Menristek Dikti Minta Perguruan Tinggi Tak Naikkan Uang Kuliah - Kompas.com

Menristek Dikti Minta Perguruan Tinggi Tak Naikkan Uang Kuliah

Kompas.com - 19/01/2017, 10:40 WIB
Kontributor Malang, Andi Hartik Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir saat menghadiri 2016 International Management Accounting Symposium 'The Frontiers of Accounting' di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang, Senin (5/12/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meminta Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum atau PTNBH tidak menaikkan uang kuliah tunggal tahun ini.

Permintaan ini diungkap Menristek Dikti, meskipun menurut ketentuan perguruan tinggi dengan status itu berwenang menentukan sendiri besaran uang kuliah tunggal.

"Berdasarkan peraturan pemerintah, menteri tidak perlu ikut campur menentukan besaran uang kuliah untuk PTNBH. Tapi semua universitas yang termasuk PTNBH bertanggung jawab pada menteri," kata Nasir di Jakarta, Kamis (19/1/2017).

"Kami meminta agar PTNBH untuk tidak menaikkan UKT, mengingat harga-harga kebutuhan pokok pada saat ini juga naik," kata dia.

Dia berharap pengelola perguruan tinggi memperhatikan kemampuan masyarakat dan meminta mereka tidak membebani masyarakat dengan menaikkan uang kuliah.

Saat ini tercatat ada 11 PTNBH, yakni Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Hasanuddin, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Dwikorita Karnawati menyatakan, universitas akan mengkoreksi besaran uang kuliah tunggal.

"Terutama UKT yang kategori 6. Untuk kategori 6, katakan yang paling mahal bayarnya Rp 15 juta per semester. Tapi itu disamakan untuk orangtua yang penghasilannya Rp 10 juta per bulan," kata Dwikorita.

Masalah yang kemudian muncul adalah adanya orangtua yang merasa mendapat perlakuan tak adil karena mereka yang penghasilannya Rp 10 juta per bulan digolongkan bersama dengan konglomerat berpenghasilan ratusan juta per bulan.

Karena itu, UGM akan mengoreksi uang kuliah tunggalnya.

(Indriani/ant)

Kompas TV Pemulung yang Sukses Meraih Gelar Sarjana

EditorBayu Galih
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM