Rabu, 29 Maret 2017

Nasional

Pesona SBY yang Dinilai Pudar dan Rasionalnya Pemilih Jakarta

Kamis, 16 Februari 2017 | 09:57 WIB
Kristian Erdianto Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono saat memberikan keterangan pers terkait tuduhan Antasari Azhar di kediamannya, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (14/2/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil pencoblosan Pilkada DKI Jakarta 2017 mulai terlihat meski belum diumumkan secara resmi oleh KPUD DKI Jakarta sebagai penyelenggara.

Berdasarkan hasil hitung cepat Litbang Kompas, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni yang sempat berada di peringkat pertama pada survei awal justru merosot perolehan suaranya.

Hasil akhir hitung cepat Litbang Kompas menunjukkan Agus-Sylvi hanya memperoleh 17,37 persen suara.

Sementara itu, posisi pertama dan kedua masing-masing diduduki oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat dengan perolehan 42,87 persen suara serta Anies Baswedan-Sandiaga Uno dengan perolehan 39,76 persen suara.



Dukungan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada menit-menit akhir kampanye tidak membuahkan hasil.

Kehadiran SBY yang cukup intensif di kampanye Agus-Sylvi pada hari-hari terakhir, baik di kampanye akbar maupun media sosial, nyatanya belum mampu mendongkrak perolehan suara Agus-Sylvi.

"Saya ini sebetulnya seorang veteran. Saya dulu berdiri di panggung kampanye pada pemilihan presiden tahun 2004 dan 2009. Mestinya, saya sudah pensiun. Tetapi, mengapa kali ini saya turun gelanggang karena saya melihat situasi yang memprihatinkan. Situasi Jakarta dan situasi Tanah Air kita," kata SBY pada apel siaga Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni di GOR Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (4/2/2017).

Bahkan, intensitas kicauan SBY di Twitter juga belum mampu menghasilkan banyak hal. Begitu pula beberapa konferensi pers yang digelarnya sehari sebelum pemungutan suara untuk Pilkada DKI berlangsung.

Upaya menggalang simpati yang ditebar lewat penyamaan karakter antara dia dan putra sulungnya yang kerap difitnah juga tak berefek pada hari H di TPS.

Menanggapi hal tersebut, pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris, menilai, ada dua hal yang tengah terjadi, yakni memudarnya pesona SBY dan rasionalnya pemilih di Jakarta.

"Keduanya terjadi dan Agus-Sylvi akhirnya merasakan. Padahal, sebelum debat mereka tinggi surveinya, tetapi setelah debat merosot. Itu bukti masyarakat Jakarta rasional," kata Syamsuddin saat dihubungi, Kamis (16/2/2017).

Ia menilai, meskipun SBY mengklaim telah berhasil memimpin Indonesia selama dua periode, dan hal itu seolah juga akan dilakukan anaknya di Jakarta, masyarakat Jakarta pada akhirnya membandingkannya dengan kinerja Presiden Joko Widodo selama 2,5 tahun ini.

"Dari situ masyarakat, khususnya yang di Jakarta, bisa menimbang klaim SBY yang disampaikan semasa kampanye Agus-Sylvi," tutur Syamsuddin.

(Baca juga: Pernyataan dan "Tweet" SBY Dinilai Pengaruhi Elektabilitas Agus-Sylvi)

Terlebih lagi, kata Syamsuddin, masyarakat Jakarta menyaksikan sendiri program yang ditawarkan masing-masing pasangan calon saat debat.

Ia menganggap program yang ditawarkan Agus-Sylvi bisa jadi dinilai tidak solutif dan tidak konkret.

"Makanya, kalau kita lihat kan penentunya saat debat. Ini pesan bagi para politisi kalau era pencitraan sudah berlalu. Pemilih, khususnya di Jakarta, semakin rasional," kata dia.

Kompas TV Hasil suara versi quick count yang ketat semakin memperjelas adanya peta persaingan dari ketiga pasangan calon selama berkampanye hingga pemungutan suara.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Rakhmat Nur Hakim
Editor : Bayu Galih
TAG: