Jumat, 28 November 2014

News / Nasional

Sumber Daya Alam

Demam Emas di Tengah Taman Nasional

Kamis, 30 Agustus 2012 | 06:23 WIB
Oleh Amir Sodikin/Laksana Agung Saputra

Lubang-lubang galian menghunjam lereng terjal di hulu Sungai Tonom, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Deru mesin mengusir riuh satwa dan menghilangkan kesan sebuah taman nasional yang mestinya terjaga. 

Di hulu sungai itu terdapat sedikitnya 20 lubang galian emas. Tiga di antaranya masih digali, sisanya sudah ditinggalkan, tetapi dibiarkan terbuka. Diameter tiap lubang sekitar 1-1,5 meter dengan kedalaman mulai dari 50-200 meter.

Beberapa mesin penyedot tua bergelimpangan. Gubuk-gubuk reyot memancarkan suasana murung. Itulah gambaran lokasi penambangan emas di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW).

”Di sini beberapa tahun lalu pernah diperebutkan para petambang hingga ada yang mati,” kata Ronny, warga Desa Imandi, Kecamatan Dumoga Timur, Bolaang Mongondow, yang mengantar kami. Sehari-hari Ronny bekerja sebagai tukang ojek, tetapi sesekali dia turut menambang emas.

Dibutuhkan dua jam naik sepeda motor untuk mencapai lokasi penambangan emas ini. Tak hanya menerabas hutan, sepeda motor juga beberapa kali harus menerabas arus sungai.

Sungai Tonom itulah yang menjadi jalan raya bagi para petambang emas di hulu sungai. Setiap hari, jalur itu dilewati para petambang emas untuk memasok bahan bakar dan makanan. Sungai itu juga menjadi jalur pembuangan merkuri.

Keluar lubang

Awalnya tak terlihat tanda-tanda petambang. Namun, begitu Ronny berteriak dalam bahasa lokal, beberapa orang keluar dari lubang galian. Beberapa orang tampak riang menyapa Ronny yang berasal dari satu desa, tetapi memperhatikan kami dengan penuh selidik.

”Mereka saudara saya di kota. Mereka cuma mau lihat-lihat cara menambang emas,” kata Ronny memperkenalkan kami.

Ronny lalu menunjukkan cara menambang. Diambilnya sebongkah tanah lalu dicuci di dalam baskom kayu. Cairan merkuri (Hg) kemudian digelontorkan ke dalam baskom untuk mengikat emas. ”Menambang emas itu gampang. Hasilnya juga lumayan,” kata Jein Mawati (21), seorang petambang.

Jein lulus jurusan Otomotif Sekolah Menengah Kejuruan 23 Mobagu. Menjadi petambang emas sudah dilakoninya setahun terakhir. Penghasilannya per bulan sebesar Rp 2 juta-Rp 3 juta. Kalau sedang mujur, ia bisa mendapat Rp 4 juta per bulan.

Demam emas

Penambangan di hulu Sungai Tonom itu hanya salah satu dari ratusan lokasi tambang emas di Sulawesi Utara dan Gorontalo. Belakangan, emas juga ditemukan di sejumlah kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), seperti Bombana, Kolaka, Kolaka Utara, Konawe, dan Konawe Selatan. Sejak deposit emas ditemukan tahun 2008 di Sungai Tahi Ite dan Wububangka, Bombana, ribuan warga berebut menambang di Sultra.

Sulawesi memang pulau yang memiliki cebakan emas. ”Terutama di kawasan lengan utara Sulawesi yang berada di jalur busur vulkanik Pasifik,” kata Ulva Ria Irfan, dosen Fakultas Teknik Geologi, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Selain membawa bencana letusan gunung api, aktivitas vulkanik juga membawa berkah berupa potensi panas bumi dan munculnya cebakan emas. Interaksi magma dengan batuan dasar pada tekanan tertentu menyebabkan terbentuknya zona ubahan pada batuan induk lava dan tufa yang berperan sebagai batuan induk kaya mineral (host rock), termasuk emas.

Namun, emas adalah berkah sekaligus kutukan bagi geologi Sulawesi. Kilaunya ditebus dengan cucuran keringat, darah, dan juga hancurnya lingkungan.

Dampak negatif

Di Desa Toraut, Kecamatan Dumoga Timur, sekitar 40 kilometer dari hulu Sungai Tonom, demam emas telah memicu konflik berdarah. Sami Lela (40), seorang petambang, mengatakan, jumlah petambang di Toraut sekitar 7.000 orang. Ini belum termasuk 300 ojek sepeda motor dan 70 ojek mobil yang mengantarkan karung berisi hasil galian ke rumah tromol atau tempat pemisahan emas dari tanah atau batu.

Menurut ayah tiga anak itu, masa kejayaan Toraut terjadi tahun 1990-an. Saat itu, ribuan petambang dari beberapa daerah di Sulawesi Utara berduyun-duyun datang. Sebagian di antara mereka lalu menetap dan menjadi warga di desa terdekat.

Masifnya perburuan emas kala itu acap kali menimbulkan gesekan antarkelompok petambang. Tak sedikit di antaranya yang berujung perkelahian.

Puncaknya, menurut Sami, terjadi pada 2000-2003 ketika jatuh korban tewas. Konflik pun meluas menjadi konflik antarkampung, seperti antara Tambun-Imandi, Ibolian-Tonom, Pusian-Toruakat, dan Abak- Bombanom.

Hingga kini, luka konflik itu agaknya tak pernah benar-benar sembuh dan masih saja terjadi gesekan antarkampung meski penyebabnya bukan lagi emas. Latennya konflik ini ditandai dengan adanya pos polisi di setiap jalan perbatasan antardesa. Hampir setiap hari, satu-dua polisi berjaga di pos itu.

Tak hanya memicu konflik sosial, penambangan emas ini juga merusak lingkungan. Kepala Pos Tambun TNBNW, Max Lela mengatakan, petambang emas itu jelas merusak taman nasional. Namun, pihaknya tidak berdaya menghentikannya.

”Setidaknya, mereka telah mengganggu habitat burung maleo karena daerah jelajah maleo sampai di daerah itu,” kata Max Lela. Hingga kini, tak ada tindakan terhadap para petambang liar karena terbatasnya petugas taman nasional.

Selain menjadi habitat maleo, TNBNW juga menjadi habitat babi rusa dan anoa yang terancam punah.

Kerusakan hutan konservasi akibat aktivitas petambang emas juga terjadi di Suaka Margasatwa Nantu, Gorontalo. Kepala Resor KSDA Suaka Margasatwa Nantu Muchtar Maksum mengatakan, petambang emas terus merangsek di kawasan konservasi Nantu.

Dalam kurun waktu 2009-2011, pihaknya sudah menertibkan ratusan petambang liar di Nantu. Penambangan itu merusak bagian hulu Sungai Paguyaman yang membelah Nantu. Air sungai pun keruh dan tercemar logam berat merkuri. ”Namun, tetap saja petambang menjarah,” kata Muchtar.

Menurut dia, jika dulu ancaman terbesar hutan Nantu adalah perambahan dan penebangan hutan, saat ini ancamannya adalah petambang emas. ”Petambang emas semakin marak sejak dua tahun terakhir. Kalau emasnya sudah habis, mungkin mereka akan kembali menjarah kayu,” katanya.

(Aswin Rizal Harahap/Ahmad Arif)

Editor : Eko Hendrawan Sofyan
Sumber: