Tjahjo: Tak Masuk Akal Kopassus yang Serang Lapas - Kompas.com

Tjahjo: Tak Masuk Akal Kopassus yang Serang Lapas

Palupi Annisa Auliani
Kompas.com - 30/03/2013, 09:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tudingan yang diarahkan kepada oknum anggota Korps Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD dalam penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, diragukan. Kopassus diragukan bergerak tanpa perintah Kepala Staf TNI AD (KSAD) atau Panglima TNI.

"Tidak mungkin sampai Komandan Kopassus di mana pun menggerakkan satuan-satuan kecil untuk hal-hal di luar perintah KSAD atau Panglima TNI," ujar anggota Komisi I DPR, Tjahjo Kumolo, melalui layanan pesan, Sabtu (30/3/2013). Dia pun berpendapat tidak masuk akal kalau ada satuan Kopassus menyerbu lapas, apalagi bila motifnya hanya balas dendam korps.

Kopassus, papar Tjahjo, adalah kesatuan khusus yang merupakan bagian pokok TNI, khususnya TNI AD. Pasukan ini punya kemampuan menggelar operasi khusus terhadap sasaran strategis terpilih, seperti teroris dan ancaman pertahanan negara. Adapun senjata yang digunakan adalah HK 416, HK MP7, HK 417, dan beberapa senjata buatan Pindad. 

Tjahjo berharap profesionalitas tim penyidik, baik Polri maupun tim investigasi yang kemudian dibentuk TNI AD, akan dapat menemukan pelaku yang sebenarnya dalam penyerangan lapas. "Intelijen juga harus mem-backup tim penyidik," imbuh dia.

Sebelumnya, dalam konferensi pers, KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo mengatakan TNI AD telah membentuk tim investigasi terkait penyerangan lapas tersebut. Pembentukan tim investigasi dilakukan menyusul adanya indikasi keterlibatan anggota TNI di kesatuan wilayah Jawa Tengah dalam aksi tersebut.

Pramono juga mengakui bahwa peluru 7,62 yang ditemukan di lapas masih digunakan oleh kesatuannya. Senapan yang memakai peluru itu juga masih digunakan.

Dalam industri senjata, angka-angka yang menunjukkan ukuran peluru merujuk pada diameter atau garis tengah peluru yang digunakan sebuah senjata atau diameter isi lorong laras. Senjata penggunanya dapat diketahui dari ukuran peluru.

Senjata komersial biasanya menggunakan penulisan dua desimal di belakang, dan menggunakan keterangan kaliber, dan biasanya ukuran dalam satuan inci. Penyebutan awam "kaliber empat lima" adalah penyebutan untuk peluru berukuran 0,45 inci, banyak dipakai di senjata komersial.

Sementara itu, standar militer biasanya menggunakan ukuran dalam milimeter. Seperti dalam kasus lapas ini, peluru yang ditemukan adalah 7,62 milimeter. Ada setidaknya dua jenis peluru dengan penyebutan 7,62 yang dikenal di dunia militer. Pertama, 7,62 x 39 mm, bisa disebut 7,62 Soviet, 7,62 Warsawa, 7,62 ComBloc, 0,30 Short Russian. Satu lagi adalah 7,62 x 51 mm, bisa disebut 7,62 NATO, 0,308 Winchester.

Berita terkait dapat dibaca dalam topik: Gerombolan Serang Lapas Cebongan

 

 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    PenulisPalupi Annisa Auliani
    EditorPalupi Annisa Auliani
    Komentar

    Terkini Lainnya

    Kemenkes: Sesuai Regulasi, RS Boleh Berorientasi Keuntungan, tetapi..

    Kemenkes: Sesuai Regulasi, RS Boleh Berorientasi Keuntungan, tetapi..

    Nasional
    Siswi SMP Tewas Ditabrak Mobil Turis Saat Jalan Kaki ke Sekolah

    Siswi SMP Tewas Ditabrak Mobil Turis Saat Jalan Kaki ke Sekolah

    Regional
    Lebih dari 10 Tahun Anggota Satpol PP DKI Belum Diangkat Jadi PNS

    Lebih dari 10 Tahun Anggota Satpol PP DKI Belum Diangkat Jadi PNS

    Megapolitan
    Gempa Susulan di Meksiko, Korban Tewas Naik Jadi 320 Orang

    Gempa Susulan di Meksiko, Korban Tewas Naik Jadi 320 Orang

    Internasional
    12 Tahun Bekerja, PTT Satpol PP dan Dishub DKI Jakarta Hanya Ingin Diangkat Jadi PNS

    12 Tahun Bekerja, PTT Satpol PP dan Dishub DKI Jakarta Hanya Ingin Diangkat Jadi PNS

    Megapolitan
    Warga Diingatkan Tak Main Hakim Sendiri Saat Ada Masalah di Rusun

    Warga Diingatkan Tak Main Hakim Sendiri Saat Ada Masalah di Rusun

    Megapolitan
    Berderai Air Mata, Sang Istri Terus Usap Kepala Pengemudi Grab yang Tewas Dibunuh

    Berderai Air Mata, Sang Istri Terus Usap Kepala Pengemudi Grab yang Tewas Dibunuh

    Regional
    Anggota Komisi I Minta Panglima TNI Hati-hati Bicara

    Anggota Komisi I Minta Panglima TNI Hati-hati Bicara

    Nasional
    Setelah Kebaktian Dibubarkan, Rusunawa Pulogebang Dijaga Polisi

    Setelah Kebaktian Dibubarkan, Rusunawa Pulogebang Dijaga Polisi

    Megapolitan
    Pemkot Bekasi Ingin Buat Jalur Angkot di Kawasan Stasiun Bekasi Timur

    Pemkot Bekasi Ingin Buat Jalur Angkot di Kawasan Stasiun Bekasi Timur

    Megapolitan
    Dua Nelayan Vietnam Tewas dan Lima Ditangkap di Perairan Filipina

    Dua Nelayan Vietnam Tewas dan Lima Ditangkap di Perairan Filipina

    Internasional
    Sidang Praperadilan Novanto, KPK Bawa 200 Dokumen termasuk BAP Saksi

    Sidang Praperadilan Novanto, KPK Bawa 200 Dokumen termasuk BAP Saksi

    Nasional
    Pansus Diminta Perbaiki Kepolisian dan Kejaksaan daripada Cari Kesalahan KPK

    Pansus Diminta Perbaiki Kepolisian dan Kejaksaan daripada Cari Kesalahan KPK

    Nasional
    Jelang Musim Hujan, Sudin Kehutanan Jakbar Data Pohon Rawan Tumbang

    Jelang Musim Hujan, Sudin Kehutanan Jakbar Data Pohon Rawan Tumbang

    Megapolitan
    Istri Pendiri Situs Nikahsirri: Suami Saya Gila Sejak Kalah Pilkada

    Istri Pendiri Situs Nikahsirri: Suami Saya Gila Sejak Kalah Pilkada

    Megapolitan

    Close Ads X
    Close [X]
    Radio Live Streaming
    Sonora FM • Motion FM • Smart FM