Minggu, 26 Oktober 2014

News / Nasional

Anas Urbaningrum Tonton Wayang di Gedung PBNU

Minggu, 7 April 2013 | 23:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, mengunjungi Gedung Pengurus Besar Nadahtul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya, Salemba, Jakarta Pusat, Minggu (7/4/2013) malam. Anas menghadiri acara pementasan wayang kulit yang diselenggarakan di tempat tersebut.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, hingga dengan pukul 22.40 WIB, Anas yang mengenakan pakaian kemeja hitam dan celana panjang berwarna hitam tampak rileks menyaksikan pertunjukan wayang kulit tersebut. Pria asli Blitar itu tampak menikmati cerita wayang dibawakan oleh dalang Ki Enthus Susmono.

Anas yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan gratifikasi proyek sarana olahraga Hambalang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu sesekali melepas tawa menyaksikan jalan cerita wayang yang berkisah tentang tokoh wayang Bambang Wisanggeni.

Hadir dalam kesempatan itu, istri almarhum mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gusdur, Shinta Nuriah Wahid. Namun, Shinta pulang terlebih dahulu sebelum acara berakhir.

Anas memiliki ketertarikan pada tokoh pewayangan. Hal itu antara lain diperlihatkan ketika ia menyebutkan "Politik Para Sengkuni" dalam status Blackberry Messenger-nya beberapa waktu lalu.

Sengkuni adalah salah satu karakter terkenal dalam wayang dengan lakon Mahabarata. Dia adalah patih di Astina, sebuah negara yang diperintah oleh Kurawa. Karakter fisik Sengkuni digambarkan berbadan kurus dengan muka tirus dan cara bicara yang lemah tetapi menjengkelkan.

Sengkuni juga digambarkan memiliki watak yang licik, senang menipu, menghasut, memfitnah, dan munafik. Gambaran tentang Sengkuni adalah gambaran tentang orang yang ingin orang lain celaka.

Sebagai patih, dia dikenal "ngemong" bagi para Kurawa. Entah kepada siapa status BBM Anas tersebut ditujukan. Namun, seharian ini, gejolak internal di Partai Demokrat usai publikasi hasil survei Lembaga Survei Syaiful Mujadi Research and Consulting menunjukkan popularitas partai tersebut tinggal 8 persen.


Penulis: Robertus Belarminus
Editor : Laksono Hari W