KPK Periksa Anak Luthfi Hasan - Kompas.com

KPK Periksa Anak Luthfi Hasan

Kompas.com - 17/04/2013, 15:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa seorang pria bernama Hudzaifah Luthfi terkait penyidikan kasus dugaan tindak pidana korupsi dan pencucian uang kepengurusan rekomendasi kuota impor daging sapi, Rabu (17/4/2014). Hudzaifah diketahui sebagai anak pertama mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq.

"Anak Ustaz LHI (Luthfi Hasan Ishaaq) yang pertama," kata salah satu pengacara Luthfi, Zainuddin Paru, melalui pesan singkat yang diterima wartawan.

Hudzaifah telah memenuhi panggilan pemeriksaan KPK. Dia akan dimintai keterangan sebagai saksi untuk tersangka Ahmad Fathanah, orang dekat Luthfi. "Diperiksa sebagai saksi bagi AF (Ahmad Fathanah)," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK Priharsa Nugraha.

Hudzaifah diperiksa karena dianggap tahu seputar dugaan tindak pidana korupsi dan pencucian uang (TPPU) yang menjerat Fathanah. KPK menetapkan Fathanah sebagai tersangka karena diduga menyembunyikan uang hasil tindak pidana korupsi dengan membeli sejumlah aset.

Penetapan Fathanah sebagai tersangka TPPU ini merupakan hasil pengembangan penyidikan kasus dugaan tindak pidana korupsi rekomendasi kuota impor daging sapi. Dalam kasus dugaan korupsi kuota impor daging sapi, Fathanah diduga bersama-sama Luthfi menerima pemberian hadiah atau janji dari dua direktur PT Indoguna Utama, Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi.

Dua direktur tersebut juga ditetapkan sebagai tersangka dan segera menjalani proses persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Melalui pengembangan kasus ini, KPK juga menetapkan Luthfi sebagai tersangka TPPU.

Untuk kasus TPPU Luthfi ini, KPK telah memeriksa istri Luthfi, Sutiana Astika. Lembaga antikorupsi itu juga memeriksa ibu rumah tangga bernama Lusi Tiarani Agustine, yang diduga sebagai istri muda Luthfi.

Berita terkait dapat dibaca pada topik:
Skandal Suap Impor Daging Sapi


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorLaksono Hari W
    Komentar

    Terkini Lainnya

    Elektabilitas Jokowi Turun, PDI-P Akui Sektor Ekonomi Belum Optimal

    Elektabilitas Jokowi Turun, PDI-P Akui Sektor Ekonomi Belum Optimal

    Nasional
    Dituding Penyebab Banjir, PGE Membantah dan Mengaku Juga Jadi Korban

    Dituding Penyebab Banjir, PGE Membantah dan Mengaku Juga Jadi Korban

    Regional
    Tak Terima Saudaranya Meninggal di RS, Keluarga di India Blokade Jalan

    Tak Terima Saudaranya Meninggal di RS, Keluarga di India Blokade Jalan

    Internasional
    Anies Baswedan Dilaporkan ke Polisi Terkait Penutupan Jalan Jatibaru

    Anies Baswedan Dilaporkan ke Polisi Terkait Penutupan Jalan Jatibaru

    Megapolitan
    Lagi-lagi, Saksi Bicara soal Pemberian untuk Adik Gamawan Fauzi Terkait Proyek E-KTP

    Lagi-lagi, Saksi Bicara soal Pemberian untuk Adik Gamawan Fauzi Terkait Proyek E-KTP

    Nasional
    Sembunyikan Sabu di Celana Dalam, Pengedar Sabu Akhirnya Ditangkap di Kediri

    Sembunyikan Sabu di Celana Dalam, Pengedar Sabu Akhirnya Ditangkap di Kediri

    Regional
    Perjuangan Petugas 6 Jam Padamkan Kebakaran di Matahari Kudus

    Perjuangan Petugas 6 Jam Padamkan Kebakaran di Matahari Kudus

    Regional
    Musnahkan Barang Tangkapan, Bea dan Cukai Kepri Bakar Ribuan Barang Elektronik dan Sembako

    Musnahkan Barang Tangkapan, Bea dan Cukai Kepri Bakar Ribuan Barang Elektronik dan Sembako

    Regional
    Enam Poin Penting yang Terungkap dari Rekaman Johannes Marliem soal E-KTP

    Enam Poin Penting yang Terungkap dari Rekaman Johannes Marliem soal E-KTP

    Nasional
    Petugas KPK Jaga Rumah Novel 24 Jam Selama Sepekan

    Petugas KPK Jaga Rumah Novel 24 Jam Selama Sepekan

    Megapolitan
    Kembangkan Sektor Hiburan, Arab Saudi Siapkan Dana Rp 875 Triliun

    Kembangkan Sektor Hiburan, Arab Saudi Siapkan Dana Rp 875 Triliun

    Internasional
    'Underpass' Kartini Rampung, Satu Lajur Mulai Dioperasikan

    "Underpass" Kartini Rampung, Satu Lajur Mulai Dioperasikan

    Megapolitan
    Argentina Sita Kokain Senilai Rp 683 Miliar dari Kedubes Rusia

    Argentina Sita Kokain Senilai Rp 683 Miliar dari Kedubes Rusia

    Internasional
    Dipecat via WhatsApp, Dua ABK di NTT Tidak Diberi Pesangon

    Dipecat via WhatsApp, Dua ABK di NTT Tidak Diberi Pesangon

    Regional
    Isu Penyerangan Pemuka Agama Jadi Liar, Adakah yang Menunggangi?

    Isu Penyerangan Pemuka Agama Jadi Liar, Adakah yang Menunggangi?

    Nasional

    Close Ads X