Rabu, 22 Oktober 2014

News / Nasional

Cari Calon Alternatif 2014

Sabtu, 22 September 2012 | 06:36 WIB

JAKARTA,  KOMPAS.com - Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta dijadikan pelajaran bagi sejumlah partai politik untuk berbenah. Upaya yang dilakukan tidak hanya dengan menggerakkan mesin partai agar lebih efektif mendulang suara pada Pemilihan Umum 2014, tetapi juga dengan mencari calon alternatif untuk Pemilu 2014.

Kemenangan Joko Widodo- Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) atas Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) berdasarkan hitung cepat sejumlah lembaga survei menunjukkan dukungan partai tidak menjamin untuk memenangi pemilu.

Dalam Pilkada DKI Jakarta, Foke-Nara didukung Partai Demokrat, Golkar, Hanura, PAN, PKB, PBB, PMB, PKNU, PPP, dan PKS. Sementara Jokowi- Ahok hanya didukung PDI-P dan Partai Gerindra yang total kepemilikan kursi di DPRD DKI Jakarta tidak mayoritas.

”Berkaca dari proses Pilkada DKI Jakarta, PAN berkesimpulan, mesin parpol harus bergerak efektif dalam mendulang suara. Kalau tidak, simpatisan partai tak lagi terkonsolidasi dengan baik,” kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu PAN Viva Yoga Mauladi, di Jakarta, Jumat (21/9/2012).

Strategi lain yang dapat diadopsi untuk pemenangan pemilu, kata Viva, adalah membangun tim relawan yang terdiri dari para simpatisan serta kalangan masyarakat lainnya. Tim relawan diyakini menjadi salah satu perangkat untuk mendulang suara.

Hal lain yang tak kalah penting adalah pemilihan figur. Melihat keberhasilan Jokowi melawan petahana Fauzi Bowo, PAN meyakini pentingnya figur dalam pemilihan calon anggota legislatif ataupun figur calon presiden.

Lebih cermat

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PPP Suryadharma Ali pun mengakui bahwa kekalahan Foke-Nara adalah kekalahan kualitas figur kepemimpinan. Oleh karena itu, Pilkada DKI Jakarta menjadi evaluasi besar bagi PPP untuk melihat lebih jauh kondisi-kondisi serupa yang bisa terjadi pada Pemilu 2014.

”Jangankan masyarakat bawah terhadap kepala daerahnya, level pimpinan PPP saja ada juga yang tidak sama pandangannya dengan saya,” katanya.

Kekalahan dua kali dalam Pilkada DKI Jakarta juga jadi pelajaran berharga bagi Golkar. ”Ke depan, kami akan lebih cermat dalam memutuskan sikap, baik untuk menentukan koalisi maupun figur yang akan diusung,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Nurul Arifin.

Menurut politikus senior Partai Golkar, Zainal Bintang, hasil Pilkada DKI menunjukkan bulan madu politik pencitraan dan parpol yang hanya berorientasi pada kekuasaan sudah di ujung senja. Kini, menu utama politik Indonesia adalah figur yang dapat memahami dan diterima oleh perasaan rakyat.

”Jokowi dan Basuki bukan tokoh partai. Kemunculan mereka telah membuka peluang munculnya kader potensial dari parpol yang selama ini terhalang oleh struktur partai. Pasalnya, rakyat terbukti telah menolak perilaku dan pencitraan yang selama ini dilakukan elite kekuasaan atau partai,” kata Zainal.

Harus berani

Peneliti pada The Indonesian Institute, Hanta Yuda, mendorong parpol agar berani mendukung calon alternatif, termasuk mengevaluasi kembali calon presiden mereka pada 2014. ”Mereka (parpol) harus aktif mencari calon alternatif, antara lain lewat konvensi,” katanya.

Kemenangan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta adalah tantangan bagi parpol untuk mencari calon alternatif yang betul-betul bisa memikat pemilih di seluruh Indonesia. ”Branding Jokowi kuat. Di satu sisi, mesin partai pendukung lawan Jokowi tidak efektif. Situasi ini memberikan pelajaran berharga bagi partai dalam menghadapi Pilpres 2014,” katanya.

Sekretaris Jenderal DPP PPP M Romahurmuziy tidak sependapat dengan Hanta. Menurut dia, mesin parpol pendukung Foke-Nara bekerja efektif. Salah satu bukti, dibandingkan dengan putaran pertama, peningkatan suara Foke-Nara pada putaran kedua lebih tinggi daripada Jokowi-Ahok. Dalam hitung cepat Litbang Kompas, katanya, peningkatan suara Foke-Nara 13 persen, sedangkan Jokowi-Ahok 10 persen. Namun, hal itu tak cukup untuk mengimbangi figur Jokowi-Ahok.

Fokus figur

Keterpilihan Jokowi-Ahok yang lebih didasarkan pada figur mereka dibanding mesin parpol membuat PDI-P akan fokus pada strategi mengangkat figur yang membumi dan menggerakkan mesin partai secara solid pada Pemilu 2014.

”PDI-P harus bisa menemukan figur partai yang membumi. Kami memang partai terbuka, tetapi kami memprioritaskan kader internal partai yang punya potensi dan kapabilitas. Di sisi lain, mesin partai juga harus tetap berjalan. Dari situ kami berharap kerja-kerja politik partai dapat didukung masyarakat. (Pilkada) ini menjadi contoh untuk pemenangan pemilu ke depan,” kata Ketua Bidang Politik dan Hubungan Antarlembaga DPP PDI-P Puan Maharani.

Upaya menemukan figur partai yang kapabel dan membumi itu, menurut Puan, salah satunya dilakukan dengan mewajibkan tes psikologi bagi seluruh struktural partai dan calon legislatif PDI-P. Tes psikologi itu lebih untuk melihat potret kader, apakah cocok di legislatif, di eksekutif, atau di struktural partai.

”Kami juga harus melihat rekam jejaknya dalam penugasan partai pada masa mereka menjabat, apakah mereka juga punya komitmen yang kuat terhadap partai,” katanya.

Belajar dari pengalaman Pilkada DKI Jakarta, menurut Puan, PDI-P juga melihat peran media sosial sebagai wadah yang cukup efektif untuk menyosialisasikan program dan figur calon kepada masyarakat. Meski demikian, pemanfaatan jejaring media sosial itu harus tetap mengedepankan etika.

Partai Golkar pun, kata Nurul, akan mengambil strategi kampanye baru untuk pemenangan Pemilu 2014. Namun, hal yang tak kalah penting, lanjutnya, adalah kesungguhan dalam membangun serta menawarkan program untuk menarik suara rakyat. Kesungguhan semacam itulah yang dibutuhkan untuk menarik simpati rakyat.

Belajar dari Pilkada DKI Jakarta, Partai Nasdem akan betul- betul selektif dalam memilih kader. Sosok yang dinilai baik oleh partai belum tentu diterima masyarakat.

”Isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) tidak memengaruhi masyarakat Jakarta. Masyarakat Jakarta dan Indonesia secara umum sudah cerdas dan tidak bisa diintervensi. Kalau rakyat menghendaki perubahan, sudah tidak bisa dihalangi partai dengan berbagai cara, seperti kasus Pilkada DKI,” ujar Ketua Umum Partai Nasdem Rio Patrice Capella.

Rio percaya, Pilkada DKI Jakarta akan menjadi model bagi pilkada di daerah lain. Masyarakat tidak terpengaruh iming- iming bantuan dan biaya tinggi dari kampanye yang dikeluarkan seorang kandidat.

Rio mengatakan, partainya menyadari oligarki partai untuk mengeroyok calon yang berseberangan tidak menjadi variabel kemenangan dalam pemilihan langsung. Sosok individu yang jujur dan dipercaya lebih dipentingkan dan disukai rakyat.

Merujuk hasil hitung cepat Pilkada Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menelepon Jokowi untuk memberi selamat dan berpesan agar dapat menjalankan tugas dengan baik. Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, Presiden juga menelepon Foke untuk mengucapkan terima kasih telah memimpin Jakarta lima tahun terakhir. Presiden pun mengharapkan Foke mendukung Jokowi. (ato/nta/osa/nwo/why/ong/edn/har)

 


Editor : Heru Margianto
Sumber: