Mendikbud Berupaya Tekan Praktik Intoleransi di Sekolah - Kompas.com

Mendikbud Berupaya Tekan Praktik Intoleransi di Sekolah

Kristian Erdianto
Kompas.com - 03/05/2017, 16:23 WIB
KOMPAS.com/Kristian Erdianto Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat ditemui usai menghadiri pembukaan Hari Kebebasan Pers Sedunia, di Jakarta Convention Center, Rabu (3/5/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menegaskan bahwa pihaknya tengah berupaya untuk menekan praktik intoleransi di lingkungan sekolah.

Menurut Muhadjir, setiap sekolah telah diwajibkan membuat kegiatan yang bertujuan membangun rasa solidaritas dan tenggang rasa antarpara siswa.

"Sudah ada kegiatan yang melibatkan banyak aspek untuk membangun solidaritas dan tenggang rasa," ujar Muhadjir usai menghadiri pembukaan Hari Kebebasan Pers Sedunia, di Jakarta Convention Center, Rabu (3/5/2017).

Muhadjir berharap upaya pendidikan karakter melalui kegiatan tersebut mampu menekan praktik intoleransi.

Menurut dia, kecenderungan sikap intoleran siswa berasal dari lingkungan luar sekolah.

Oleh sebab itu, mantan rektor Universitas Muhammadiyah itu juga memerintahkan kepada seluruh Kepala Dinas Pendidikan untuk melakukan pengawasan yang ketat terhadap seluruh kegiatan siswa di luar sekolah.

"Mudah-mudahan jika nanti semua sudah dilakukan pendidikan karakter, itu nanti bisa tercakup masalah sikap-sikap intoleran," tutur Muhadjir.

"Saya juga minta kepala-kepala dinas agar ketat mengawasi kegiatan yang ditawarkan dari pihak luar ke sekolah," kata dia.

Sebelumnya, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud melakukan penelitian terkait perilaku intoleransi di sekolah.

Peneliti Puslitjakdikbud, Kemendikbud, Nur Berlian Venus Ali yang melakukan penelitian ini dari Juli-September 2016 mengatakan, penelitian ini dilatarbelakangi berdasarkan suvei SIDP tahun 2015 yaitu masih ada sikap atau persepsi siswa SMA Negeri yang tidak sesuai dengan nilai-nilai nasionalis.

"Sikap tersebut antara lain 8,5 persen setuju dasar negara diganti dengan agama, dan 7,2 persen setuju (eksistensi) gerakan ISIS," kata Nur kepada Kompas.com, Selasa malam (2/5/2017).

Penjelasan soal penelitian tersebut bisa dibaca dalam berita "Asal Muasal Penelitian Kemendikbud dan Temuan Sikap Intoleransi di Sekolah".

PenulisKristian Erdianto
EditorSandro Gatra
Komentar

Close Ads X