Jumat, 25 April 2014

News / Nasional

Pejuang Hak PSK Dianugerahi S.K Trimurti Award 2012

Rabu, 8 Agustus 2012 | 07:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Esti Susanthi Hudiono, pejuang hak-hak seksual dan reproduksi pekerja seks dan Direktur Eksekutif Yayasan Hotline Surabaya menerima penghargaan S.K. Trimurti Award 2012. Esti dinilai gigih dan konsisten memperjuangkan kesetaraan gender selama 23 tahun.

"Esti Susanthi terpilih dari 12 nominator yang diusulkan dari seluruh Indonesia sebelum juri memutuskan Esthi sebagai peraih SK Trimurti Award 2012," ujar Koordinator Divisi Perempuan AJI Indonesia, Rach Alida Bahaweres dalam peringatan HUT Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) di Galeri Nasional, Selasa (7/8/2012) malam.

Dewan Juri yang memilih Esti menyabet penghargaan S.K Trimurti, Andy Yentriyani dari Komnas Perempuan mengungkapkan, Esthi Susanthi dan para calon penerima penghargaan SK Trimurti adalah sosok-sosok perempuan pembela HAM. Para calon termasuk Esthi menjadi inspirator dan motivator bagi masyarakat luas, yang tak gentar dalam menghadapi berbagai tantangan dalam isu yang mereka geluti.

Menurutnya, Esthi memilih untuk terjun dalam isu pekerja seks dan hak seksual dan reproduksi dari 23 tahun yang lalu saat wacana dari isu itu masih asing di telinga masyakat. "Pilihan perjuangannya menempatkan Esthi terus berhadapan dengan tantangan dari masyarakat dan stigma. Pekerja seks dipandang sebagai sampah, penyakit masyarakat, maupun perwujudan dari imoralitas," ungkap Andy.

Menurut Andy, di sisi lain, program-program kesehatan HIV/AIDS maupun PMS kerap menempatkan pekerja seks sebagai objek yang cara intervensinya lebih pada pendekatan kesehatan daripada hak asasi manusia. Akibatnya, tak memungkin pekerja seks tumbuh berdaya sebagai pribadi yang merdeka dan utuh dalam menikmati haknya sebagai manusia.

Juri lainnya, Nur Imam Subono dari Staf Pengajar Kajian Gender Universitas Indonesia mengungkapkan moralitas yang diusung-usung para elit politik sebagai cara untuk mendatangkan suara dalam pemilu/pemilukada, diformalkan lewat kebijakan-kebijakan diskriminatif atas nama agama dan moralitas. Pekerja seks kerap menjadi pihak yang dipertaruhkan. Padahal, kemiskinan yang terus menjangkiti rakyat Indonesia menimbulkan relasi timpang antara peran gender laki-laki dan perempuan.

Menurutnya perjuangan Esthi menunjukkan dirinya sebagai pembela HAM yang konsisten. Konsistensi ini adalah sebuah nilai tersendiri. "Menyimak perkembangan politik identitas yang berkembang di Indonesia perjuangan Esthi akan menjadi semakin berat," ungkap Nur Iman Subono.

Sementara itu, juri Bina Bektiati dari Redaktur Pelaksana Majalah Tempo dan Pendiri AJI mengemukakan urgensi dan derajat ancaman, konsistensi dan integritas menjadi pertimbangan utama sehingga dewan juri turut melakukan klarisifikasi di lapangan terhadap profil dan kinerja kandidat. Yayasan Hotline yang berada di Surabaya, lanjutnya, menangani eksplotasi seksual anak atau trafficking yang berpotensi menjadi titik munculnya HIV/AIDS.

Agar program menyebar luas, Hotline memiliki 20 technical assistants yang tersebar di Jombang, Probolinggo, dan Gresik. "Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk dukungan kami terhadap permasalahan atau bidang yang dia geluti," tandas Bina Bektiati.

Eko Maryadi, Ketua Umum AJI Indonesia mengatakan kiprah Esthi Susanthi Hudiono sesuai dengan semangat SK Trimurti Award. SK Trimurti Award merupakan penghargaan yang diberikan kepada jurnalis perempuan dan aktivis perempuan yang berjuang untuk hak publik atas informasi, kebebasan pers, kesetaraan gender dan kebebasan berekspresi.

"Esthi mampu untuk memberikan informasi terkait pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS, trafficking dan eksploitasi seksual pada anak, hak dan kesehatan reproduksi perempuan," ungkap Eko.

Eko mengharapkan, penghargaan ini dapat memberikan inspirasi bagi jurnalis dan aktivis perempuan untuk terus berjuang dan berkarya demi pemenuhan kepentingan publik. "Juga mendorong publik untuk terlibat dalam kampanye kesetaraan gender, penguatan kebebasan sebagai syarat demokrasi yang efektif," tegasnya.

Sekadar catatan, berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, dari Januari hingga Maret 2012, jumlah kasus baru HIV yang dilaporkan sebanyak 5.991 kasus. Persentase kasus HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok 25-49 tahun (75,4 persen), diikuti kelompok umur 20-24 tahun (15,05 persen) dan kelompok umur lebih dari 50 tahun (4,8 persen).


Penulis: Aditya Revianur
Editor : Glori K. Wadrianto