Kamis, 2 Oktober 2014

News /

PERTANIAN

Menjaga Predikat Lumbung Beras

Jumat, 23 November 2012 | 02:34 WIB

Indonesia pernah dikenal sebagai negara yang mampu merawat rakyatnya dengan baik lewat swasembada pangan. Bahan pangan pokok, beras, berlimpah dan oleh karena itu negara ini mendapat berbagai penghargaan. Masa itu belumlah lama, sekitar dua dekade lalu ketika sektor pertanian mendapatkan posisi yang begitu penting dalam pembangunan.

Kini, kondisinya berbeda. Indonesia kini lebih dikenal sebagai negara pengimpor pangan, termasuk beras. Situasi ini disebabkan banyak hal, mulai dari menyusutnya lahan pertanian, turunnya produktivitas, iklim yang tidak menentu, sampai serangan hama.

Meski demikian, di tengah problematika yang datang silih berganti, berbagai sentra penghasil beras tetap berupaya menjaga reputasinya sebagai lumbung beras nasional.

Kabupaten Madiun adalah contoh wilayah yang gigih mempertahankan reputasinya sebagai lumbung pangan. Ini terjadi karena komitmen kuat masyarakat petaninya dan dukungan penuh pemerintah daerah.

Sumarno (45) misalnya. Petani ini menghasilkan tak kurang dari 4 ton gabah kering panen (GKP) dari sawahnya yang berukuran tak lebih dari 0,5 hektar. Hasil panen ini tak bisa dipandang remeh untuk tanaman musim kemarau (MK) II.

Sumarno merupakan representasi sebagian petani di Kabupaten Madiun yang punya 750 kelompok tani dengan anggota 10-20 orang. Sebagian dari mereka berhasil menanam padi pada MK II. Dari 30.000 hektar lahan baku sawah, pada musim ini ada 13.000 hektar yang bisa ditanami padi. Sisanya palawija.

Dibanding tanam MK I lalu dan tanam musim hujan, tanam terakhir sangat minim. Namun, walaupun luas tanaman padi MK II jauh berkurang, akumulasi produksi gabah di Kabupaten Madiun tahun ini tinggi. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Madiun mencatat produksi gabah tahun 2012 mencapai 498.675 ton, naik dibanding produksi tahun lalu yang sebesar 491.543 ton. Kenaikan produksi salah satunya disebabkan naiknya produktivitas lahan pertanian.

Dampak kenaikan produksi itu, surplus pangan di Kabupaten Madiun meningkat. Pada tahun ini surplus tercatat 211.000 ton setara beras, naik 5 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Madiun Suharno mengatakan, hasil panen riil petani memang naik. Sawah produktif, seperti di Kecamatan Madiun, Balerejo, dan Wonoasri, mampu menghasilkan 8 ton gabah per hektar dari sebelumnya 6 ton hingga 7 ton.

Faktor pendorong kenaikan produksi, antara lain, meningkatnya pengetahuan petani, gencarnya penyuluhan, ditambah pendampingan dari penyuluh.

Faktor lain adalah dukungan sarana produksi pertanian yang semakin baik. Sebagai gambaran, panjang saluran irigasi di Kabupaten Madiun tahun 2011 mencapai 39.638 meter. Panjang saluran itu meningkat lebih dari 70 persen dibanding tahun 2008 yang hanya 22.470 meter.

Kearifan lokal

Sentra beras lainnya yang sukses mempertahankan predikatnya adalah Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Petani berhasil meningkatkan produktivitas lahan berkat penggunaan mesin perontok gabah. Ibrahim (45), petani di Pinrang, bercerita, produktivitas sawahnya naik 500 kg menjadi 7,7 ton per hektar setelah menggunakan mesin perontok.

”Dulu saat masih memanen padi dengan sabit, hasilnya kurang bersih,” ungkap Ibrahim.

Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pinrang Yohanis Sampebua, pihaknya membantu satu mesin perontok gabah senilai Rp 300 juta untuk setiap kecamatan.

Meningkatnya produktivitas panen juga terlihat dari pasokan gabah ke tempat penggilingan. Afdal (35), pemilik UD Mega di Desa Cempa, Pinrang, mengatakan, rata-rata pasokan gabah selama musim panen kali ini mencapai 60 ton per hari. Kapasitas produksi usahanya pun meningkat dari 2,5 ton menjadi 3 ton per jam.

Menurut Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan Kecamatan Cempa, Anas Tika, pemerintah perlu bermitra dengan pengusaha penggilingan padi agar hasil panen petani terserap optimal.

Selain sentuhan teknologi, petani di Sulsel umumnya masih memegang teguh kearifan lokal. Di Kabupaten Sidrap, misalnya, petani tetap mengedepankan musyawarah tudang sipulung setiap memasuki masa tanam. Tudang sipulung adalah sebuah tradisi turun-temurun pada masyarakat Bugis-Makassar yang dihadiri para tokoh masyarakat untuk menentukan pedoman menanam bagi petani.

Pinrang dan Sidrap pun menjadi sentra penghasil beras terbesar di Sulsel. Dengan luas tanam mencapai 200.000 hektar, kedua daerah itu berkontribusi 30 persen dari produksi padi 4.511.704 ton tahun lalu.

Gairah di Sulsel tidak lepas dari anugerah hujan sepanjang tahun. Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sulsel Lutfi Halide mengemukakan, kondisi iklim itu membuat petani bisa menanam padi dan palawija sepanjang tahun.

Berkah alam itu menunjang program surplus 2 juta ton beras tahun lalu. Berdasarkan data dinas pertanian, produksi padi Sulsel tahun 2011 mencapai 4,5 juta ton gabah kering giling. Hasil itu setara dengan 2,932 juta ton beras. Setelah dikurangi kebutuhan 8,2 juta penduduk Sulsel sebesar 895.074 ton setahun, surplusnya mencapai 2.037.537 ton.

Suprus beras juga disumbangkan Kabupaten Sukabumi, Jawa barat. Bulog Divre Jabar bahkan berinisiatif membangun gudang penyimpanan beras guna menampung produksi pertanian untuk menyimpan surplus hasil panen.

”Gudang didirikan di Kecamatan Surade sehingga hasil panen dari petani di wilayah selatan Sukabumi dapat terserap dengan cepat. Bulog membangun di Sukabumi karena produksi beras di sini melimpah sampai melebihi target produksi,” kata Asisten Daerah II Kabupaten Sukabumi Dana Budiman, Selasa (13/11).

Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sukabumi mematok target produksi padi 927.026 ton pada 2012. Realisasinya, hingga Oktober, panen mencapai 900.000 ton. Diperkirakan, hingga akhir 2012, surplus produksi mencapai 175.000 ton.(NIK/RIZ/HEI/JOY)


Editor :