Selasa, 2 September 2014

News /

BISNIS MUSIMAN

"Teeeeeeet..." Terompet Impor Lebih Nyaring Bunyinya...

Sabtu, 29 Desember 2012 | 02:37 WIB

Terompet tradisional berbahan baku karton dan dilapisi kertas kerlap-kerlip pernah meraja dan suaranya banyak terdengar saat malam pergantian tahun. Namun, kini suara terompet-terompet karton itu semakin ”kalah nyaring” dibandingkan terompet plastik buatan China.

Dika (31), salah seorang dari 30-an pembuat terompet tradisional yang mangkal di Jalan Gajah Mada, Jakarta, sepanjang Jumat (28/12), lebih banyak duduk dan merangkai terompet ditemani ayah dan adiknya. Hingga sore, tak banyak pembeli. Hanya lima terompet terjual.

Di pinggir jalan itu, Dika memasang pikulan bambu yang digantungi terompet-terompet sejak pekan lalu. Di belakang pikulan-pikulan bambu itu ia menggelar tikar untuk alas mereka tidur. Mereka akan tinggal hingga malam Tahun Baru usai.

Ketika masa menjadi buruh tani berakhir seiring selesainya musim tanam, mereka datang ke tempat itu demi mengais rezeki di pengujung tahun. Warga Kampung Pulau Asem Jaya, Kecamatan Sukakarya, Bekasi, itu melakoni rutinitas tahunan ini sejak tahun 2000. ”Hingga tahun 2000 dan 2001, seingat saya, semua terompet terjual. Namun, kondisi berubah setelah itu. Yang beli terompet semakin sedikit,” ujar Dika.

Malam Tahun Baru lalu, Dika membuat 800-an terompet. Hingga malam pergantian tahun selesai, terompet yang tersisa masih 160 buah. Terompet itu terpaksa dibawa Dika pulang ke rumah. Tahun ini Dika membuat 850 terompet. Hasilnya, hampir dua pekan mangkal di Jalan Gajah Mada, terompet yang laku belum sampai 100 buah.

Kondisi serupa dialami Rojali (45), paman Dika, yang juga menggelar terompet buatannya di Jalan Gajah Mada. Rojali sudah menyiapkan 500 terompet. Namun, hingga saat ini hanya beberapa terompet yang laku terjual.

Rojali mulai berjualan di jalan itu sejak tahun 2000. Sehari-hari ia bekerja sebagai buruh serabutan. Sebagai buruh, penghasilannya hanya Rp 30.000 per hari. Itu pun kalau ada kerjaan. Jika tidak, dia hanya bisa manyun.

Melihat sepinya pembeli terompet, Rojali sudah bisa membayangkan, duit sebesar Rp 30.000 pun akan sulit diperoleh, bahkan dengan mangkal setiap hari di jalan tersebut.

Terompet China

Suasana itu berbalik 180 derajat dengan suasana di sekitar Pasar Asemka, tak jauh dari kawasan pertokoan Glodok. Jaraknya lebih kurang 1 kilometer dari tempat Dika dan Rojali berjualan. Suara terompet yang memekakkan telinga terdengar bersahut-sahutan seakan Tahun Baru sudah ada di situ.

Suara itu berasal dari terompet plastik. Suara nyaring terdengar ketika bagian tabung terompet itu ditekan. Terompet itu didatangkan dari China. Terompet-terompet itu ditata dalam kardus-kardus. Para penjual terus-menerus menekan tabung plastik seperti gerakan dokter menyuntik pasien.

”Ayo, ayo, terompetnya, terompet impor,” seru mereka.

Mitra, salah seorang penjual terompet plastik, sibuk melayani pembeli. Seorang pengendara sepeda motor mendatanginya. Ia kemudian membeli lima terompet. ”Berapa harganya?” kata si bapak.

Mitra menyebut angka rupiah, si bapak menyerahkan uang, dan motor pun dipacu. Semenit kemudian, Edo, pembeli lain, membeli 10 terompet plastik. Belum dua menit, pembeli lain, Budi, datang membeli dua terompet untuk anaknya.

Terompet-terompet itu harganya Rp 15.000-Rp 20.000, tergantung ukuran. ”Saya membawa ratusan terompet impor,” ujar pria berumur belasan tahun itu. Ini kali pertama Mitra mangkal di tempat itu.

Maraknya terompet impor buatan China sudah mulai dirasakan pedagang terompet tradisional sejak 3-4 tahun lalu. Namun, baru dua tahun belakangan serbuan terompet impor benar-benar membuat penjualan terompet lokal lunglai.

Melihat kedigdayaan terompet impor, Dika mengaku hatinya ciut. Apalagi terompet impor dijual nyaris berdampingan dengan terompet buatan perajin.

Dika bukannya tidak berusaha memikat hati pembeli agar mau membeli terompet tradisional itu. Ia berkreasi membuat aneka bentuk, seperti tabung hingga terompet berbentuk rumit seperti naga. Apa daya, pembeli tetap saja lebih tertarik dengan terompet impor yang tidak perlu ditiup tapi nyaring bunyinya. ”Mulut enggak capek. Tinggal tekan, suara terompet impor terdengar keras dan mantap,” ujar Edo, pembeli terompet impor.

Dua hari lagi suara terompet akan terdengar di mana-mana tengah hiruk pikuk pesta pergantian tahun. Terompet mana yang suaranya lebih dominan? Mungkin terompet impor jawabannya. Pasalnya, terompet impor lebih nyaring bunyinya dibandingkan terompet lokal.(Dahlia Irawati/Lukas Adi Prasetya)


Editor :