Sabtu, 26 Juli 2014

News / Nasional

Kasus Impor Daging Sapi

Fathanah Bersama Wanita Cantik dari Hotel ke Hotel

Rabu, 8 Mei 2013 | 15:21 WIB

Berita terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Tersangka kasus dugaan korupsi dan pencucian uang kuota impor daging sapi, Ahmad Fathanah, seperti tak pernah lepas dari wanita cantik. Sopir Fathanah yang bernama Sahruddin mengaku pernah mengantarkan majikannya itu bersama seorang wanita ke sebuah hotel. Pengakuan Sahruddin ini terungkap dalam sidang kasus dugaan korupsi kuota impor daging sapi dengan terdakwa Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (8/5/2013).

Salah satu pengacara Arya dan Juard membacakan keterangan Sahruddin dalam berita acara pemeriksaan (BAP) yang dibuat saat proses penyidikan di KPK pada 5 Februari 2013.

Dalam berita acara pemeriksaan itu, Sahruddin mengungkapkan pernah diminta menjemput Fathanah di Hotel Kaisar, Jakarta. Saat itu, menurut Sahruddin, ada seorang wanita berbaju biru yang ikut masuk ke mobil.

"AF (Ahmad Fathanah) meminta saya jemput di basement. Ada wanita baju biru yang ikut masuk ke mobil, di Hotel Kaisar," kata Sahruddin seperti dalam BAP yang dibacakan tim pengacara Juard dan Arya.

Kemudian, menurut keterangan Sahruddin, Fathanah meminta diantarkan ke sebuah hotel di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Tak lama setelah turun di hotel di Cikini, Fathanah menelepon Sahruddin. Dia meminta Sahruddin berbohong dengan mengatakan, "Kalau Ibu menelepon, bilang saya sedang di DPP PKS."

Lantas, Sahruddin menunggu majikannya itu keluar hotel. Setelah 40 menit menunggu, menurut Sahruddin, dia diminta kembali menjemput Fathanah dan gadis itu di lobi hotel. Sahruddin pun mengantarkan gadis itu ke Rawamangun, kemudian mengantarkan Fathanah kembali ke kediamannya di Depok.

"Gadis itu diantarkan ke Rawamangun, lalu AF (Ahmad Fathanah) diantarkan ke Depok," ujar pengacara Juard dan Arya, membacakan BAP Sahruddin.

Saat dikonfirmasi soal BAP-nya ini, Sahruddin yang menjadi saksi dalam persidangan hari ini membenarkan hal tersebut. Ketika ditanya pengacara apakah wanita itu cantik atau tidak, Sahruddin hanya tersenyum.

Ia juga mengungkapkan, majikannya memiliki rumah di kawasan Depok, yakni di Perumahan Pesona Khayangan dan Apartemen Margonda, Depok.

Dalam kasus dugaan korupsi kuota impor daging sapi, Fathanah diduga menerima pemberian hadiah atau janji terkait kepengurusan kuota impor daging sapi dari Juard dan Arya, Direktur PT Indoguna Utama. Ia juga dijerat dengan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Fathanah dikenal sebagai orang dekat mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq. KPK juga menetapkan Luthfi sebagai tersangka dalam kasus yang sama. Belakangan, Fathanah menjadi sorotan publik terkait gadis-gadis di sekitarnya. Fathanah diduga membelikan hadiah berupa barang-barang mahal untuk beberapa gadis yang dikenalnya. Salah satunya, model cantik Vitalia Shesya yang dibelikan Honda Jazz dan jam tangan mewah merek Chopard.

Ada juga gadis bernama Tri Kurnia Rahayu yang mengaku dibelikan Honda Freed, jam tangan Rolex, dan gelang mahal bermerek Hermes. Selain itu, KPK menemukan aliran uang Fathanah ke artis Ayu Azhari senilai Rp 50 juta dan 1.800 dollar AS. Menurut pengakuan Ayu, uang tersebut diberikan sebagai pembayaran uang muka karena Ayu bersedia manggung di acara-acara terkait PKS yang ditawarkan Fathanah.

Kasus Fathanah ini juga membawa-bawa nama Maharany Suciyono, seorang mahasiswi di perguruan tinggi di Jakarta yang berada di Hotel Le Meridien bersama Fathanah saat penyidik KPK menangkap orang dekat Luthfi tersebut.

Baca juga:
Perempuan-perempuan di Sekitar Fathanah
Vitalia Pernah Diajak Menikah Siri oleh Fathanah
Vitalia: Fathanah Malaikat bagi Saya
Vitalia Shesya Bisa Dijerat Pidana Pencucian Uang
Lagi, Fathanah Hadiahi Honda Freed untuk Wanita Lain

Selain Mobil dan Jam, Vitalia Diduga Terima Uang dari Fathanah

Model Vitalia Juga Terima Jam Tangan Mewah dari Fathanah

Fathanah Hadiahi Honda Jazz untuk Model Cantik


Ikuti berita terkait kasus ini dalam topik:
Skandal Suap Impor Daging Sapi
 


Penulis: Icha Rastika
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary