Kamis, 23 Oktober 2014

News / Nasional

Ramadhan 2012

Indahnya Toleransi, Mulianya Saling Berbagi

Jumat, 10 Agustus 2012 | 16:09 WIB

Terkait

Oleh ADI SUCIPTO KISSWARA

KOMPAS.com - ”Trang tang”! Terdengar suara piring pecah di sela-sela acara buka puasa bersama di Klenteng Hok Swie Bio, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (27/7/2012). Warga sekitar, tukang becak, dan orang yang kebetulan dalam perjalanan pun berhenti ikut berbuka puasa bersama begitu terdengar beduk ditabuh dan suara azan maghrib berkumandang.

Ya, setiap Jumat selama bulan Ramadhan, buka bersama di klenteng itu selalu dinantikan. Apalagi, sebelum berbuka warga yang datang disuguhi hiburan atraksi barongsai dan mendengarkan ceramah agama dari tokoh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).

Ketua Bidang Peribadatan Tempat Ibadah Tri Dharma Hok Swie Bio Bojonegoro Kho Tjiang San mengatakan, acara buka bersama itu merupakan bentuk toleransi beragama dan menghormati umat Muslim yang berpuasa. Pada Jumat pekan pertama disiapkan sedikitnya 500 porsi soto daging untuk berbuka, lengkap. Selain itu, tersedia juga es buah, semangka, dan kerupuk.

Pada Jumat pekan kedua dan berikutnya disediakan menu berbeda dan jumlah porsinya ditingkatkan. Buka bersama di klenteng itu juga tidak perlu undangan. ”Kami menyediakan takjil dan makanan lengkap. Kami ingin berbagi bersama dan menghormati umat Islam yang menunaikan ibadah puasa,” tutur Kho Tjiang San.

Ketua PITI Wijianto menuturkan, buka bersama di klenteng itu merupakan bentuk kepedulian umat TITD Hok Swie Bio. Itu merupakan wujud kebersamaan dalam kemajemukan agama dan kita harus bersatu.

Islam juga mengajarkan toleransi dan mengenalkan ukhuwah, termasuk ukhuwah (kerukunan) sebagai sesama bangsa dan kerukunan antarumat manusia. ”Buka puasa bersama ini bisa semakin mempererat tali silaturahim antarumat berlainan agama dan sekaligus bisa memperkokoh keimanan masing-masing,” tuturnya.

Semangat berbagi

Menyediakan takjil berbuka memang umumnya digelar di masjid atau mushala, tetapi umat lain di Bojonegoro punya semangat untuk berbagi. Sebelum buka puasa di Klenteng Hok Swie Bio dimulai, masyarakat sudah berkumpul dan duduk di kursi di bawah tenda di halaman sisi barat klenteng sejak sekitar pukul 17.00. Mereka bisa menikmati hiburan barongsai.

Sementara ibu-ibu dari TITD sibuk meracik dan menata makanan di piring yang diatur berderet di atas meja di serambi Restoran Soponyono di kanan klenteng. Mereka menyediakan takjil buka puasa bagi warga sekitar dan orang yang dalam perjalanan. Begitu waktu berbuka tiba, warga pun mendekat ke meja untuk mengambil makanan yang disediakan.

Tradisi buka puasa bersama itu berlangsung sejak 15 Oktober 2004 dan menjadi agenda rutin setiap Ramadhan. Umat Islam yang berpuasa, terutama pengayuh becak, warga sekitar, dan mereka yang sedang dalam perjalanan pun, bisa singgah sesaat di klenteng untuk membatalkan puasa. Undangan itu bersifat terbuka dan umum, tidak perlu undangan khusus untuk berbuka puasa di klenteng itu.

Ketua Umum TITD Hok Swie Bio, Hari Widodo, menuturkan, intinya adalah melaksanakan sikap saling menghormati sesama, khususnya umat Islam yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

”Kami pengurus dan umat klenteng sangat peduli kemajemukan agama dan golongan di bumi pertiwi. Kita tetap satu bangsa Indonesia. Adanya buka puasa bersama setiap Jumat saat Ramadhan bisa mempererat tali silaturahim dan memperkokoh keimanan masing-masing,” katanya.

Juru kunci klenteng, Endang Yuliawati, menambahkan, penyediaan hidangan buka puasa bagi umat Islam dilakukan setiap Jumat selama Ramadhan. Pengurus Tri Dharma Hok Swie Bio sudah menyediakan anggaran khusus untuk makanan berbuka puasa. Pengurus dan jemaat klenteng merasa bahagia bisa berbagi makanan dengan warga Muslim. ”Siapa saja boleh datang. Kami senang bisa saling berbagi dan melayani,” ujarnya.

Tak perlu antre

Warga yang buka puasa sebagian besar terdiri dari tukang becak, pedagang keliling, warga sekitar kelenteng, dan banyak pula warga dari kampung lain yang lewat. Mereka bisa menikmati makanan yang disediakan.

Lasuri (56), pengayuh becak asal Soko, Kabupaten Tuban, menuturkan, dia sudah lima kali Ramadhan ini ikut buka puasa di klenteng itu. Setiap Jumat dia tidak perlu harus membeli makanan untuk buka puasa. ”Sebelum waktu berbuka saya menunggu bersama teman-teman pengayuh becak lainnya. Lumayan tidak perlu antre di warung. Mau pulang juga jauh,” ujarnya.

Warga Banjarjo, Bojonegoro, Sumaji (33), juga hampir setiap tahun ikut buka puasa di klenteng. Bahkan, tahun ini dia ikut buka puasa di klenteng bersama anak dan istrinya. Sumaji menuturkan, awalnya dia ikut-ikutan warga lain.

Menurut dia, ternyata menyenangkan juga bisa berbaur dengan warga lainnya. ”Kami salut umat lain saja bisa menghormati orang Islam yang menjalankan ibadah puasa, bahkan menyediakan makanan untuk berbuka,” tuturnya.

Alangkah indahnya jika semua umat dan suku bangsa yang berbeda di negeri ini bisa saling menghormati, bahkan saling berbagi seperti ditunjukkan umat TITD Hok Swie Bio di Bojonegoro. Mereka menggelar buka puasa bersama ini didasari niatan tulus ingin ikut berbagi bersama dan saling menghormati umat Islam yang sedang menunaikan ibadah puasa.

Bahkan, sebelum Ramadhan, di depan kelenteng di pasang spanduk yang berisi ucapan selamat kepada umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa.

”Ini bentuk kepedulian kami. Sesungguhnya dengan kemajemukan agama yang ada, pada dasarnya kita tetap satu bangsa,” ujar Hari Widodo.

Berawal dari buka puasa bersama itu diharapkan bisa semakin mempererat tali silaturahim antarumat beragama dan sekaligus bisa memperkokoh keimanan masing-masing. Wujud toleransi itu layak bisa menjadi teladan indahnya kebersamaan, menjadi contoh indahnya kerukunan, dan menjadi spirit betapa mulianya menghargai perbedaan lintas keyakinan.

Semoga itu menjadi tali perekat yang mampu menambah kerukunan antarumat beragama serta mampu meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi pertiwi ini.

 


Editor : Hindra
Sumber: