Soal Kebebasan Pers, SBY Singgung Hoaks yang Menyasar Dirinya - Kompas.com

Soal Kebebasan Pers, SBY Singgung Hoaks yang Menyasar Dirinya

Rakhmat Nur Hakim
Kompas.com - 07/05/2017, 14:07 WIB
Rakhmat Nur Hakim/Komas.com SBY berpidato soal hoaks yang sempat menimpanya di Pilkada DKI. Pidato tersebut ia sampaikan seusai menandatangani petisi antihoaks di depan Lapangan Bumigora, Mataram, NTB, Minggu (7/5/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Demokrat yang berlangsung pada 7-9 Mei 2017 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), diawali dengan penandatanganan petisi antihoaks di media massa.

Penandatanganan petisi tersebut diselenggarakan Demokrat sekaligus memperingati hari kebebasan pers dunia pada 3 Mei lalu.

Dalam sambutan seusai menandatangani petisi tersebut bersama warga Mataram, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) lantas menyinggung hoaks yang menyasar dirinya saat Pilkada DKI Jakarta berlangsung.

Saat menyinggung hoaks yang menimpa dirinya, suara SBY meninggi. Ia merasa saat Pilkada DKI Jakarta banyak mendapatkan pemberitaan bermuatan hoaks terkait dirinya dan keluarga.

Presiden keenam RI itu juga menyinggung penggerudukan rumahnya oleh sekumpulan mahasiswa, tanpa mengetahui sebabnya.

"Mestinya hukum ditegakkan. Bagi kami yang ingin keadilan sejati penegakan hukum tak boleh tebang pilih," ujar SBY di Lapangan Bumigora, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (7/5/2017).

"Pemberantasan hoaks dan fitnah tak boleh tebang pilih. Negara harus adil menegakan hukum. Polisi harus adil, semua harus adil," kata dia.

(Baca juga: SBY: Pemberantasan Hoaks dan Fitnah Tidak Boleh Tebang Pilih)

Karena itu, ia menginginkan pers di Indonesia merdeka, adil, dan bertanggung jawab.

"Pers tak boleh terlalu membela pihak tertentu, terlalu menghajar pihak lain, namanya tak adil. Kita ingin di negeri ini keadilan tegak, tak tebang pilih," kata SBY.

SBY memang menanggapi serius hoaks yang menimpa dirinya. Bahkan ia sampai menggelar konferensi pers, yakni saat muncul tuduhan jadi auktor intelektual di balik demonstrasi besar-besaran pada 4 November 2016.

(Baca: SBY: Info Intelijen Demo 4 November Digerakkan Parpol, Itu Fitnah dan Menghina)

SBY langsung bereaksi dengan menggelar konferensi pers di kediamannya di Cikeas, Bogor. Kendati demikian tak jelas siapa yang dimaksud SBY sebagai pihak yang menuduh.

Selain itu SBY juga menggelar konferensi pers saat dituduh meminta fatwa terkait kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sebagai terdakwa.

(Baca juga: SBY Bicara soal Fakta Percakapan dengan Ma'ruf Amin pada 7 Oktober)

Kompas TV Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono beberapa kali mengeluarkan komentar yang dinilai sebagai upaya untuk menarik simpati publik. SBY juga seolah melontarkan kritik kepada pemerintahan Joko Widodo. Dari seluruh mantan presiden RI bisa disebut presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono adalah sosok yang sering menggelar konferensi pers dan pidato kritik pedas pada pemerintah disertai keprihatinan. Yang paling baru saat Ketua Umum Partai Demokrat itu menyampaikan pidato politik dalam rangka Dies Natalis partainya. SBY menyindir pemerintah dengan menyebut bahwa penegakan hukum masih tebang pilih.

PenulisRakhmat Nur Hakim
EditorBayu Galih
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM