Jumat, 31 Oktober 2014

News / Nasional

Jika Penyerang Lapas adalah Preman atau Teroris, Apa Kepentingannya?

Minggu, 24 Maret 2013 | 11:32 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Jika penyerangan Lapas Kelas IIB Cebongan, Sleman, Yogyakarta, dilakukan oleh kelompok teroris atau preman, apa motivasinya? Mungkinkah, kelompok teroris atau preman memiliki kemampuan serang sedemikian taktis, menerobos penjara dan menghabisi korban hanya dalam waktu 15 menit? Siapakah kelompok di negeri ini yang memiliki senjata dan kemampuan serang sedemikian itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam perbincangan dengan Kompas.com melalui sambungan telepon, Minggu (24/3/2013).

"Ada yang mengatakan (penyerangan dilakukan) kelompok preman atau teroris. Jika mereka preman atau teroris, apa kepentingan mereka menyerbu lapas dan mengeksekusi tersangka pembunuh anggota Kopassus?" kata dia.

Menurutnya, penyerangan terhadap lapas merupakan sejarah buruk bagi Indonesia. Baru kali ini terjadi, sekelompok orang bersenjata api masuk dan mencabut nyawa orang. Indonesia saat ini, kata Neta, sedang dalam bahaya teror "pasukan siluman" bersenjata api. Jika "pasukan siluman" itu tak terungkap, bukan tidak mungkin suatu saat mereka akan menyerang kepentingan negara.

"Presiden harus segera memerintahkan Kapolri untuk mengungkap kasus penyerangan ke Lapas Sleman. Siapa pun yang terlibat dalam penyerangan itu harus segera ditangkap dan dibawa ke pengadilan," ujarnya.

Sebelumnya, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang lapas. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo's Cafe, Selasa lalu.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas untuk menunjukkan empat tahanan yang dicari.

Empat tahanan tersebut ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Mereka tercatat sebagai desertir anggota kesatuan Kepolisian Resor Kota Besar Yogyakarta. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu hanya berlangsung 15 menit.

Kasus itu masih dalam penyelidikan. Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso sudah membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga membantah.

 


Penulis: Robertus Belarminus
Editor : Heru Margianto