Kamis, 21 Agustus 2014

News / Nasional

Ditegur Presiden, Menteri Malah Sibuk "Tampil" daripada Bekerja

Selasa, 16 Juli 2013 | 13:33 WIB
Kompas.com/SABRINA ASRIL Wakil Ketua DPR Pramono Anung

JAKARTA, KOMPAS.com
 — Kemarahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rapat kabinet terbatas di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, pekan lalu, terkait kasus di Lapas Tanjung Gusta dan kenaikan harga daging sapi, tak langsung diikuti perubahan di lapangan, terutama soal kenaikan harga daging sapi. Alih-alih bekerja dan mencari solusi, para menteri justru dinilai lebih sibuk "mempercantik" dirinya jelang perhelatan politik 2014.

"Saya melihat banyak sekarang ini dalam pemerintahan terlalu sibuk untuk bersiap-siap diri, mempercantik diri, menggantengkan dirinya untuk persiapan tahun 2014. Kalau mereka tidak bisa mengerjakan hal yang ada di depan mata, rakyat akan mencatat dan berikan hukuman," ujar Wakil Ketua DPR Pramono Anung di Kompleks Parlemen, Selasa (16/7/2013).

Sebagai pimpinan DPR, lanjut Pramono, dirinya betul-betul mengharapkan penanganan pemerintah terkait kenaikan harga, apalagi nanti menjelang hari raya Idul Fitri harga diprediksi akan kembali melonjak.

"Maju capres monggo-monggo saja, enggak ada salahnya. Tetapi, jangan kemudian tugas utamanya diabaikan, tidak dijalankan dengan baik. Kalau tidak mampu, menteri itu ganti saja!" ujar Pramono.

Menurut politisi PDI Perjuangan ini, amarah Presiden yang ditunjukkan dalam rapat kabinet terbatas beberapa waktu lalu masih tak mempan. Hal ini terbukti dengan kinerja para menteri yang tidak juga berubah dan bertindak cepat mengatasi persoalan harga.

"Menurut saya, marahnya Presiden masih kurang keras walaupun sudah marah. Sebab, saya tidak melihat setelah teguran diberikan, kemudian menteri itu mengambil jalan keluar yang signifikan yang bisa mempunyai dampak secara langsung perubahan harga itu," ucap Pramono.

Kompas.com/SABRINA ASRIL Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa memberikan penjelasan soal langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk menstabilkan harga daging sapi, Sabtu (13/7/2013), di Landasan Udara Halim Perdanakusuma.

SBY marah


Presiden SBY tak bisa menahan amarahnya kepada para menteri dalam rapat terbatas, Sabtu lalu. Meski dengan nada datar, pernyataan SBY langsung menyindir para menteri terkait, seperti Menteri Pertanian Suswono dan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan soal kenaikan harga daging sapi.

"Daging sapi saya kira instruksi saya sudah sangat jelas, Wapres juga sangat jelas, Menteri Perekonomian juga sudah pimpin beberapa kali pertemuan, tapi implementasinya lama. Terus terang saya tidak sabar, sama dengan tidak sabarnya rakyat, mbulet," ujar Presiden SBY.

SBY juga mengingatkan para pembantunya untuk memiliki tiga rasa, yakni sense of crisis, sense of urgency, dan sense of responsibility.

"Saudara lihat pasar tidak? Saudara dengarkan social media tidak? Mentan harus punya sense of crisis, Kabulog, Mendag, sense of urgency dan sense of responsibility," ujar SBY.

SBY menegaskan bahwa rapat kali ini harus merumuskan aksi secepatnya. Dalam hitungan hari, SBY berharap sudah ada perubahan harga daging sapi yang kini tak terkontrol.

"Ingat kasus kejadian kebakaran ladang di Riau kemarin, begitu all out, bersinergi, tidak saling tunggu, berkoordinasi dengan baik, cepat sekali dalam waktu satu minggu hampir selesai," imbuh SBY.

Saat ini, harga daging terus merangkak naik dari yang sebelumnya Rp 50.000 kini sudah mencapai Rp 70.000-Rp 100.000 pada Juli 2013. Kenaikan harga daging sapi tersebut merupakan salah satu kenaikan lima komoditas bahan pangan yang melonjak akhir-akhir ini. Impor daging sapi pun akan dilakukan untuk menstabilkan harga. Namun, realisasi impor ini terlambat.

Menteri BUMN Dahlan Iskan menuding keterlambatan realisasi impor daging sapi karena sulitnya perizinan yang diberikan pemerintah. Sebelumnya, Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) akan memasok sebanyak 800 ton daging sapi beku asal Australia dengan menggunakan angkutan udara supaya bisa masuk ke pasar dalam waktu dekat.

Penulis: Sabrina Asril
Editor : Caroline Damanik