Minggu, 26 Oktober 2014

News / Nasional

Sutiyoso Minta Hakim Pertimbangkan Jiwa Korsa

Selasa, 16 April 2013 | 19:12 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com —  Mantan Wakil Komandan Pasukan Khusus Letjen TNI (purn) Sutiyoso mengungkapkan, jiwa korsa yang menjadi latar belakang 11 prajurit Kopassus menyerang dan membunuh 4 tahanan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, patut menjadi pertimbangan hakim Pengadilan Militer.

"Apa latar belakang dari peristiwa ini perlu juga dipertimbangkan oleh majelis hakim. Itu harapan saya," ujar Sutiyoso seusai mengikuti HUT Kopassus di Gedung Balai Komando Kopassus, Jakarta Timur, Selasa (16/4/2013).

Sutiyoso, yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta tersebut, mengatakan, mereka yang terlibat dalam insiden berdarah itu harus menjalani proses hukum seadil-adilnya, bukan seberat-beratnya. Atas dasar itulah alasan, mengapa mereka menerobos, menyerang, dan membunuh, harus dipertimbangkan hakim.

Di sisi lain, peristiwa tersebut seharusnya menjadi cermin aparat penegak hukum Indonesia yang selama ini dianggap terkesan mengabaikan aktivitas preman, untuk melakukan langkah hukum yang tepat.

"Kepercayaan masyarakat pada pelaksanaan penegakan hukum itu tinggi. Maka dari itu, mari kita berantas preman jangan main hakim sendiri di negara hukum ini," lanjut Sutiyoso.

Seperti diberitakan, TNI AD menyebut pelaku penyerangan Lapas Cebongan adalah oknum Grup II Komando Pasukan Khusus Kartasura, Jawa Tengah. Penyerbuan diduga melibatkan 11 anggota Kopassus, dengan satu orang sebagai eksekutor. Mereka membawa 6 pucuk senjata api yang dibawa dari markas latih Gunung Lawu.

Penyerangan itu disebut berlatar belakang jiwa korsa yang kuat terkait pembunuhan Serka Heru Santoso di Hugo's Cafe. Empat tersangka pembunuhan Santoso yang kemudian ditembak mati, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Namun, sejak hasil investigasi disampaikan kepada publik, TNI belum mengungkap identitas 11 prajurit tersebut. Kala itu, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul berdalih, pihaknya belum akan mengungkap identitas atas alasan masih dalam penyelidikan internal TNI.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Ana Shofiana Syatiri