Senin, 22 Desember 2014

News / Nasional

Partai Politik Berbasis Massa Islam Menjungkirbalikkan Survei

Kamis, 10 April 2014 | 06:22 WIB
KOMPAS/HERU SRI KUMORO Logo dan nomor urut partai politik peserta Pemilu 2014 terpasang di lobi Gedung RRI, Jakarta, Rabu (26/2/2014). Komisi Penyiaran Indonesia diminta tegas dalam menindak pelanggaran dalam peraturan siaran kampanye yang beberapa waktu terakhir kerap terjadi.
KOMPAS.com — Sepanjang 2013 hingga saat terakhir menjelang Pemilu Legislatif 2014, beragam survei dan pengamat memperkirakan partai-partai politik berbasis massa Islam tak akan lagi mendapatkan suara signifikan. Namun, beragam hasil hitung cepat, baik quick count maupun exit poll, Rabu (9/4/2014), menjungkalkan semua perkiraan itu.

Dari lima partai politik berbasis massa Islam yang menjadi peserta Pemilu 2014, hanya Partai Bulan Bintang (PBB) yang terbukti terpuruk perolehan suaranya berdasarkan perhitungan sementara hasil pemilu legislatif. Selebihnya? Melejit di atas kisaran 6 persen, termasuk partai-partai yang dihajar pemberitaan negatif seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Lima partai berbasis massa Islam yang menjadi peserta Pemilu 2014 adalah Partai Kebangkitan Bangsa/PKB (nomor urut 2), PKS (3), Partai Amanat Nasional/PAN (8), PPP (9), dan PBB (14). Pemilu 2014 mengikutsertakan 12 partai politik di tingkat nasional dan 3 partai politik Aceh, dengan dua partai politik nasional memiliki nomor urut setelah partai lokal Aceh.

Hitung cepat Kompas per Kamis (10/4/2014) pukul 05.45 WIB dengan 93 persen sampel mendapatkan perolehan suara partai-partai tersebut berkisar antara 6,7 persen hingga 9,13 persen, kecuali untuk PBB yang hanya mendapatkan 1,5 persen suara. Rinciannya, PKB mendapatkan 9,13 persen suara, PKS 6,99 persen, PAN 7,49 persen, dan PPP 6,7 persen.

KOMPAS.com Hasil hitung cepat Kompas per Kamis (10/4/2014) pukul 05.45 WIB.

Bandingkan dengan perkiraan berdasarkan serial survei Kompas yang terakhir dilansir pada 9 Januari 2014. Menurut survei ini, PKB diperkirakan hanya akan mendapatkan kisaran suara antara 4,1 persen hingga 5,1 persen. Adapun PKS bahkan terpantau melorot dari 3,3 persen pada survei pertama pada pertengahan 2013 menjadi 2,3 persen pada survei terakhir.

Survei "meramalkan" PAN hanya mendapatkan dukungan di kisaran 1,7 persen berdasarkan survei pertama hingga 3,2 persen merujuk survei seri terakhir. Sementara perolehan suara PPP digambarkan naik-turun di rentang terendah 3,6 persen pada survei pertama untuk turun menjadi 2,4 persen pada survei terakhir meski sempat naik ke 4,8 persen pada survei kedua.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bahkan pada survei terakhir sebelum pemilu legislatif yang dirilis pada Minggu (2/2/2014) menyebutkan PKS merupakan satu dari empat partai yang tak akan ke Senayan (Baca: Survei LSI: 4 Parpol Terancam Tak Lolos ke Parlemen). Mereka memperkirakan PKS hanya akan mendapatkan suara 2,2 persen. Partai lain berbasis massa Islam yang menurut LSI tidak lolos adalah PBB, dengan perkiraan perolehan suara 0,7 persen.

Peneliti LSI, Adjie Alfarab, saat merilis survei itu mengatakan, dengan rentang kesalahan 2,9 persen dan 30,1 persen dari 1.200 persen responden belum menentukan pilihan, nasib PKS tak akan tertolong. Menurut dia, kalaupun pemilih yang belum menentukan pilihan saat survei digelar pada 6 hingga 16 Januari 2014 itu dibagi rata, suara PKS diperkirakan tak akan lebih dari 3,15 persen.

Sementara itu, beberapa pengamat dalam analisisnya menyebutkan beberapa alasan yang menguatkan dugaan partai politik berbasis massa Islam akan turun perolehan suaranya. (Baca: Mengapa Suara Parpol Berbasis Massa Islam Melorot?)

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Haryanto, mengatakan, partai Islam tidak mengoptimalkan nilai pembeda di tengah pasar pemilih. "Kedua, partai Islam gagal mengelola harapan publik," ujar dia.

Gun Gun mengatakan, partai politik berbasis massa Islam pun gagal memfungsikan diri di tengah konstituen. Selain itu, imbuh dia, basis ideologi dalam perjuangan partai-partai tersebut sudah memudar.

Selain itu, Gun Gun pun mengkritik ego sektoral partai politik berbasis massa Islam sehingga enggan memulai komunikasi politik di antara mereka. Padahal, komunikasi tersebut diperlukan untuk membangun kekuatan riil. "Kenyataannya partai-partai Islam hanya menjadi pelengkap penderita dari partai-partai besar," ucapnya.

Kepala Laboratorium Ilmu Politik dan Rekayasa Kebijakan FISIP Universitas Brawijaya Malang, Faza Dhora Nailufar, berpendapat persoalan-persoalan yang dijabarkan Gun Gun itu adalah pekerjaan rumah bagi partai politik berbasis massa Islam. "Dalam berbagai survei yang kami lakukan, ketertarikan para pemilih, terutama pemilih muda, terhadap partai-partai Islam itu sangat rendah," ujar dia.





Penulis: Palupi Annisa Auliani
Editor : Palupi Annisa Auliani