Perlukah Memoles Citra Presiden Trump? - Kompas.com

Perlukah Memoles Citra Presiden Trump?

Algooth Putranto
Kompas.com - 07/02/2017, 08:59 WIB
Elle Decor/Getty Images Presiden AS Donald Trump mulai menjalankan tugas eksekutifnya di Ruang Oval, Gedung Putih, Amerika Serikat.

KOMPAS.com - Baru dua pekan berlalu sejak Donald Trump resmi menjadi Presiden ke-45 Amerika Serikat. Banyak yang skeptis mencibir, banyak pula yang optimitis karena tak sabar menantikan roda pemerintahan Pesiden Trump bergulir untuk membuat Amerika Serikat kembali besar.

Repotnya, belum sampai seumur jagung, justru sudah ada kejutan dari tim komunikasi Istana Kepresidenan Amerika Serikat. Dimulai dengan tingkah Juru Bicara (Jubir) Gedung Putih Sean Spicer dalam konferensi pers pertama di Gedung Putih yang agresif menyerang wartawan atas tuduhan "berita palsu" tentang sepinya proses inagurasi Presiden Trump.

Tak hanya melontarkan kritik dengan suara tinggi dan keras, Spicer pun memilih meninggalkan ruangan konferensi pers tanpa memberikan kesempatan kepada wartawan untuk bertanya. Tingkah Spicer itu jelas menuai kritik tajam para praktisi humas (public relations) di Amerika.

Sebut saja para mantan jubir presiden berlontaran. Mulai dari Ari Fleisher (jubir George W. Bush), Jay Carney (jubir Barack Obama) hingga Daniel Pfeiffer mantan Direktur Komunikasi Gedung Putih di masa Obama.

Badai cibiran itu tak kunjung reda saat Penasehat Komunikasi Presiden, Kellyanne Conway yang sama ajaibnya ketika diwawancarai di televisi justru menambah perbendaharaan istilah komunikasi dengan menyebut apa yang disampaikan Spicer adalah ‘fakta alternatif’. Jawaban spontan yang sama artinya Conway dan Spicer senada dengan Presiden Trump yang ngotot upacara inagurasinya super meriah!

Profil tim komunikasi Presiden Trump yang mengejutkan sejatinya sudah nampak sejak akhir tahun lalu ketika Jason Miller, yang sebetulnya dipilih Donald Trump sebagai Direktur Komunikasi Gedung Putih, memilih untuk tidak akan menerima pekerjaan itu.

Akibat keputusan Miller, posisi Jubir dan Direktur Komunikasi dirangkap Spicer yang dikawal Hope Hicks, Direktur Komunikasi Strategis Gedung Putih yang dari sisi pengalaman masih terhitung junior meski sudah cukup lama membantu Donald Trump dan Ivanka Trump.

Mitra Spicer lain? Terdapat nama Daniel Scavino Jr. yang menjadi Direktur Media Sosial Gedung Putih selama ini dikenal luas gemar mengelola ‘kebenaran versi Trump’ melalui media sosial. Rekam jejak yang jelas tidak membantu kerja Spicer untuk memoles citra Presiden Trump.

Pada sisi lain, dengan kondisi merangkap peran, Spicer yang termasuk senior di Partai Republik rupanya memang sangat siap sebagai garda terdepan bagi Donald Trump yang memposisikan diri sebagai tokoh antagonis bagi Barack Obama yang cenderung moderat.

Dengan kejutan-kejutan yang terus terjadi hingga artikel ini ditulis, sejatinya justru konsistensi citra antagonis Donald Trump sejak menjadi calon presiden. Tentu saja menarik untuk ditunggu adalah strategi komunikasi apa yang akan dijalankan oleh Gedung Putih dalam tataran komunikasi internasional. Amerika Serikat sebagai sumbu negara demokrasi tentu sangat memahami bahwa komunikasi politik adalah keniscayaan.

Tidak sekadar menyodorkan juru bicara yang handal, namun mempersiapkan jenis komunikasi yang tepat dalam usaha membangun citra yang positif melalui media. Sebuah pekerjaan besar yang ditangani oleh Executive Office Building yang berkantor di sayap kanan Gedung Putih.

Sayap Kanan dari Gedung Putih tersebut akan merumuskan topik apa yang harus dikomentari, bagaimana mengomentarinya, bahkan sampai pada pemilihan tempat dan waktu, jika perlu hingga tata busana dan ekspresi yang tepat untuk menyampaikannya.

Menariknya meski bekerja di belakang panggung pertunjukan, strategi komunikasi sangatlah vital di tengah rezim komunikasi viral. Dia serupa dapur redaksi sebuah media massa. Strategi komunikasi adalah paduan perencanaan komunikasi (communication planning) dengan manajemen komunikasi (communication management) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Untuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi harus mampu menunjukkan bagaimana strategi dapat dijalankan. Dalam arti kata pendekatan (aproach) bisa berbeda sewaktu-waktu tergantung pada situasi dan kondisi. Sebagai contoh, kapan Presiden harus tampil di TV, kapan Presiden cukup mencuit di Twitter hingga bagaimana berpakaian hingga berpose atau bertingkah laku yang jika diperlukan difoto untuk disebarluaskan.

Secara singkat, strategi komunikasi adalah keseluruhan perencanaaan, taktik, cara yang akan dipergunakan guna melancarkan komunikasi dengan memperhatikan keseluruhan aspek yang ada pada proses komunikasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Sebagai sebuah sistem, strategi komunikasi adalah proses yang kompleks, saling melengkapi dan dilakukan secara konstan. Agar berjalan baik, mirip pemain bola, harus ada pelatih/manajer (perancang strategi) dan pemain (pelaksana strategi).

Repotnya baru dua pekan bekerja, West Wing Gedung Putih rupanya telah konsisten dengan citra Donald Trump. Apakah hal tersebut akan merugikan? Bisa saja sebagian menganggukan kepala, sementara sebagian tidak.

Mengapa tidak? Becermin pada kasus Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang tak kalah hebohnya dengan Trump, dimana sejak awal justru citra keras dan beradalan itu yang kemudian dia jual sebagai narasi utamanya.

Kita tentu masih bagaimana Duterte berkoar keras terhadap siapa saja. Mulai dari Presiden Barack Obama hingga pemimpin umat Katolik Paus Fransiskus jadi korban mulut Presiden karena mengkritisi kebijakan tembak mati bagi pengedar narkoba.

Presiden Duterte bahkan lebih lugas dibanding Presiden Trump, tak perlu lewat juru bicara Kepresidenan Filipina, Ernesto Abella untuk marah pada media. Duterte langsung menantang media untuk tidak meliput dirinya usai menuding jurnalis yang tewas karena memiliki catatan pribadi buruk.

Menariknya meski Duterte cenderung agresif dan menjadi ciri khas tersendiri pasca pemerintahan Presiden Benigno Simeon Cojuangco Aquino III, rupanya sikap Duterte yang dijalankan konsisten tersebut merebut simpati bagi masyarakatnya, bahkan media Filipina yang awalnya menentang Duterte memilih untuk melunak.

Jadi apakah sikap Presiden Trump merupakan tanda-tanda kemunduran dari Amerika? Rasanya tidak, karena toh selama ini, bukankah Pemerintahan Amerika Serikat di luar Barack Obama yang dicitrakan ramah dan plural, sudah kebal dengan citra arogan sebagai negara Super Power? Dalam kondisi apapun negara manapun akan tetap butuh Amerika Serikat dan tentu saja Presiden Donald Trump.

EditorBambang Priyo Jatmiko

Komentar