Jumat, 25 April 2014

News / Nasional

Melihat Ibas, Para Ibu dan Santriwati Pun Riuh

Selasa, 7 Agustus 2012 | 13:05 WIB

TASIKMALAYA, KOMPAS.com- Rombongan Safari Ramadhan Partai Demokrat mendapat sambutan meriah dari pimpinan dan santri dan santriwati Pondok Pesantren Darussalam Tasikmalaya, Jawa Barat.

Para santri bahkan sampai berebut untuk bisa bersalaman dengan Sekjen DPP Partai Demokrat Edhi Baskoro Yudhoyono atau lebih dikenal dengan nama Ibas yang juga putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Rombongan tiba di Pondok Pesantren Darussalam sekitar pukul 10.00, Selasa (7/8/2012). Para Ustad pemimpin pondok dan pengajar, santri dan santriwati bersuka cita karena tamu istimewa yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.

Pemimpin pesantren Ustad Deni Rustandi yang masih muda, menyambut rombongan dengan bersemangat penuh kehangatan. Sebab ini merupakan rombongan tamu istimewa yang berisi tokoh-tokoh partai Demokrat dari Jakarta, dan juga Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf yang kini sudah pindah ke Partai Demokrat.

Dari semua tamu besar dari Jakarta itu, yang paling ingin dilihat para santri dan masyarakat sekitar tentu saja Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Sekjen Demokrat Edhi Baskoro Yudhoyono atau lebih dikenal dengan nama Ibas.

Namun, dibandingkan Anas, masyarakat lebih penasaran ingin melihat Ibas, putra bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Melihat hal itu, Anas Urbaningrum saat memberikan sambutan tak lupa memperkenalkan dan meminta Ibas berdiri agar bisa dilihat khalayak. Hadirin, terutama ibu-ibu dan santriwati, pun bersorak riuh ketika Ibas memberi salam perkenalan.

"Ibas baru tahun lalu menjadi pengantin. Kalau belum menikah, saya akan merekomendasikan Ibas untuk meminang santriwati pesantren Darussalam," kelakar Anas yang langsung menciptakan keriuhan hadirin.

Anas belum selesai sampai di sini, "Boleh saja sih nambah (istri), tapi Ibas belum berani." Kali ini Ibas yang tersipu.

Saat penyerahan cinderamata di akhir acara, pembawa acara tak ketinggalan meminta Ibas untuk berdiri di atas panggung. "Ibu-ibu dan santriwati ingin melihat Mas Ibas lebih jelas, jadi mohon berkenan naik ke atas panggung," kata pembawa acara.

Begitu Ibas di atas panggung, pembawa acara pun berseru, "Inilah Mas Ibas, putera presiden kita..!"

Begitulah, masyarakat pelosok desa memang mendambakan secara nyata kehadiran tokoh dan pemimpin, yang selama ini hanya bisa mereka lihat di layar kaca. Dengan penuh ketulusan, mereka akan menyambut para pemimpinnya, laksana pahlawan.

Namun, seringkali pemimpin malah lupa mengunjungi rakyatnya.


Penulis: M Fajar Marta
Editor : Marcus Suprihadi