Jumat, 31 Oktober 2014

News / Nasional

Perdagangan Manusia Akibat Permainan Oknum Pemerintah

Sabtu, 1 Desember 2012 | 07:55 WIB

TANJUNG PINANG, KOMPAS.com -  Direktur Korban Tindak Kekerasan dan Perlindungan Korban Kementerian Sosial (KTK-PM Kemsos) Akifah Elansary mengatakan, perdagangan manusia khususnya wanita dan anak-anak (trafficking) asal Indonesia ke luar negeri sebagai pekerja seks akibat kesalahan oknum aparat Indonesia sendiri dan kemiskinan masyarakat di daerah pelosok.

Pasalnya, ada permainan oknum-oknum aparat di berbagai kementerian dan institusi pemerintah yang memang menjual dan mencari keuntungan materi semata.

Sementara, banyak warga miskin secara struktural yang benar-benar tidak mengetahui adanya program-program pemberdayaan sehingga mereka putus asa dan tidak berdaya sehingga akhirnya mau saja diperjual-belikan oleh oknum-oknum tersebut.

Hal itu diungkapkan Akifah dalam diskusi bersama wartawan Jakarta dan daerah di sebuah hotel di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, semalam. Diskusi diadakan menjelang peresmian Rumah Perlindungan Trauma Centre (RPTC) tentang KTK-PM, Sabtu (1/12/2012) ini oleh Menteri Sosial.

"Kalau saya ikut-ikutan gila, saya juga akan ikut menjual (orang) juga, tetapi saya masih memiliki naiwatu (hati nurani)," tandas Akifah, jengkel, seraya menyebut sejumlah oknum kementerian dan institusi yang terlibat dalam penjualan manusia itu sampai sekarang.

Menurut Akifah yang sudah bekerja 25 tahun di Kemsos itu, banyak perempuan Indonesia yang dijual dengan harga Rp 8 juta per orang kepada para tekong (calo tenaga kerja Indonesia) yang berkeliaran di Tanjung Pinang dan di daerah lainnya.

"Ada juga wanita Indonesia yang menikah dengan mantan tentara negara adidaya, yang kemudian dieksploitasi menjadi pelacur, sekarang menderita di Bali," katanya memberi contoh.

Dari data yang dikumpulkannya, Akifah menyebutkan, jumlah perempuan dan anak-anak yang menjadi korban trafficking tahun lalu mencapai 2.859 orang di antaranya sebanyak 68 orang dijual di Arab Saudi atau 2,20 persen dan di Singapura mencapai 29 orang atau 0,94 persen serta negara-negara lainnya seperti di Jepang dan lainnya termasuk di Malaysia. Sebab itu, perdagangan manusia harus dilawan karena semakin membuat warga miskin terpuruk dalam kehancuran.

"Permainan oknum-oknum aparat ini terjadi karena mereka semakin tidak takut dengan Tuhan. Mereka seperti akan mendapat pengampunan dari Tuhan meskipun memperjual-belikan bangsanya sendiri," lanjut Akifah.


Penulis: Suhartono
Editor : Robert Adhi Ksp