Rabu, 23 Juli 2014

News / Nasional

Denny Minta Maaf, Kaligis Tak Peduli

Selasa, 28 Agustus 2012 | 14:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Perseteruan antara advokat senior OC Kaligis dengan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana tampaknya masih akan berlangsung alot. Kaligis menyatakan dirinya tetap akan menempuh jalur hukum meski Denny sudah meminta maaf terkait kicuan "Advokat Korup" yang ditulisnya di Twitter.

"Jadi saya tempeleng dulu, Anda baru meminta maaf. Anda setuju diperlakukan seperti itu? Mohon maaf Pak Menteri, saya beda pendapat," ujar Kaligis seusai memenuhi panggilan penyidik di Mapolda Metro Jaya, Selasa (28/8/2012).

Menurut Kaligis, sikap Denny yang dinilai menghina profesi advokat tidak bisa dibiarkan. Ia tetap memilih jalur hukum untuk memperkarakan "kicauan" Denny di akun Twitter-nya yang menyindir advokat pembela terdakwa kasus korupsi itu.

"Ini negara hukum. Tidak ada advokat koruptor, yang ada dia bela orang yang disangka korupsi. Kalau inkracht saja, dalam KUHAP bisa ditinjau kembali. Saya tergerak. Saya tidak mau mentang-mentang dia Wamen (Wakil Menteri) fitnah kita (advokat) seenaknya," ujar Kaligis.

Advokat yang sempat menangani kasus mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, pengusaha Artalyta Suryani, dan Anggodo Widjojo ini mengatakan, kedatangannya ke Polda Metro adalah bukti niatnya untuk memproses kasus ini secara hukum.

"Loh kalau tidak (ingin terus), kenapa saya datang kemari, kan katanya hukum harus ditegakkan. Masa giliran Denny, hukum harus dikesampingkan," ujarnya lagi.

Diberitakan sebelumnya, "kicauan" Denny di situs jejaring sosial Twitter membuat gerah kalangan advokat. Denny menulis dalam tweet-nya, "Advokat koruptor adalah koruptor. Yaitu Advokat yang asal bela membabi buta, yang tanpa malu terima uang bayaran dari hasil korupsi".

Tweet itu dipandang sejumlah pihak sebagai penghinaan terhadap profesi advokat. OC Kaligis akhirnya melaporkan Denny ke Polda Metro Jaya pada Kamis (23/8/2012) pekan lalu. Denny dituding melanggar Pasal 310, 311, dan 315 KUHP juncto Pasal 22 dan 23 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Terkait hal ini, Denny kemudian menyampaikan permohonan maafnya kepada para advokat yang dianggap "bersih". Denny menyesali pernyataannya di Twitter. Menurutnya, pernyataan itu menimbulkan kesalahpahaman di kalangan advokat.

"Beberapa advokat bersih yang tidak membaca utuh Twitter dan penjelasan saya menduga bahwa saya mengkritik profesi advokat. Saya tegaskan lagi bahwa saya menghormati profesi advokat, dan sama sekali tidak ada niat menghina profesi yang sangat mulia tersebut," kata Denny melalui pesan singkat yang diterima wartawan, Senin (27/8/2012).

"Kepada seluruh profesi advokat dan advokat-advokat bersih, saya meminta maaf atas ketidaknyamanan dan kesalahpahaman tersebut," lanjut Denny.

 


Penulis: Sabrina Asril
Editor : Ana Shofiana Syatiri