Sabtu, 1 November 2014

News / Nasional

IPW: Teror Polisi Tunjukkan Wibawa Polisi Menurun

Rabu, 7 Agustus 2013 | 16:13 WIB
DHONI SETIAWAN Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane

JAKARTA, KOMPAS.com — Maraknya serangkaian teror terhadap aparat polisi menunjukkan bahwa wibawa polisi di masyarakat mulai menurun. Dampaknya, para penjahat yang biasanya hanya berani melakukan penyerangan terhadap masyarakat sipil tak bersenjata kini sudah mulai berani menyerang aparat yang tengah bertugas.

"Sepertinya, para penjahat di Jakarta makin nekat saja, mereka tidak hanya menjadikan warga biasa sebagai target kejahatannya, kini polisi pun jadi sasarannya. Salah satu penyebab berkembangnya kasus ini adalah karena polisi makin tidak berwibawa di depan masyarakat sehingga banyak penjahat uji nyali 'menantang' polisi," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane melalui keterangan pers yang diterima wartawan, Rabu (7/8/2013).

Selain penembakan terhadap anggota Polsek Cilandak, Aiptu Dwiyatna, pada hari ini, setidaknya ada dua peristiwa penyerangan lain terhadap polisi. Pertama, penembakan terhadap anggota Satlantas Polres Jakarta Pusat, Aipda Patah Saktiyono di Cirendeu, Tangerang Selatan, pada 27 Juli lalu.

Kedua, adanya upaya perampokan terhadap empat polisi yang terjadi di Kemayoran. "Keempat polisi dengan dua sepeda motor yang sedang bertugas di Kemayoran itu sempat menjadi sasaran penjahat yang hendak merampok sepeda motornya. Untung polisi tersebut bertindak cepat hingga satu dari empat penjahat yang bersenjata golok itu berhasil ditembak," ujarnya.

Neta mengatakan, fenomena penyerangan terhadap aparat kepolisian ini sebenarnya sudah marak sejak tiga tahun terakhir. Dulu, penjahat menjadikan kantor polisi sebagai sasaran. Kemudian, seiring berjalannya waktu, para penjahat mulai berani melakukan pengeroyokan terhadap anggota polisi yang bertugas.

"Apalagi mereka melihat bahwa polisi sekarang sangat tidak terlatih dan terlalu gampang dipecundangi," tandasnya.

Melihat banyaknya aksi serangan tersebut, Neta mengatakan agar polisi dapat memaksimalkan kemampuan yang dimiliki sehingga tidak ada lagi kasus "uji nyali" yang dilakukan penjahat terhadap anggota kepolisian.

Seperti diberitakan, seorang anggota Unit Pembinaan Masyarakat Polsek Cilandak, Aiptu Dwiyatwna, tewas setelah timah panas menerjang kepala kanan belakangnya di Jalan Otista, Ciputat, Rabu (7/8/2013) subuh.

Dwiyatna ditembak saat hendak pergi shalat subuh sekaligus mengikuti kuliah tujuh menit di Masjid Raya Lebak Bulus. Acara itu merupakan acara rutin yang digelar Polsek Cilandak setiap bulan Ramadhan. Kejadian serupa pernah terjadi pada 27 Juli 2013 sebelumnya.

Anggota Satuan Lalu Lintas Wilayah Jakarta Pusat, Aipda Patah Saktiyono, ditembak pelaku tak dikenal di Jalan Cirendeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, pukul 04.30 WIB. Patah yang kala itu tengah berangkat dari rumahnya di Bojongsari, Depok, didekati dua orang yang menggunakan sepeda motor. Satu di antaranya mengeluarkan sepucuk senjata api dan melepaskan tembakan ke arah dada Patah. Pelaku hingga kini belum tak terungkap.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Dani Prabowo
Editor : Hindra Liauw