Sabtu, 1 November 2014

News / Nasional

Teroris Depok Tak Gentar Hadapi Sidang

Kamis, 23 Mei 2013 | 17:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ahmad Sofyan dan Muhammad Thorik duduk di tengah ruang sidang mengenakan baju tahanan berwarna oranye. Tak ada raut wajah tegang di antara dua tersangka kasus terorisme itu. Keduanya dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa kasus terorisme Arief Hidayat di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (23/5/2013).

Sebelum sidang dimulai, Sofyan kerap bercanda dengan Thorik. Sofyan terlihat jahil dengan menjewer telinga Thorik berkali-kali. Terasa kehangatan dalam ruangan itu sebelum sidang dimulai. Jaksa Penuntut Umum kemudian meminta Sofyan untuk memberi kesaksian terlebih dahulu. Thorik pun meninggalkan ruang sidang. Sofyan mengaku mengenal Thorik lewat Arief.

"Arief mengenalkan saya dengan Thorik. Si Thorik ada keinginan untuk melakukan jihad," kata Sofyan.

Kesaksian pun dibeberkan Sofyan kepada Majelis Hakim. Dia menyatakan terlibat dalam ledakan bom di Beji, Depok, beberapa waktu lalu. Namun, Arief tidak ada dalam peristiwa itu. Arief diketahui berperan mencarikan tempat kontrakan untuk merakit bom. Setelah Sofyan selesai memberi kesaksian, Thorik diminta memasuki ruang sidang. Kedua teroris ini selalu mengumbar senyum. Sofyan bahkan kembali menjewer telinga Thorik saat berpapasan di pintu masuk ruang sidang.

Arief, Sofyan, dan Thorik merupakan jaringan teroris Depok dan Solo. Mereka pernah merencanakan aksi teror. Thorik mengaku telah mempersiapkan dirinya sebagai eksekutor bom bunuh diri atau "pengantin". Bom bunuh diri tersebut direncanakan Thorik untuk diledakkan Senin (10/9/2012).

Aksi teror tersebut direncanakan pada empat lokasi, yaitu pertama, Markas Korps Brimob Polda Metro, Kwitang, Jakarta Pusat; kedua, Pos Polisi di Salemba, Jakarta Pusat; ketiga, Kantor Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, Mabes Polri, Jakarta Selatan; dan menyerang komunitas Masyarakat Buddha terkait adanya penindasan kaum Muslim Rohingya di Myanmar.


Penulis: Dian Maharani
Editor : Hindra