus dijaga supaya tidak hilang sama sekali.

Beda bak cang dan kicang bisa dilihat dari buntalan daun bambunya. Kalau bak cang buntalan daun bambunya berwarna lebih gelap dibanding kicang. Warna daun bambu yang beda ini karena bak cang di dalamnya berisi daging (babi) yang diberi segala macam bumbu, yang biasanya hasil akhirnya berwarna gelap.

Sementara kicang (disebut juga dengan kuecang di beberapa tempat lain) adalah tanpa isi apa-apa, hanya ketan semua. Warna kicang sendiri ada yang putih, ada yang semu kekuningan.

Bak cang terbuat dari beras yang dicampur dengan beras ketan, sementara kicang full semua dari beras ketan. Tradisi, rasa, isi, dan bumbu serta pelengkap bak cang di tiap daerah beda, di tiap negara beda juga.

Di Semarang seingat saya rasa bak cang-nya cenderung manis. Sementara di kota-kota lain di Indonesia bervariasi, ada yang cenderung manis, asin, gurih, ada yang isinya campur telor asin, kemudian jamur, sosis merah, cabe rawit dsb.

Untuk yang Muslim, jangan kuatir, sekarang juga sudah ada yang tanpa daging yang diharamkan umat Islam tsb. Ada bermacam-macam isi bak cang sekarang. Ada bak cang isi ayam bahkan bak cang vegetarian juga ada. Kalau bak cang, di keluarga kami biasa dimakan sambil dicocol kecap manis atau kecap asin.

Waktu kami masih kecil, kami sangat menikmati acara makan bak cang bersama, bahkan kadang dibawa juga sebagai sangu ke sekolah, yang bikin teman sekolah yang tidak pernah tahu terheran-heran.

Makan kicang adalah favorit kami karena kadang makan bak cang bikin mblenger, dan paling malas kalau sudah seliliden (serpihan daging terselip di sela gigi). Sementara kicang yang kenyal-harum ini sangat nikmat dimakan dengan dicocol dengan gula cair. Gula pasir yang dipanaskan pelahan dengan api kecil sehingga jadi gula cair bening kekuningan dan ditambahkan daun pandan, adalah yang paling tepat untuk makan kicang.

Tetapi kami sering sekali melakukan modifikasi atau eksperimen lidah sendiri. Secara prinsip, karena dimakan dengan gula cair, kadang kami anak-anak mencoba dengan sirop frambors, sirop vanila, sirop jeruk, sirop mocca, seadanya apa saja ketika itu. Semua rasa khas itu masih lekat di ingatan saya, serasa masih di ujung lidah dan baru saja terjadi.

Menurut penuturan Papa dan Mama saya dulu, di Semarang, di kali Banjir Kanal, kemudian di Kali Kuping yang melintas di dekat Kelenteng Gang Lombok Tay Kak Sie, masih bisa dilayari kapal-kapal besar. Pada waktu itu jika hari Pe Cun tiba, diadakan lomba perahu naga.

Perahu-perahu kecil yang dihias dengan kepala naga akan didayung berlomba antara satu dengan yang lain. Sampai dengan detik ini saya menuliskan ini, belum pernah sekalipun saya menonton lomba perahu naga di Semarang. Yang saya dengar terakhir, di Jawa Tengah, setelah diperbolehkannya kembali perayaan-perayaan semacam ini, di Welahan, dekat Rembang, juga di banyak tempat di pesisir utara Pulau Jawa kembali disemarakkan dengan lomba perahu naga ini.

Sementara di Taiwan dan Hong Kong sudah menjadi tradisi tahunan yang jadi atraksi menarik turis dan menjadi daya jual tersendiri untuk pariwisata di sana. Yang pernah saya tonton dari TV, keramaian dan kemeriahan perlombaan perahu naga ini sungguh memikat, ditingkahi dengan gebukan tambur yang ritmis dan rancak, terlihat perahu-perahu yang dihias indah melaju membelah air.
 
Asal usul

Dari semua kesimpangsiuran kisah yang beredar dapat dirangkum dalam versi yang paling populer: Peringatan atas Qu Yuan
 
Qu Yuan (339 SM – 277 SM) adalah seorang menteri Raja Huai dari Negara Chu pada masa Negara Berperang (Zhan Guo Shi Dai, 475 SM – 221 SM). Ia adalah seorang pejabat yang berbakat dan setia pada negaranya. Ia banyak memberikan ide untuk memajukan negara Chu, bersatu dengan negara Qi untuk memerangi negara Qin.

Namun sayang, ia dikritik oleh keluarga raja yang tidak senang padanya, yang berakhir pada pengusirannya dari ibukota negara Chu. Ia yang sedih karena kecemasannya akan masa depan negara Chu kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai Yu Luo.

Ini tercatat dalam buku sejarah 'Shi Ji' tulisan sejarawan Sima Qian. Lalu menurut legenda, ia melompat ke sungai pada tanggal 5 bulan 5. Rakyat yang kemudian merasa sedih kemudian mencari-cari jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri.

Page:
EditorAna Shofiana Syatiri
Komentar