Sore-sore, "Rampok Plastik" Kejutkan Kota Kasablanka - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Tempo Scan Pacific Tbk

Sore-sore, "Rampok Plastik" Kejutkan Kota Kasablanka

Sri Noviyanti
Kompas.com - 28/04/2016, 20:17 WIB
KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Sigi Wimala setelah selesai rampok plastik di Kota Kasablanka, Kamis (28/4/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengunjung pusat belanja Kota Kasablanka, Kamis (28/4/2015) petang, dikejutkan dengan aksi beberapa orang yang tiba-tiba mendatangi satu outlet ke outlet lain. Mereka adalah para "rampok plastik".

Rampok yang satu ini menukar plastik belanja para pengunjung dengan tas belanja untuk berulang kali pakai. Setelah kaget, para pengunjung yang disambangi para rampok bukan marah, melainkan malah senang.

“Mengambilnya tidak memaksa. Mereka mau dan memberi dengan senang hati kok karena kami tukar juga dengan tas belanja berulang kali pakai,” ujar Sigi Wimala, selebriti yang ikut bagian dalam program"Rampok Plastik’ itu.

Program rampok plastik diadakan untuk sosialisasi tas belanja berulang kali pakai Tempo Scan Love Earth  (TSLE), dari pabrikan Tempo Scan.

Secara resmi, tas belanja itu didistribusikan per 1 Mei 2016 di toko-toko ritel di 23 kota yang menerapkan plastik berbayar. Akan ada 740.000 tas ditebar di semua wilayah itu. Konsumen bisa mendapatkan secara gratis tas ini bila membeli produk Tempo Scan senilai minimal Rp 50.000.

Insentif

“Sejak ada kebijakan plastik berbayar, kami (Tempo Scan) pelajari mekanismenya. Kami ingin ikut mengubah perilaku masyarakat dengan mengurangi pemakaian atau penggunaan kantong plastik,” ujar Presiden Direktur PT Tempo Scan Pacifc Tbk, Handojo S Muljadi, saat konferensi pers, Kamis.

KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Sossialisasi tas belanja berulang kali pakai 'Tempo Scan Love Earth', Kamis (28/4/2016).

Agar menjadi kebiasaan, konsumen yang berbelanja kembali dengan membawa tas tersebut akan mendapat pula insentif. Bentuk insentif itu adalah diskon belanja 5 persen untuk semua produk Tempo Sca, atau gratis pulsa ponsel senilai 10 persen dari total belanja.   

“Ada yang bilang habit itu bisa terbentuk saat aktivitas terus diulang selama 40 hari. Semoga diawali dengan insentif, perilaku masyarakat bisa diubah pelan-pelan. Paling tidak, setelah 40 hari, akan ada rasa bersalah bila memakai kantong plastik,” harap Sigi.

Merujuk riset dari Jenna Jambeck dan kawan-kawan pada 2015, Indonesia merupakan negara penyumbang nomor dua terbanyak sampah plastik ke laut. Sampah yang dihasilkan mencapai 187,2 juta ton. Riset ini pula yang mendasari kebijakan plastik berbayar oleh pemerintah.

“Sampai-sampai ada prediksi kalau pada 2050 jumlah sampah plastik di laut bisa lebih banyak dari jumlah ikan," kata Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tuti Hendrawati Minarsih, di acara yang sama.

Menurut Tuti, bila tidak ada intervensi dari sekarang atas kebiasaan penggunaan plastik maka situasinya akan menjadi berbahaya. "Kami mewakili Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Tempo Scan,” ujar dia.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisSri Noviyanti
EditorPalupi Annisa Auliani
Komentar

Terkini Lainnya

Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM