Sabtu, 23 Agustus 2014

News /

CHINA

Wabah Flu Burung Meluas

Senin, 15 April 2013 | 02:43 WIB

Beijing, Minggu - Wabah virus flu burung H7N9 di China meluas setelah pada akhir pekan dilaporkan tiga kasus terjadi di luar tiga provinsi di China timur, lokasi merebaknya wabah ini.

Kantor berita Xinhua memberitakan, pada Minggu (14/4) dilaporkan adanya dua pria terinfeksi virus di Provinsi Henan, China tengah. Korban pertama adalah pria berusia 34 tahun asal Kaifeng dan kini berada dalam kondisi kritis. Korban kedua adalah petani berusia 65 tahun asal Zhoukou, yang disebutkan berada dalam kondisi stabil.

Dua kasus ini tidak berkaitan satu sama lain. Sebanyak 19 orang yang melakukan kontak dengan kedua korban ini berada dalam pengawasan petugas medis. Namun, sejauh ini tidak terlihat tanda-tanda mereka terinfeksi.

Sehari sebelumnya, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit China mengonfirmasi seorang anak berusia tujuh tahun terinfeksi virus H7N9 di Beijing, yang menjadi kasus pertama yang dilaporkan di luar China timur. Orangtua anak tersebut diketahui bekerja sebagai pedagang unggas.

Sebelum ini, semua kasus flu burung terjadi di Shanghai dan tiga provinsi lain di China timur, yakni Zhejiang, Jiangsu, dan Anhui, yang berjarak lebih dari 1.000 kilometer dari Beijing.

Kemarin, Pemerintah Provinsi Zhejiang lewat akun situs mikroblog Weibo mengumumkan empat kasus baru di wilayah itu. Surat kabar Zhejiang Daily memberitakan, keempat korban—petani berusia 64 tahun dan tiga pensiunan berusia 62, 75, dan 79 tahun—kondisinya cukup serius.

Secara total, tercatat 55 orang terinfeksi dan 11 di antaranya tewas sejak Pemerintah China mengumumkan infeksi virus H7N9 di tubuh manusia untuk pertama kalinya, dua pekan lalu.

Kepala kantor Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di China, Michael O’Leary, mengaku tak terkejut dengan meluasnya infeksi kasus flu burung ke ibu kota China. ”Ini bukan kasus bahwa orang yang dikonfirmasi terinfeksi virus berkumpul di wilayah kecil dan terpapar dari sumber yang sama. Kami sudah menduga kasus baru akan muncul dari daerah lain dan kami prediksi masih ada lagi kasus serupa,” ujar O’Leary.

Mutasi

Para ahli khawatir virus tersebut akan bermutasi dalam bentuk yang memungkinkan untuk berpindah antar-manusia dan memicu terjadinya pandemi. Namun, WHO mengatakan belum ada bukti virus H7N9 dapat menular antar-manusia.

Virus ini terdeteksi menginfeksi tubuh manusia sejak bulan lalu dan menyebar karena kontak manusia dengan unggas yang terinfeksi. ”Sejauh yang kami tahu, semua kasus terinfeksi secara individual, sporadis, dan tidak terkait satu sama lain,” ujar O’Leary.

Dugaan kuat bahwa virus ini menyebar dari unggas ke manusia membuat Pemerintah China membasmi unggas di sejumlah peternakan di beberapa kota.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengatakan, virus H7N9 memperlihatkan ”dampak serius” pada manusia, padahal hanya memberi ”dampak ringan, nyaris tak terdeteksi” pada unggas yang terjangkit. Hal ini menyulitkan otoritas kesehatan untuk mencari sumber penyebaran virus tersebut.

WHO dan Pemerintah Amerika Serikat memuji Pemerintah China atas transparansi serta cepatnya penyebaran informasi dan identifikasi virus ini. Pujian itu dimuat dalam artikel yang diterbitkan New England Journal of Medicine.

Hal ini berbeda dengan kecaman dunia pada China tahun 2003 karena dianggap menutup-nutupi wabah penyakit sindrom pernapasan akut parah (SARS) yang menyebabkan 800 orang tewas di seluruh dunia.(AP/AFP/REUTERS/was)


Editor :