Rabu, 26 November 2014

News / Megapolitan

Petahana Mulai Kehilangan Rasa Kepercayaan Masyarakat

Kamis, 30 Agustus 2012 | 18:53 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengajar Kebijakan Publik Sekolah Tinggi Ekonomi Keuangan Perbankan Indonesia (STEKPI), Agung Nur Fajar, menilai bahwa sebagai calon gubernur, Fauzi Bowo selaku petahana lebih terbuka dalam memaparkan program-programnya dibandingkan Joko Widodo, pesaingnya dalam Pilkada DKI Jakarta. Meski demikian, Jokowi lebih mendapat sambutan lantaran Fauzi menghadapi problem kepercayaan masyarakat.

"Problemnya adalah incumbent (petahana) mulai kehilangan rasa kepercayaan masyarakat. Karena itu, apa pun yang dicanangkan tidak direspons positif," kata Fajar dalam diskusi Pilkada yang dilangsungkan di Kampus STEKPI, Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (30/8/2012) sore.

Ketidakpercayaan masyarakat bisa terjadi karena harapan masyarakat yang sebelumnya memilih Foke tidak tercapai. Imbasnya, sebagus apa pun program yang dicanangkan kubu Foke dan pasangannya, Nachrowi Ramli, hal itu akan mentah dengan sendirinya oleh rasa antipati masyarakat.

"Problem dalam kepemimpinan, kalau orang sudah kehilangan kepercayaan, orang jadi tidak bisa mempercayainya. Akhirnya orang mengharapkan sosok yang baru," sambung dosen STEKPI itu.

Jokowi, menurut Fajar, hadir di saat yang tepat, yakni di saat warga membutuhkan perubahan. Oleh karena itu, meskipun belum secara transparan mengupas programnya, Jokowi tetap lebih mudah meraih simpati warga. Tak heran bila hasil putaran pertama justru di luar prediksi banyak orang.

Foke-Nara yang sebelumnya menargetkan kemenangan dalam satu putaran hampir saja dipecundangi pasangan Jokowi-Ahok. Meski demikian, ia berharap pasangan Jokowi-Ahok lebih transparan dalam memaparkan programnya. Tujuannya agar masyarakat memilih pemimpin berdasarkan perbandingan program yang diberikan.

"Jadi, program-program tiap kandidat harus dipaparkan terbuka. Tidak bisa hanya menyatakan sudah punya blueprint untuk menangani Jakarta," kata Fajar dalam diskusi bertema "Pemilukada Mencari Kekuasaan atau Kedaulatan".

Sementara itu, Jokowi pada beberapa kesempatan sebenarnya sudah mengungkapkan alasan mengapa dirinya lebih berhati-hati dalam mengungkap programnya secara terbuka dalam putaran kedua. Pasalnya, sejumlah program yang disampaikan justru ditiru.

"Bikin program ini ditiru, bikin itu diikutin. Lebih baik saya simpan saja biar jangan ditiru," kata Jokowi saat jumpa pers di Markas Tim Pemenangan Jokowi-Ahok, pekan lalu.


Penulis: Imanuel More
Editor : Aloysius Gonsaga Angi Ebo