Minggu, 31 Agustus 2014

News / Nasional

KPK Ingin Mempercanggih Alat Sadap

Rabu, 25 September 2013 | 20:28 WIB
KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA Ketua KPK, Abraham Samad menemui Warga Pendukung Pemberantasan Korupsi di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (4/10/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berharap bisa mempercanggih alat sadap guna kepentingan penyelidikan ataupun penyidikan. Alat sadap akan diperbaharui jika lembaga antikorupsi tersebut mendapat anggaran dari Dewan Perwakilan Rakyat.

"Mudah-mudahan kalau diberikan anggaran oleh DPR, insya Allah akan kita lakukan (percanggih alat sadap)," ujar Ketua KPK Abraham Samad di Jakarta, Rabu (25/9/2013).

Sebelumnya, Indonesia membeli alat antisadap seharga 5,6 juta dollar AS. Alat tersebut merupakan produk pabrikan Inggris, Gamma TSE Ltd. Menurut Abraham, hal itu bukan berarti ancaman untuk KPK. KPK justru menilai pihaknya dapat bekerja sama dengan TNI untuk memberantas korupsi.

"Sama sekali tidak (merasa terancam). Kita berterima kasih karena kita bisa bekerja sama untuk memerangi kejahatan terutama kejahatan korupsi," kata Abraham.

Sebelumnya, Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Publik Brigadir Jenderal TNI Sisriadi menegaskan, pihak Kementerian Pertahanan (Kemenhan) tak akan menyalahgunakan alat antisadap tersebut untuk kepentingan politik atau pihak tertentu.

Menurut dia, pengadaan peralatan intelijen itu digunakan agar proses pertukaran informasi antara Bais TNI dan kantor-kantor Atase Pertahanan RI di seluruh dunia dapat berlangsung dengan aman. Alat tersebut diperlukan untuk menjamin bahwa pengiriman data atau informasi strategis tidak terganggu atau tersadap pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro juga menegaskan bahwa peralatan intelijen yang dibeli Kemenhan itu akan digunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Dia mengatakan, alat itu tidak akan digunakan untuk intelijen level bawah, seperti intelijen kriminal atau intelijen ekonomi. Dengan kata lain, peralatan tersebut akan digunakan bagi intelijen strategis.

Penulis: Dian Maharani
Editor : Hindra Liauw