Senin, 21 April 2014

News / Nasional

Segera Ungkap Pelaku Penembakan Polisi!

Rabu, 7 Agustus 2013 | 15:52 WIB
KOMPAS.com/KURNIA SARI AZIZA Lokasi terjadi penembakan terhadap anggota Binas Polsek Cilandak, Aiptu Dwiyana, di Jalan Ottista, Ciputat, Tangerang Selatan. Dwiyatna ditembak hingga tewas oleh pelaku tak dikenal dalam perjalanan ke Masjid Raya Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (7/8/2013) subuh.


JAKARTA, KOMPAS.com
— Kepolisian didesak segera mengungkap kasus-kasus penembakan anggota kepolisian di sekitar Jakarta. Selain untuk nama baik institusi Polri, pengungkapan yang cepat ialah agar masyarakat tidak cemas.

"Jangan sampai kejadian ini berlalu begitu saja yang akan mengurangi harga diri Polri. Siapa pelakunya dan apa motifnya harus cepat disidik. Masyarakat perlu cepat tahu supaya timbul rasa tenang dan tidak bertanya-tanya," kata anggota Komisi III DPR Martin Hutabarat di Jakarta, Rabu (7/8/2013).

Hal itu dikatakan Martin menyikapi penembakan Aiptu Dwiyatna (50) oleh orang tak dikenal ketika melintas di Jalan Otista, dekat Rumah Sakit Sari Asih, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu subuh. Martin mengatakan, Kepolisian harus konsisten melakukan razia untuk menyita senjata api ilegal yang beredar di masyarakat. Di tempat-tempat hiburan, kata dia, banyak praktik jual beli senjata api ilegal.

Pengawasan ketat, tambah politisi Partai Gerindra itu, juga perlu dilakukan terhadap pembuat senjata api rakitan yang jumlahnya sangat banyak. Dengan demikian, peredaran senjata api gelap di masyarakat dapat ditekan.

"Pimpinan Polri kita minta agar mempersiapkan aparat polisi supaya lebih berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan mereka dalam menjalankan tugasnya. Sebab, anggota Polri sekarang menjadi sasaran," katanya.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane, menilai penjahat di sekitar Jakarta semakin nekat jika melihat penembakan Aiptu Dwiyatna. Tidak hanya warga, penjahat sudah menyerang polisi. Kasus tersebut merupakan kasus ketiga dalam sebulan terakhir. Dua kasus sebelumnya ialah penembakan polisi di Cireunde Raya, Ciputat, dan upaya perampokan terhadap empat polisi di Kemayoran.

Neta mengatakan, fenomena sikap nekat ini muncul sejak tiga tahun terakhir. Awalnya, kantor polisi yang menjadi sasaran perusakan. Belakangan, polisi yang menjadi sasaran.

"Salah satu pnyebab berkembangnya kasus ini adalah karena polisi makin tidak berwibawa di depan masyarakat sehingga banyak penjahat uji nyali menantang polisi. Apalagi mereka melihat bahwa polisi-polisi sekarang sangat tidak terlatih," kata Neta.

Untuk itu, Neta berharap para polisi mawas diri dan melatih diri dengan maksimal agar profesional. Jika polisi di lapangan berwibawa dan disegani, kata dia, tidak ada lagi penjahat yang nekat.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Sandro Gatra
Editor : Caroline Damanik